IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BABY ZAHWA


Saat ini semua orang sedang memandang ke arah Cyra semua, sebab mereka sudah tidak sabar mengetahui siapa nama si baby yang baru saja lahir itu.


Di saat semua orang sedang menatap ke arahnya, Cyra tiba-tiba malah melamun, karena teringat dengan ucapan dari Mirza, yang mengatakan sebuah nama untuk anak mereka nantinya.


Pada waktu itu, Cyra dan Mirza sedang duduk bersantai berdua di atas balkon kamar mereka.


Mirza pada saat itu belum di diagnosis menderita kanker otak, jadi dia masih terlihat segar, bugar dan juga sehat.


Kehamilan Cyra juga ketika itu masih sekitar enam bulan, jalan ke tujuh bulan, dan baik Cyra maupun Mirza sudah mengetahui apa jenis keelaamin anak mereka nantinya, sebab mereka kemarin baru saja melakukan kontrol rutin seperti biasanya.


" Abi, kemarin Dokter mengatakan, jika anak kita berjenis keelaamin perempuan, apakah Abi tidak masalah dengan jenis keelaaminnya?? ," tanya Cyra.


" Abi tidak pernah mempermasalahkan apa jenis keelaamin anak kita sayang ," jawab Mirza.


" Apakah Umi tahu, jika orang tua yang mendapatkan anak perempuan, itu ada keutamaannya sendiri?? ," kata Mirza dan Cyra langsung menggelengkan kepalanya.


" Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga”. (HR Abu Daud)." jelas Mirza.


" Oh, apa itu salah satunya Abi Rasyid menyuruh Umi untuk memakai niqab ini ya Abi?? ," tanya Cyra.


" Iya, dan di dalam empat mazhab yang dianut oleh orang muslim, mereka semua bersilang pendapat tentang penggunaan niqab atau cadar itu sendiri sayang ," jawab Mirza.


" Ada yang mengatakan mubah, sunnah, makruh, ada juga yang mengatakan wajib. Dan Abi sependapat dengan Abi Rasyid, jika Umi wajib menggunakan niqab, untuk menutupi kecantikanmu ," jelas Mirza.


" Karena kecantikan seorang wanita itu bisa merusak dan menghancurkan dunia, jadi alangkah baiknya, jika kecantikan itu cuma ditunjukkan kepada sang suami saja ," kata Mirza. Dan Cyra langsung mengangguk mengerti ucapan dari sang suami.


" Lalu, apakah Abi nanti akan menyuruh anak kita untuk berniqab juga?? ," tanya Cyra lagi.


" Iya, jika dia sudah akil baliq ," jawab Mirza.


" Terus, Abi sendiri mau memberinya nama siapa untuk anak kita sayang?? ," tanya Cyra.


" Nanti kamu akan tahu sendiri, jika sudah waktunya tiba ," jawab Mirza sambil mencubit manja hidung Cyra yang tertutup niqab.


" Cyra,?? hei Cyra, kenapa kamu malah melamun?? ," panggil Akmal kepada Cyra.


" Eh, iya Kak ," jawab Cyra. Dan dia akhirnya sadar dari masa mengenang kebersamaannya dengan sang suami.


" Kamu sudah ditungguin semua orang, siapa nama si baby?? ," ucap Akmal.


" Iya Nak, siapa nama untuk cucu Ayah yang cantik ini?? ," tanya Ayah Rafiq lagi.


" Namanya Zahwa Adzkira Aiza Khaliq ," jawab Cyra dengan suara pelan.


Sebab Cyra jadi teringat lagi dengan Mirza, dua minggu sebelum dia meninggal.


Mirza pada saat itu tiba-tiba memberikan secarik kertas kepada Cyra, yang di dalamnya bertuliskan nama untuk anak mereka nantinya.


Mirza yang tahu, jika umurnya tidak akan lama lagi, jadinya dia lebih cepat memberikan sebuah nama untuk sang putri tercintanya.


Walau Mirza tahu, jika dirinya tidak akan bisa berjumpa dengan sang putri yang sudah ditunggunya, setidaknya dia sedikit merasa lega, karena sudah memberikan nama yang cantik untuknya.


" Waaah, namanya cantik sekali ," ucap Mama Jian.


" Siapa nama panggilannya Nak?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Zahwa ," jawab Cyra.


" Kalau Kakak, bolehkah memanggilnya dengan nama Aiza, Cyra?? ," tanya Akmal.


" Boleh Kak, karena Aiza itu adalah panggilan khusus dari Kak Mirza dan Cyra untuk Zahwa ," jawab Cyra sambil menangis.


" Emm, maaf, bukan maksud Kakak untuk ..... ," ucapan Akmal terhenti ketika disela oleh Cyra.


" Tidak apa-apa ko Kak, Cyra tidak marah ," jawab Cyra.


" Kalau boleh tahu, apa arti namanya Nak?? ," tanya Abi Rasyid.


" Nama dan juga artinya sangat cantik sekali ," kata Umma Nada.


" Zahwa, cucu kesayangan Nenek ," kata Mama Jian.


Semua orang merasa senang sudah mengetahui siapa nama si baby yaitu Zahwa, dan Cyra mencoba menyembunyikan kesedihannya, karena teringat dengan Mirza, yang seharusnya dia yang menyampaikan nama itu kepada semua orang.


Waktu silih berganti, dan karena kondisi Cyra sudah mulai membaik, keesokan harinya, Dokter yang menangani Cyra, sudah mengijinkannya untuk pulang ke rumah.


Cyra awalnya bingung, mau pulang ke rumah siapa, ke rumah Ayah Rafiq atau Abi Rasyid. Namun, karena berhubung sebentar lagi akan diadakan syukuran untuk tujuh hari meninggalnya Mirza, dan syukuran aqiqah kelahirannya Zahwa, akhirnya, Cyra pun kembali pulang ke rumah Ayah Rafiq.


Kepulangan Cyra ke rumah disambut suka cita dan kesedihan secara bersamaan oleh para pekerja yang ada di situ.


Tapi semua orang tidak mau menunjukkan kesedihan mereka dihadapan Cyra, supaya Cyra mau melangkah lagi untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, walau tanpa Mirza di sampingnya.


Selama baby Zahwa masih berumur kurang dari satu bulan, Mama Jian sengaja ikut tidur menemani Cyra di dalam kamarnya. Dan selama Mama Jian menemani Cyra bersama baby Zahwa tidur, cukup sering Mama Jian melihat Cyra menangis di tengah malam, karena teringat dengan sang suami.


Mama Jian mencoba mendekati Cyra, yang sedang termenung di depan meja kerja yang biasa digunakan oleh Mirza, sambil memandangi foto pernikahan mereka berdua.


" Nak, ikhlaskanlah, supaya jalan Mirza di sana tidak berat, karena kamu masih terpuruk di sini ," ucap Mama Jian.


" Mama ," kata Cyra terkejut.


" Mama tahu bagaimana kesedihanmu, Nak ," kata Mama Jian.


" Cobalah ikhlas menerima kepergiannya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati ," nasihat Mama Jian.


" Seberat apapun cobaannya, kamu harus mencoba melangkah menapaki masa depan bersama baby Zahwa ," ucap Mama Jian.


" Jangan seperti ini terus ," kata Mama Jian.


" Jika kamu terpuruk seperti ini terus, bukan Mirza saja yang merasa bersedih, tapi Mama juga. Karena Mama yang sudah mengandungnya selama berbulan-bulan lamanya, membesarkannya dengan tangan Mama sendiri, tapi dengan tangan ini juga Mama juga ikut menguburkannya ," ucap Mama Jian sambil menangis tersedu-sedu.


Ucapan Mama Jian membuat Cyra tertampar dengan keadaan, karena dia melupakan, jika ada yang lebih terpuruk selain dirinya, yaitu sang Mama mertua.


Cyra langsung beranjak berdiri dari duduknya dan memeluk sang Mama mertua dengan perasaan bersalah yang mendalam.


" Maafkan Cyra, Mama, maafkan Cyra ," ucap Cyra.


" Cyra berjanji, Cyra tidak akan bersedih lagi, supaya Kak Mirza di sana tidak ikut merasa bersedih karena Cyra ," kata Cyra.


" Iya Nak, kamu harus semangat ," jawab Mama Jian sambil mengusap air mata Cyra.


" Sudah malam, ayo kita tidur, nanti kalau kamu masuk angin, kasihan baby Zahwa yang masih neeneen denganmu ," kata Mama Jian.


" Iya Ma ," jawab singkat dari Cyra.


Mama Jian lalu mengajak Cyra untuk kembali tidur di atas ranjang, dengan baby Zahwa yang berada di tengah-tengah mereka berdua.


Melepaskan orang yang kita cintai dan sayangi selama-lamanya, tentulah sangat berat sekali.


Namun, tidak tahukah kalian, jika meratapi orang yang sudah meninggal sama saja kita sudah menyiksanya di sana.


(Diriwayatkan Al-Bukhari). Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mayit disiksa karena tangisan orang yang masih hidup,”


(Diriwayatkan Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa diratapi, ia disiksa sesuai karena diratapi,”.


Akan tetapi, jika menangis yang sewajarnya, itu masih diperbolehkan, karena Rasullullah SAW pun pernah menangis, ketika kematian Umamah cucunya dari Zainab.


Rasulullah SAW bersabda, “Ini kasih sayang yang dimasukkan Allah ke hati hamba-hamba-Nya, dan sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang,” (Diriwayatkan Al-Bukhari).


...🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️...


...***TBC***...