
Detik berganti menit. Menit berganti dengan jam. Jam berganti dengan hari. Dan hari berganti dengan bulan. Tidak terasa saat ini kehamilan Cyra sudah menginjak usia enam bulan. Itu artinya kehamilan Deena sudah menginjak sembilan bulan. Tinggal menghitung hari saja untuknya bisa melahirkan baby pertamanya.
Mengetahui sang istri sedang hamil tua. Fadli sudah berencana untuk mengajukan cuti beberapa hari dari kampus untuk menemani sang istri lahiran.
Rencana Fadli adalah hari ini dia ingin mengajukan rencana cutinya itu. Tapi tidak tahunya. Ketika dirinya akan berangkat ke kampus. Tiba-tiba Deena mengalami sakit perut yang rasanya terasa sangat sakit sekali.
Fadli yang sudah berjaga-jaga sejak beberapa minggu yang lalu. Langsung sigap membawa Deena ke rumah sakit terdekat.
"Sayang bertahan ya! Sebentar lagi kita sampai."
Walau pikiran sedang kacau. Tapi Fadli masih bisa membaginya untuk fokus dengan mobil yang dikendarainya. Hingga akhirnya dia sampai juga di rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit. Fadli langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan ruang UGD rumah sakit tersebut.
"Dokter! Tolong istri saya!"
Mendengar teriakan Fadli. Dan melihat sendiri jika Deena seperti sudah mau melahirkan. Para dokter dan suster jaga langsung segera membantu Deena untuk mereka bawa ke ruang bersalin.
"Mohon tunggu sebentar di sini Pak. Biar kami memeriksa dulu istri Anda."
Fadli hanya mengangguk saja sambil menunjukkan wajah yang sangat khawatir. Di saat dirinya sedang khawatir seperti itu. Fadli masih bisa berpikir dengan jernih untuk memberitahukan perihal persalinannya Deena kepada semua keluarganya.
Orang yang Fadli hubungi pertama kali adalah sang Mama. Lalu mama Ika langsung memberitahukan kepada sang suami, yaitu ayah Dzakki.
Selesai menghubungi mamanya. Fadli langsung menghubungi mama mertuanya.
"Halo Nak! Bagaimana keadaan Deena sekarang. Kamu di rumah sakit mana?"
Fadli sedikit terkejut mendengar ucapan mama Rina. Tapi Fadli langsung teringat jika mama Rina pasti sudah diberitahu oleh bibi yang bekerja di rumahnya.
"Deena masih ditangani oleh dokter Ma." Lalu Fadli memberitahukan di rumah sakit mana dirinya saat ini membawa Deena untuk melahirkan.
"Mama akan segera ke sana sama Papa, Nak. Tunggu kami."
Fadli menganggukkan kepalanya. Walau sang mama mertua tidak melihatnya. "Baik Ma." Sambungan telepon mereka lalu terputus.
Baru saja mematikan sambungan teleponnya. Pandangan Fadli teralihkan ke arah suster yang baru saja keluar dari dalam ruang bersalin.
"Bapak suaminya 'kan?"
Fadli menganggukkan kepalanya. "Benar Sus."
"Mari ikut saya Pak. Istri Anda sudah mau melahirkan."
Fadli langsung mengikuti langkah kaki sang suster untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
"Sebelumnya saya harus menjelaskan Pak. Jika istri Anda harus kami opeerasi caesar. Karena bayi Anda terlalu besar dan lehernya terlilit tali pusarnya."
Fadli sangat terkejut sekali mendengar penjelasan sang suster. Tapi demi untuk menyelamatkan ke dua orang yang sangat berarti di hidupnya. Fadli langsung menyetujui surat opeerasi caesar yang harus Deena jalani.
Sang dokter dan semua asistennya langsung segera membawa Deena ke ruang opeerasi untuk menindaklanjuti kelahiran putra pertama Fadli.
Fadli disuruh menunggu di luar selagi Deena sedang mendapatkan penanganan dari sang dokter kandungan di dalam ruang opeerasi.
Duduk tidak tenang. Dengan pikiran yang tidak menentu. Fadli terus berjalan ke kanan dan kiri sambil memanjatkan doa.
Setengah jam sudah Fadli menunggu. Dan tiba-tiba telinganya mendengar seseorang memanggil namanya. Orang tersebut adalah ke dua orang tuanya serta ke dua mertuanya.
"Nak! Bagaimana keadaan Deena sekarang?"
Belum sempat menjawab pertanyaan dari mama Rina. Papa Ahmad sudah bertanya juga. "Kenapa bisa sampai di opeerasi segala Fadli?"
"Bayi Fadli besar Pa. Dan lehernya kelilit tali pusar. Makanya dokter tidak berani melakukan persalinan normal. Takut terjadi apa-apa dengan Deena dan bayi Fadli."
Para orang tua langsung menunjukkan wajah ke khawatiran yang mendalam mendengar kabar tersebut. "Astaghfirullah."
Sedang sibuk berbicara dengan para orang tua. Tiba-tiba lagi Fadli mendapatkan telepon dari kampus karena dia tidak segera datang. Fadli sungguh lupa untuk memberi kabar jika dirinya tidak akan datang ke kampus karena Deena mau melahirkan.
Fadli meminta pengertian dari kampus. Dan untung saja pihak kampus mengerti. Jadi untuk beberapa hari ke depan, Fadli bisa fokus dengan kelahiran anak pertamanya.
Genap satu jam akhirnya Deena selesai juga di opeerasinya. Dia baru saja keluar dari dalam ruang opeerasi dan sedang didorong oleh para asisten dokter.
Melihat hal itu Fadli dan para orang tua langsung bergegas menghampiri Deena.
"Deena!"
Deena hanya tersenyum lemas kepada sang suami yang terlihat khawatir kepadanya.
Pandangan mata semua orang teralihkan lagi ke arah box baby yang baru saja di dorong keluar setelah Deena.
"Apakah itu cucu saya suster?"
Sang suster langsung mengangguk membenarkan ucapan Papa Ahmad. "Benar Tuan. Anak Nyonya Deena laki-laki. Sangat sehat dan sempurna seperti harapan kita semua."
"Alhamdulillah."
Wajah kebahagiaan langsung tercetak jelas di wajah semua orang. Bahkan mata Fadli sampai berkaca-kaca melihat jagoannya sudah lahir dengan selamat.
Saat ini Deena sudah dipindahkan ke ruang VIP yang ada di rumah sakit tersebut. Jagoan Fadli langsung diserbu oleh para kakek dan juga neneknya. Dengan berat tubuh sekitar empat koma satu kilogram dan panjang sekitar lima puluh centimeter. Membuat jagoannya Fadli - Deena terlihat sangat gemuk sekali.
"Masyaallah! Cucu pertama Mama sangat gemuk sekali. Mama sampai tidak rela untuk menaruhnya di box baby."
Ucapan mama Rina memang benar sekali. Karena jagoan Fadli - Deena benar-benar menggemaskan.
Fadli tersenyum senang. Tangannya terus menggenggam tangan Deena yang tidak sedang di infus.
"Terimakasih Sayang. Sudah mau berjuang untuk jagoan kita." Fadli mengusap kepala Deena dengan lembut.
Deena tersenyum. "Sama-sama. Ajari Mama untuk bisa menjadi ibu yang baik untuknya ya Ayah."
Fadli tersenyum sangat manis sekali dipanggil Ayah oleh Deena. "Pasti Mama! Kita besarkan dia bersama-sama ya." Fadli mencium kening Deena dengan mesra.
"Ayah ijin sebentar mau menggendong jagoan kita ya Sayang."
Deena mengangguk. Fadli lalu beranjak berdiri mendekati sang jagoan yang sedang menjadi rebutan oleh ke dua neneknya.
Untuk pertama kalinya Fadli merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata. Dirinya menggendong sang putra penuh dengan kehati-hatian.
Setelah mengadzani tadi. Baru ini Fadli memberanikan diri menggendong sang jagoan yang wajahnya sangat mirip sekali dengannya.
...~.~...