
Setelah kejadian mimpi yang dialami Akmal kemarin bertemu dengan sang kakak. Sampai saat ini, Akmal tidak pernah lagi bermimpi bertemu dengan sang kakak di alam bawah sadarnya sama sekali. Begitupun dengan Cyra. Akmal dan Cyra menjalani rumah tangga mereka dengan baik, damai, dan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Akmal dan Cyra sudah menghubungi orang rumah. Untuk menjaga rumah mereka dengan baik selama mereka menginap di rumah abi Rasyid. Untung saja keesokan harinya Akmal cuma ada satu mata pelajaran saja yang harus dia ajar. Karena Akmal tidak mau kehilangan momen bersama dengan keluarganya. Akmal meminta ijin lagi dan memberikan tugas kepada asisten dosennya selama dia tidak masuk hari ini.
Saat ini semua orang sedang berada di meja makan untuk menikmati sarapan bersama. Tidak lupa juga, pagi mereka sudah disambut dengan keceriaan dari baby Zahwa yang semakin lincah saja untuk memberantakin semuanya.
"Semakin aktif saja cucu Kakek. Lihatlah Umma. Rumah kamu diberantakin cucu kesayangan kamu itu," Abi Rasyid menggelengkan kepalanya.
Yaps! Sejak bangun tidur tadi sekitar jam setengah lima pagi. Baby Zahwa sudah rusuh memberantakin ruang keluarga dengan mengobrak-abrik buku milik sang kakek, serta semua majalah milik sang nenek.
Tidak lupa, remote televisi yang ada di atas meja, dia mainkan hingga terkena air liurnya semua. Dan sekarang, ketika sedang asik sarapan. Baby Zahwa merengek ingin ikut makan sambil mencoba menarik sesuatu yang ada di pinggir meja makan.
"Kesabaran sebagai orang tua sudah mulai di coba saat ini," Umma Nada menggelengkan kepalanya. Sedangkan Akmal dan Cyra hanya tertawa saja.
"Sini Sayang. Biar Aiza sama Abu saja," Akmal mengambil alih baby Zahwa ke dalam pangkuannya.
Karena berhubung baby Zahwa sudah memasuki MPASI. Akmal dan Cyra sudah mengenalkan beberapa makanan kepadanya. Baby Zahwa yang melihat Akmal mengunyah makanan. Wajahnya menatap lucu ke arah sang Abu. Dan Akmal dibuat semakin gemas dengan wajah baby Zahwa.
"Kamu mau sayang? Sebentar ya," Akmal lalu memberikan sedikit makanan yang sudah dikunyahnya tadi untuk baby Zahwa.
"Bagaimana? Enak 'kan suapan dari Abu?" Akmal tertawa melihat eskpresi baby Zahwa. Sedangkan Cyra langsung memukul paaha Akmal.
"Abu iih! Jangan begitu! jorok dong!" Cyra menegur Akmal. Tapi Akmal malah semakin tertawa saja ketika ditegur oleh Cyra.
Cyra lalu menyuapi baby Zahwa dengan pisang yang tersedia di atas meja. Sudah hampir habis setengahnya. Baby Zahwa sudah tidak mau lagi dengan pisang tersebut. Tapi malah gantian mengambil biskuit yang disediakan untuk camilan.
Abi Rasyid, umma Nada, Akmal dan juga Cyra hanya menggelengkan kepala saja melihat naafsu makan baby Zahwa yang terlihat besar sekali.
"Kamu tidak ke kampus Nak?" tanya abi Rasyid.
"Tidak Abi. Akmal ijin dulu untuk hari ini," abi Rasyid hanya mengangguk saja menanggapi Akmal.
"Oh ya Abi. Akmal dan Cyra mau membangun panti asuhan dan tempat penampungan untuk kaum dhuafa. Doakan kami ya Abi, Umma. Semoga pembangunannya berjalan dengan lancar."
Sama seperti ayah Rafiq dan mama Jian kemarin. Eskpresi abi Rasyid dan umma Nada pun sangat terkejut sekali, ketika mendengar hal itu dari Akmal. Mereka berdua tidak menyangka. Anak mereka yang masih muda sudah bisa memikirkan sesama yang sedang sangat membutuhkan.
"Apa kalian serius Nak?" abi Rasyid masih terlihat terkejut.
"Iya Abi. Kami sangat serius sekali," jawab Cyra.
"Itu adalah hal yang baik. Abi akan mendukun kalian. Dan jika kalian membutuhkan bantuan Abi. Abi siap membantu kalian sampai selesai," ucap Abi Rasyid.
Akmal dan Cyra merasa sangat senang. Mendengar abi Rasyid dan umma Nada mendukung keinginan mereka untuk membantu sesama.
"Oh ya! Kata ayah kalian. Kalian setiap jumat suka berbagi ya sama kaum dhuafa?" gantian umma Nada yang bertanya.
"Iya Umma. Dan alhamdulillah semakin ke sini semakin banyak yang datang ke rumah kami," kali ini Akmal yang menjawab.
"Umma mau juga dong! Bisa berbagi sama mereka. Emm! Biasanya kalian berbagi apa saja sama mereka?"
Akmal dan Cyra lalu menjelaskan kepada sang umma. Apa saja yang biasanya mereka berikan untuk kaum dhuafa. Intinya sesuatu yang bermanfaat untuk mereka semua.
"Boleh dong Umma. Nanti kita bisa ikut membantu mereka juga," jawab abi Rasyid.
Seharian itu, masih ada saja para saudara yang datang silih berganti untuk melihat kepulangan abi Rasyid dan umma Nada dari makkah. Begitupula yang terjadi di rumah ayah Rafiq dan mama Jian.
Keesokan harinya. Ayah Rafiq dan mama Jian mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk kepulangan mereka dari makkah. Setelah itu. Hari berikutnya. Gantian abi Rasyid dan umma Nada yang mengadakan syukuran yang sama, seperti yang dilakukan oleh ayah Rafiq dan mama Jian kemarin.
Beberapa hari ini Akmal dan Cyra terlihat sangat sibuk sekali. Dan mereka sampai tidak sempat untuk mengecek butik dan pesanan dari para pelanggan butik mereka. Mereka berdua memberikan kepercayaan kepada orang yang mereka bisa andalkan, untuk menghandle butik sementara waktu.
Setelah acara sudah selesai dengan baik. Akmal dan Cyra bisa beraktifitas dengan normal kembali seperti sedia kala.
"Alhamdulillah. Syukurannya berjalan dengan lancar semua," Cyra sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Iya Umi. Rasanya dari kemarin kita sibuk terus."
Cyra mengangguk. "Pasti Abu capek ya. Karena harus sibuk di kampus juga?"
Akmal tersenyum. "Capek pasti sayang. Tapi jika melihat senyumanmu dan keceriaan Aiza, capek Abu rasanya sudah hilang."
Cyra langsung memeluk Akmal dengan mesra. Walau mereka saat ini masih ada di ruang tamu.
Hari berganti dengan hari. Entah kenapa Akmal dan Cyra saat ini wajahnya terlihat sangat serius sekali. Berhubung Akmal ada jadwal mengajar nanti jam sepuluh pagi. Jadi ketika selesai sarapan tadi. Dirinya bersama Cyra memutuskan untuk segera datang ke butik.
Manajer butik dan para karyawan lainnya yang melihat ekspresi Akmal dan Cyra yang terlihat serius. Membuat mereka semua menjadi sangat penasaran sekali. Sebab Akmal dan Cyra tidak terlihat seperti biasanya yang ramah dan humble kepada para anak buahnya.
"Tolong kamu panggilkan pak Sahab ke sini!" Akmal berbicara dengan tegas dan serius sekali kepada manajer butik.
"Baik Mas Akmal," jawab sopan sang manajer.
Manajer tersebut langsung ke luar dari dalam ruang kantor menuju ke gudang penyimpanan kain untuk memanggil pak Sahab. Sebab pak Sahab adalah orang yang bertanggung jawab di bagian gudang.
Mendengar jika dirinya sedang dicari Akmal. Pak Sahab terlihat sangat ketakutan sekali.
Ketika sudah mengetuk pintu dan mendengar kata masuk dari dalam. Sang manajer butik dan pak Sahab langsung masuk ke dalam kantor.
"Silahkan duduk dulu."
Pak Sahab langsung duduk dengan gemetaran. Karena wajah Akmal terlihat sangat tegas dan juga serius sekali.
"A-ada apa Mas Akmal memanggil sa-saya ke sini?" pak Sahab sangat gugup sekali.
"Sepertinya pak Sahab sudah tahu apa yang membuat saya memanggil Bapak ke sini!" Akmal menjawab dengan sangat tegas sekali dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Pak Sahab tidak berani mengangkat kepalanya. Dia terus menunduk sambil memainkan jari jemari tangannya melihat tatapan tajam Akmal dan Cyra kepadanya.
Sedangkan sang manajer yang masih ada di situ. Dia hanya diam saja sambil memperhatikan apa yang sedang Akmal bicarakan kepada pak Sahab.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...