
Meninggalkan pemeran utama kita. Sejenak kita beralih ke pemeran pendamping, yaitu Kalila.
Semenjak kepulangannya dari rumah Akmal kemarin bersama para sahabatnya. Apalagi dirinya mendengar sendiri jika Deena sudah hamil. Sedangkan dirinya belum. Terbesit dipikirannya kapan dirinya diberikan anugrah terindah itu oleh Allah.
Semua itu kembali kepada-Nya. Karena sekuat apapun, sekeras apapun kita meminta. Jika Allah belum menghendaki. Pastilah tidak akan terjadi.
Sering termenung dan merenung. Membuat Kalila semakin stres saja. Pernah suatu hari. Kalila yang biasanya ceria. Seharian penuh dirinya terlihat pendiam dan sering banyak melamun. Kebetulan Abraham sedang ada di rumah. Melihat hal itu Abraham pun menjadi khawatir kepada sang istri kalau dia sedang sakit.
"Apakah kamu sedang sakit Sayang?"
Kalila menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak apa-apa ko Kak," sambil tersenyum terpaksa.
Kalila lalu memilih menghindar dan melanjutkan lagi melamunnya dengan bersantai di dekat kolam renang.
Semakin hari. Sikap Kalila semakin aneh menurut Abraham. Hingga membuat Abraham semakin tidak betah saja melihatnya. Dengan perlahan. Abraham mencoba mengajak berbicara Kalila dari hati ke hati sebelum tidur.
"Sayang! Sini! mendekatlah." Abraham menepuk ranjang di sebelahnya.
Perlahan tapi pasti. Kalila mendekat ke arah Abraham, lalu memeluknya dengan mesra.
Abraham mengusap rambut Kalila dengan lembut. "Kamu kenapa Sayang? Apa kamu sedang ada masalah?"
Kalila masih diam saja. Lalu Abraham melanjutkan lagi ucapannya. "Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lainnya. Kenapa sekarang kamu seperti tidak mau membagi kesedihanmu itu kepada Kakak?"
Tiba-tiba terdengar suara Kalila yang sedang menangis. Abraham langsung mendongakkan wajah Kalila untuk melihat ke arahnya. "Hei! Kenapa kamu menangis Sayang?"
"Apa Kakak masih akan mencintai Kalila. Jika kita tidak punya anak?"
"Apa ini yang membuatmu bersedih sejak kemarin?"
Kalila mengangguk. "Iya! Deena sudah hamil. Sedangkan aku belum. Padahal kita menikahnya hampir bersamaan. Bahkan duluan kita."
Abraham mengusap air mata kalila dengan lembut. "Kenapa kamu merisaukan hal itu Sayang."
"Jodoh, rejeki, maut bahkan mempunyai anak. Itu semua sudah diatur oleh Allah sejak kita belum diciptakan."
"Jika kamu seperti ini. Itu artinya kamu sama saja meragukan kekuasaan Allah, Kalila."
Abraham menatap Kalila dengan lekat. "Apapun yang terjadi. Kakak akan selalu bersamamu. Kaka akan selalu mencintaimu. Percayalah kepada Kakak. Karena kamu adalah wanita yang Kakak pilih untuk menemani sisa umur Kakak di dunia ini."
Kalila langsung memeluk Abraham dengan sangat erat sekali sambil sesenggukan karena masih menangis.
"Tenang ya sayang. Lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Nanti jika sudah saatnya kita mempunyai anak. Allah pasti akan memberikannya kepada kita berdua."
Kalila mencoba tersenyum dengan air mata yang masih membekas di pipinya.
Semenjak saat itu. Kalila mencoba menatap pola pikirnya. Pola makannya dan pola hidupnya. Supaya dirinya cepat diberikan momongan oleh Allah Subhanahu wata'ala.
Beberapa minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Kalila pun belum kunjung hamil juga. Padahal usia kandungan Deena sudah memasuki lima bulan. Dan bersamaan itu pula. Kalila baru saja mendapatkan kabar dari sang suami. Jika Cyra sedang hamil lagi anak ke dua.
Drop lagi tubuh Kalila mendengar kabar jika Cyra hamil lagi. Dia sampai tidak naafsu makan berhari-hari karena terlalu banyak pikiran. Bahkan Kalila sampai harus di rawat di rumah sakit segala karena kondisinya yang semakin lemah.
Kalila sengaja tidak memberitahukan kepada semua sahabatnya ketika dirinya dirawat di rumah sakit. Jadi, ketika di rumah sakit. Cuma ada keluarga dekat saja yang menjenguknya. Hingga akhirnya, semua sahabatnya mengetahui perihal sakitnya Kalila.
Cyra, Akmal bersama baby Zahwa. Hamzah bersama Misha dan baby Abbiyya. Serta Deena dan Fadli. Saat ini sedang bersama-sama datang ke rumah Kalila dan Abraham untuk menjenguk Kalila.
Kedatangan mereka semua disambut hangat oleh Abraham dengan senyuman ramah.
Cyra langsung bertanya kepada Abraham. "Kak! Mana Kalila?"
Abraham menjawab. "Ada di dalam. Sebentar! Akan aku panggilkan dulu."
Cyra dan yang lainnya hanya mengangguk saja. Sedangkan Abraham langsung masuk ke dalam untuk memanggil Kalila.
Kalila lalu keluar bersama Abraham dalam keadaan wajah yang sudah sedikit lebih baik dari kemarin. Tapi wajahnya terlihat masih pucat.
Kalila keluar sambil tersenyum ramah kepada semua temannya. Deena, Misha dan juga Cyra. Langsung menyambut kedatangan Kalila dengan senang sambil memperlihatkan wajah kekhawatirannya.
"Kalila! Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Cyra.
Kalila cuma tersenyum. "Kalila! Kenapa kamu tidak bercerita kepada kami. Jika kamu masuk ke rumah sakit kemarin? Apa kami tidak berarti untukmu!" Misha bertanya penuh dengan tuntutan.
Hamzah sampai menyenggol lengan Misha untuk sedikit menjaga ucapannya kepada Kalila yang masih sakit.
Kalila tidak marah. Justru dia tersenyum sambil menahan perasaan sedihnya melihat kebahagiaan semua sahabatnya.
"Maafkan aku Misha, semuanya. Aku hanya malu kepada kalian. Dan aku juga tidak mau merepotkan kalian semua."
Deena sedikit tidak suka dengan ucapan Kalila. "Kenapa kamu berbicara seperti itu Kalila! Jangan membuat kami kecewa dengan sikapmu itu Kalila! Kita sudah berteman cukup lama. Apa pertemanan kita tidak ada artinya bagimu!"
Maklum emak-emak yang sedang hamil. Pasti hormonnya mudah sekali terpancing. Fadli sampai meeremaas telapak tangan Deena supaya tidak melanjutkan lagi ucapannya.
Supaya suasana tidak semakin runyam. Abraham mencoba menengahi pembicaraan mereka semua. "Maafkan kami sebelumnya."
Semua orang saat ini sedang memandang serius ke arah Abraham.
"Bukan maksud Kalila ingin mengecewakan kalian. Hanya saja dia sedang terpuruk sebab belum hamil juga sampai sekarang. Padahal Cyra sudah hamil lagi saat ini."
"Subhanallah. Astaghfirullah Kalila." Cyra langsung berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping Kalila.
"Kenapa kamu sampai mempunyai pikiran seperti itu Kalila? Sedangkan rejeki setiap makhluk di bumi ini sudah diatur oleh Allah. Bahkan tidak ada makhluk di bumi ini yang kekurangan rejeki jika bukan karena kehendak Allah sendiri."
"Lalu apa yang membuatmu bisa sampai mempunyai pikiran seperti itu Kalila? Istighfar Kalila. Jangan kamu seperti ini. Sebelum Allah marah kepadamu."
Kalila langsung menangis mendengar ceramah singkat dari Cyra. Dirinya langsung memeluk Cyra dengan sangat erat sekali.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku sungguh bodoh sekali menjadi orang."
Cyra mengusap punggung Kalila dengan lembut sambil menenangkannya. "Kun fayakun. Jika Allah sudah berkehendak pasti akan terjadi Kalila."
"Jangan pernah meragukan kekuasaan Allah. Karena itu sama saja kamu musyrik kepada-Nya."
"Iya! Sekarang aku sadar. Terimakasih Cyra. Terimakasih semuanya." Kalila mencoba tersenyum.
Deena, Misha dan para laki-laki langsung tersenyum menanggapi Kalila. Mereka semua lalu mengobrol. Menghibur Kalila supaya tidak terpuruk dan cemburu lagi kepada mereka. Dan juga memberikan semangat serta support penuh kepadanya.
Roda itu berputar. Tidak selamanya yang ada di atas akan selalu di atas. Begitupun sebaliknya.
Jangan pernah meragukan kekuasaan-Nya. Karena apa yang ada di muka bumi ini. Kehidupannya sudah dijamin oleh Allah sepenuhnya.
...~.~...