IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
SAMPAI RUMAH


Semua orang sangat syok sekali melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Akmal. Dan yang paling syok di antara mereka semua tentu saja Cyra. Sebab Cyra tidak pernah melihat kekerasan seperti itu secara langsung di depannya. Apalagi Akmal yang Cyra kenal orangnya kalem dan lembut. Tapi tidak tahunya jika sedang marah sangat menyeramkan sekali.


"Ada ap ... "


Akmal menyela sang manajer cafe yang ingin menegurnya supaya diam jangan mengganggunya.


Manajer cafe itu sontak langsung diam saja dan melihat apa yang sedang ingin Akmal lakukan lagi.


"Budhe kalau berbicara dijaga!"


Tapi sang Budhe seperti tidak peduli dan tidak tahu malu. "Dijaga bagaimana? Kalian itu sudah kepergok saya. Jika ternyata kalian senang melihat Mirza meninggal!"


Akmal yang terlihat kemarahannya akan semakin meledak pun. Cyra langsung mencegahnya. "Kak. Sudah Kak."


Cyra sangat gemetaran sekali ketika sedang menenangkan Akmal.


"Ta ... "


Ada seorang bapak-bapak berjenggot langsung menyela ucapan Akmal. Dan sepertinya dia bijak dalam menyingkapi masalah Akmal sekarang. "Maaf Nyonya saya ikut menyela."


"Siapa anda!"


Dengan tenang bapak itu pun menjawab. "Saya bukan siapa-siapa. Tapi kebetulan saya melihat sendiri apa yang dilakukan oleh mereka berdua."


"Tuan ini tangannya sedang terluka. Dan nyonya itu cuma membantunya untuk makan. Lalu salahnya di mana Nyonya?"


Tidak mau kalah telak. Sang Budhe pun menjawabnya lagi. "Tapi suami dari dia baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu. Dan laki-laki ini adik kandung suaminya!"


"Di dalam islam. Nyonya ini dulunya memang kakak ipar untuk Tuan ini. Tapi sekarang mereka cuma mantan kakak ipar. Dan jika mereka menikahpun sah-sah saja. Asal nyonya ini sudah selesai masa iddahnya." Walau jawabnya santai tapi sangat ngena dan tepat sekali.


"Apa pantas seorang wanita muslim bercadar pula. Suami baru saja meninggal tapi sudah jalan berdua bahkan bermesraan dengan laki-laki lain di tempat umum. Dan lebih parahnya laki-laki itu adalah mantan adik iparnya sendiri! Huh!"


"Walau menurut anda tidak pantas. Setidaknya lihatlah dulu duduk permasalahannya. Jangan langsung menuduh seperti ini, nanti jatuhnya fitnah. Dan anda akan mendapatkan dosa besar akan hal itu."


Sang Budhe seperti sangat ketakutan sekali mendengar ucapan dari bapak itu. Dan dia langsung saja pergi tanpa banyak berbicara meninggalkan kekacauan yang sudah diperbuatnya.


"Janganlah Anda dimasukkan ke dalam hati Nyonya, Tuan."


Akmal mengangguk mendengar nasihat dari sang bapak tersebut. Sedangkan Cyra hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan.


"Tidak semuanya yang kita lihat seperti itu kenyataannya. Ada banyak hal yang harus kita cermati dan amati dulu sebelum menilai sesuatu. Begitupun yang terjadi saat ini."


Bapak itu berucap sangat santai dan bijak sekali dalam menyikapi masalah Akmal saat ini.


"Terimakasih Pak. Bapak sudah membantu saya. Coba saja tidak ada Bapak tadi, pasti amarah saya akan lebih meledak lagi."


Bapak itu tersenyum mendengar ucapan Akmal. "Tenangkanlah dia. Sepertinya dia sangat syok sekali."


Akmal menatap ke arah Cyra yang diam saja daritadi. Dan setelahnya, dia mengangguk kepada bapak tersebut.


Akmal lalu mengambil dompetnya dan memberikan kartu namanya kepada sang manajer cafe tadi. Supaya mentotal semua kerugian di cafe tersebut, lalu dikirimkan ke alamatnya.


Setelahnya Akmal langsung mengajak Cyra pulang ke rumah, supaya bisa menenangkan pikiran atas masalah yang baru saja terjadi tadi.


"Apakah kamu masih bisa mengendarai mobilnya, Cyra?"


Cyra menjawab sambil mengangguk dengan tangan gemetaran. "Iya Kak. Cyra masih sanggup."


"Maafkan Kakak ya Cyra."


Cyra sedikit kebingungan mendengar Akmal meminta maaf kepadanya. "Minta maaf untuk apa Kak?"


"Jujur Cyra terkejut Kak. Tapi semua itu karena Kakak terpancing emosi. Sudahlah tidak perlu Kakak bahas lagi."


Padahal di dalam hati. Cyra masih merasa syok dan belum bisa menguasai diri.


"Terimakasih," Akmal menjeda ucapannya. "Kakak akan berusaha segera sembuh dari cidera ini, supaya tidak menimbulkan fitnah lagi untuk kita."


Cyra mengangguk sambil terus fokus dengan jalanan yang ada di depannya.


Tidak lama mobil yang Cyra kendarai sampai juga di rumah Ayah Rafiq. Setelah memarkirkan mobilnya. Akmal dan Cyra langsung segera masuk ke dalam rumah untuk mencari baby Zahwa.


"Bi Darmi. Aiza mana?" tidak sengaja Cyra melihat bi Darmi yang akan ke luar rumah.


"Eh Mbak Cyra. Emm baby Zahwa sepertinya tadi diajak jalan-jalan sebentar sama ibu dan bapak."


Cyra menyentuh dadanya menahan rasa sakit yang semakin sakit saja. "Ke mana Bi perginya?"


Sedangkan Akmal sudah berlalu masuk ke dalam kamarnya sejak tadi.


"Katanya main ke rumah orang tua Mbak Cyra."


"Engh. Oh baiklah. Cyra masuk ke dalam kamar dulu ya Bi."


Bi Darmi hanya mengangguk saja. Dan mereka langsung berpisah tujuan masing-masing.


Sesampainya di dalam kamar. Cyra mencoba membuka gamisnya yang ternyata dadanya seperti membengkak dan terus mengeluarkan ASI terus menerus.


"Akh! Ini sakit sekali."


Cyra sampai kesusahan mengangkat ke dua tangannya, karena rasa sakit di ke dua paayudaraanya.


"Aku nggak kuat!" Cyra langsung bergegas ke luar dari dalam kamar lagi untuk meminta bantuan kepada Akmal. Supaya Akmal mau memanggilkan salah satu bibi untuk membantunya.


Suara ketukan pintu dengan pelan langsung Akmal dengar. Dan ketika sudah dia buka ternyata ada Cyra yang sedang sedikit menundukkan badannya menahan rasa sakit di dadanya.


"Kamu kenapa Cyra?" Akmal benar-benar sangat khawatir sekali.


Cyra menjawabnya dengan lirih. "Kak tolong panggilkan salah satu bibi ke sini untuk membantu Cyra. Sakit sekali dada Cyra."


Akmal hanya mengangguk dan langsung bergegas menuju ke arah dapur. Sedangkan Cyra memilih kembali ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan badannya di atas ranjang.


Akmal yang sudah sampai di dalam dapur. Dia langsung segera meminta tolong kepada bibi yang dia temui, yaitu Bi Narsih.


"Mbak Cyra kenapa Mas?" Bi Narsih juga sangat khawatir sekali.


"Katanya dadanya sakit Bi. Dan ASI-nya ke luar terus," Akmal menjawab sambil terus bejalan ke arah lantai atas.


"Oh kalau begitu. Mas Akmal cepat suruh ibu dan bapak segera pulang. Supaya Mbak Cyra bisa segera meenyusui baby Zahwa."


Akmal langsung mengangguk dan dia lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Sedangkan bi Narsih langsung memeriksa keadaannya Cyra. "Bibi buatkan air hangat dulu ya Mbak, untuk mengompres dadanya."


Cyra hanya mengangguk saja dengan tubuh yang sudah merasa panas dingin. Ingin sekali rasanya menangis karena tidak ada suami yang bisa dia ajak saling berbicara.


Tapi apalah daya. Semua itu tidak boleh Cyra ratapi. Karena Allah tidak suka akan hal itu. Yang bisa Cyra lakukan sekarang cuma menahannya sampai baby Zahwa diajak pulang ke rumah oleh ke dua mertuanya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...