IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
END


Kalila harap-harap cemas ketika mengantre di depan ruang dokter bersama para wanita yang lainnya yang sedang hamil ditemani oleh pasangannya masing-masing.


Tangan Kalila dan Abraham saling terus menggenggam sambil memperhatikan semua orang yang berlalu lalang dihadapannya.


Ketika tiba gilirannya Kalila disuruh masuk oleh asisten Dokter. Kalila sudah sangat bersemangat sambil menguatkan hatinya, jika hasilnya nanti ternyata menipunya.


"Silahkan rebahan dulu Bu di sana. Biar saya siapkan layar monitornya dulu."


Kalila langsung menuruti ucapan sang dokter kandungan yang masih muda itu dan terlihat sangat ramah sekali.


"Mari kita periksa ya Bu."


Kalila hanya mengangguk saja. Dirinya terus memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh sang dokter di perutnya. Begitupula dengan Abraham yang memandang serius ke layar monitor yang ada dihadapannya.


"Ini ya Bu, Pak. Calon buah hati kalian. Lihatlah! Ada titik kecil ini yang nantinya akan menjadi anak kalian."


Mata Kalila dan Abraham berkaca-kaca melihat layar monitor tersebut.


"Sa-saya beneran hamil Dok?"


Sang dokter mengangguk. "Iya Ibu. Anda saat ini sedang hamil. Sebentar, akan saya cek dulu berapa usianya."


Sang dokter mencoba mengukur dan mengira-ngira. Usia berapakah saat ini kandungannya Kalila.


Setelah bisa dipastikan, dan sudah selesai pemeriksaannya. Kalila dan Abraham disuruh duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang dokter.


"Dari hasil pemeriksaan. Usia kandungan Ibu sudah memasuki delapan minggu. Atau sekitar dua bulan."


Kalila menggenggam erat tangan Abraham sambil tersenyum sangat manis sekali.


"Saya sarankan, Ibu nanti jangan terlalu stres, kecapekan atau makan-makanan yang membuat kandungan Ibu terganggu ya."


Kalila dan Abraham yang tidak mau terjadi apa-apa dengan calon buah hati yang sudah mereka tunggu selama satu tahun lamanya. Mereka berdua lalu bertanya pertanyaan umum yang biasa para ibu hamil tanyakan. Dari pantangan makanan, minuman, hubungan suami istri, apa saja.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter. Dan juga sudah mendapatkan obat, suplemen serta vitamin untuk menunjang kehamilannya Kalila. Kalila dan Abraham lalu memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah Kalila dan Abraham. Walau bibir sedang tersenyum, tapi mata Kalila mengeluarkan air mata. Itu adalah air mata kebahagiaan.


"Kakak mau memberitahukan kabar gembira ini kepada Ayah sama Mama."


Kalila cuma mengangguk saja. Abraham tentu saja langsung memberitahukan kabar kehamilan Kalila kepada ke dua orang tuanya. Sedangkan Kalila mencoba memberitahukan kepada ke dua orang tuanya sendiri.


Para orang tua merasa sangat senang sekali mendengar kabar kehamilannya Cyra. Sebab mereka semua juga sudah mengharapkan keturunan dari Kalila dan Abraham.


Sekarang Kalila tidak perlu risau atau minder lagi. Karena sebentar lagi Allah akan mengabulkan sang malaikat kecil hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya.


Selesai menghubungi ke dua orang tuanya. Kalila mencoba menghubungi Cyra. Entah kenapa Kalila ingin memberitahukan perihal kehamilannya kepada Cyra terlebih dahulu.


Cyra yang sedang bersantai bersama Akmal dan ke dua buah hatinya. Tiba-tiba mendengar ponselnya berdering.


"Abu! Tolong ambilkan ponsel Umi dong itu di situ. Umi sedang meenyusui Achnaf."


Akmal yang mendengar Cyra meminta tolong kepadanya. Dia langsung sigap mengambilkan ponsel Cyra yang ada di atas meja.


"Dari Kalila, Sayang," ucap Akmal.


Cyra menerima ponselnya dari tangan Akmal. "Terimakasih Abu."


Akmal hanya mengangguk saja. Dia langsung melanjutkan lagi bermainnya bersama baby Zahwa. Sedangkan Cyra langsung mengangkat sambungan teleponnya Kalila.


"Halo Kalila. Assalamu'alaikum."


"Cyra! Wa'alaikumussalam."


Suara Kalila terdengar sangat bahagia sekali. Hal itu membuat Cyra menjadi sangat penasaran.


"Sepertinya kamu sedang bahagia Kalila? Jika boleh tahu. Apa itu?"


"Cyra! Apa yang kamu katakan itu benar. Jika sudah saatnya Allah berkehendak, pastilah terjadi. Aku hamil Cyra. Aku Hamil! Usia kandunganku sudah dua bulan."


Kalila mengangguk semangat diseberang sana. "Iya Cyra. Doakan aku ya! Semoga kehamilanku berjalan dengan lancar sampai aku melahirkan nanti."


"Aamiin. Pasti aku akan mendoakan yang terbaik untukmu Kalila. Sekali lagi selamat ya. Jaga dengan baik dan jangan kecapekan atau stres ya!"


"Siap Cyra. Terimakasih doanya. Aku tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Iya. Wa'alaikumussalam." Setelah itu sambungan teleponnya terputus.


Akmal yang tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Cyra dan Kalila, dia langsung bertanya kepada Cyra.


"Kalila sudah hamil ya Sayang?"


Cyra mengangguk. "Iya Abu. Umi senang mendengarnya."


"Alhamdulillah. Abu juga senang mendengarnya. Semoga kehamilannya berjalan lancar sampai Kalila melahirkan."


Ucapan Akmal tentu saja langsung diaamiinkan oleh Cyra.


Akmal sendiri juga merasa senang. Dirinya masih tidak menyangka sampai sekarang. Jika dia bisa mempunyai anak sendiri dengan Cyra.


Achnaf. Anak yang tidak Akmal sangka. Jika Allah akan memberikannya seorang anak laki-laki.


Wajahnya yang lucu, langsung memikat hati Akmal dan siapa saja yang melihatnya. Baby Zahwa sendiri juga langsung menyayangi sang adik laki-lakinya itu.


Walau begitu. Akmal berusaha adil kepada mereka berdua. Karena bagi Akmal. Baby Zahwa juga anak kandungnya sendiri.


...___*___...


Beberapa bulan telah berlalu. Kehamilan yang selama ini cuma berada diangan-angan saja sekarang bisa dirasakan. Bahkan sekarang cuma menghitung hari saja. Kalila akan segera melahirkan anak pertamanya.


Abraham yang tidak mau kehilangan momen bahagianya dari Kalila hamil sampai sekarang mau melahirkan. Dia senantiasa menemani, membantu, dan selalu mengabulkan apapun keinginan Kalila.


"Kakak! Perut Kalila ko terasa sakit sekali ya!"


Mendengar ucapan Kalila. Abraham langsung berpikir, kalau Kalila mungkin sebentar lagi akan segera melahirkan.


"Apa kamu mau melahirkan sayang?"


Kalila menggelengkan kepalanya. "Entahlah! Tapi ini rasanya sangat sakit sekali."


Abraham yang tidak mau terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya. Dia langsung segera membawa Kalila ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit. Abraham segera meminta pertolongan dokter yang berjaga di UGD.


Setelah dicek. Ternyata Kalila memang sudah waktunya melahirkan. Menunggu dengan harap-harap cemas. Terlebih lagi tiba-tiba Abraham dipanggil untuk menemani sang istri. Membuat adrenalinnya menjadi tertantang dan terpacu sangat cepat sekali.


Melihat sendiri bagaimana susahnya Kalila mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hati pertamanya. Membuat air mata Abraham sama seperti para ayah baru yang lainnya. Langsung mengalir sangat deras sekali, ketika melihat anaknya sudah lahir dengan selamat dan berlumuran darah.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Kalila seperti terbayar tunai dengan suara tangisan buah hatinya yang berjenis kelamin perempuan.


"Perempuan Tuan, Nyonya anaknya. Selamat."


Mau laki-laki atau perempuan. Yang penting itu tetap anaknya. Dan Abraham bangga memilikinya.


Selesai mendapatkan penanganan. Dan sang baby girl sudah diadzani juga oleh Abraham. Saat ini sang baby dan Kalila sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


Abraham memberi nama anak perempuannya dengan Nadheera Mazaya Alfathunnisa. Yang berarti anak perempuan yang berharga, baik dan lembut. Nama panggilannya adalah Nadheera atau Dheera.


Kelahiran baby Nadheera disambut bahagia oleh semua orang yang mengenal Abraham dan Kalila. Semua sahabat juga ikut merasa senang dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Abraham dan Kalila.


Semua sudah pada senang dan bahagia dengan pasangan serta keluarga mereka masing-masing.


Selagi kita sabar dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan kepada kita. Insyaallah, Allah akan memberikan kemudahan dan kebahagiaan yang nyata untuk kita semua.


Wallahu a'lam bish-shawabi.


...END....