IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
TERKEJUT AGAIN


Hari-hari berlalu. Tidak terasa sudah satu minggu kejadian baby Zahwa di rawat di klinik. Dan selama satu minggu itu. Akmal akan selalu menyempatkan berkunjung ke rumah Cyra untuk melihat baby Zahwa dan juga Cyra setelah pulang dari mengajar.


Kebersamaan mereka selalu diperhatikan oleh umma Nada dan juga abi Rasyid ketika dia tidak shif di rumah sakit.


Dari jauh sudah terlihat jelas. Akmal dan Cyra seperti keluarga kecil yang berbahagia.


Senyum Cyra selalu mengembang dengan sempurna. Dan tanpa ia sadari, jika kehadiran Akmal sudah bisa membuatnya lupa akan masalah hati tentang kepergian Mirza selamanya.


Cyra belum menyadari. Jika Akmal sudah perlahan singgah di dalam hatinya dan bersanding dengan nama Mirza di dalamnya.


Tapi sejauh ini. Cyra belum bisa merasakan akan hal tersebut.


Setelah puas bermain dengan baby Zahwa. Akmal lalu memutuskan pulang ke rumah ayah Rafiq.


Sesampainya di rumah ayah Rafiq. Akmal langsung melakukan rutinitasnya seperti biasa. Dari mandi, sholat, beres-beres pekerjaannya. Yah semacam itulah.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dan Akmal baru saja pulang dari masjid untuk menunaikan ibadah sholat ashar. Tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan laporan dari salah satu bibi di rumahnya.


"Ada apa Bi Ningsih?"


"Anu Mas. Tadi ada telepon dari mas Hamzah. Katanya, mbak Misha sudah melahirkan." Akmal betul-betul sangat terkejut sekali.


"Katanya mas Hamzah tadi sudah mencoba menghubungi ponsel Mas Akmal. Tapi tadi sudah Bibi jawab. Jika Mas Akmal sedang sholat ashar di masjid."


"Terimakasih Bi laporannya." Bi Ningsih mengangguk saja.


Setelahnya. Akmal langsung bergegas menuju ke dalam kamarnya untuk melihat ponselnya. Dan benar saja. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Hamzah tadi ketika dirinya sedang sholat di masjid.


Tidak pakai lama. Akmal langsung mencoba menghubungi balik Hamzah pada saat itu juga.


"Halo! Assalamu'alaikum Mal?" ucap salam dari Hamzah.


"Wa'alaikumussalam Ham." jawab Akmal.


"Oh ya! Katanya Misha sudah melahirkan? Wah? Selamat ya Ham." Akmal sangat senang sekali.


"Alhamdulillah Mal. Iya! Sudah melahirkan tadi sekitar jam dua belas siang." Hamzah berbicara dengan wajah yang berbinar-binar.


Semua keluarga yang sedang berada di ruang perawatan Misha mendengar jelas percakapan antara Hamzah dengan Akmal.


"Alhamdulillah. Di rumah sakit mana Misha melahirkannya Ham?"


Hamzah langsung saja memberikan nama dan alamat rumah sakit tempat Misha saat ini baru saja melahirkan anak pertama mereka.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana." ucap Akmal.


"Oh ya. Tolong kamu sampaikan juga kabar ini kepada Cyra ya Akmal. Karena aku belum sempat memberitahukannya."


"Iya. Akan aku sampaikan kepadanya. Sekali lagi selamat ya."


"Iya terimakasih," jawab Hamzah.


"Oh ya. Kamu belum memberitahukanku apa jenis keelaminnya."


"Maaf aku lupa." Hamzah tertawa sendiri.


"Anak pertamaku laki-laki Mal." Akmal merasa senang mendengarnya.


"Wah! Jagoan dong."


"Iya. Dia akan menjadi jagoan pertamaku." Hamzah merasa bangga sekali.


"Selamat ya. Akan aku usahakan bisa segera datang ke situ."


"Iya," jawab Hamzah.


"Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Hamzah dan Akmal langsung mengakhiri sambungan teleponnya.


Selesai menelpon Hamzah. Akmal langsung menghubungi Cyra yang baru saja memandikan baby Zahwa.


"Halo! Assalamu'alaikum Umi." Cyra tersenyum mendengarnya.


Semenjak Akmal sudah berani melamar Cyra dihadapan ke dua orang tuanya. Akmal semakin berani menggoda dan lebih dekat dengan Cyra.


"Wa'alaikumussalam Kak. Ada apa?" ucap Cyra.


"Sedang apa Umi? Mana Aiza?" Akmal tersenyum sendiri di seberang sana.


"Ini. Aiza balu saja mandi Abu. Mau mandi dalitadi Aiza macih bobo." Cyra sengaja menjawab dengan suara anak kecil.


"Iiiih jadi gemes deh. Gemes sama Uminya. Eeh." Cyra langsung tertawa mendengar ucapan Akmal.


"Oh ya Cyra. Misha tadi siang baru saja melahirkan. Ayo kita sekarang menjenguknya." Cyra sangat terkejut mendengarnya.


"Masyaallah. Yang benar Kak?"


"Iya benar. Ini Hamzah baru saja mengabari Kakak," jawab Akmal.


"Baik. Cyra mau Kak. Cyra bilang sama umma dan abi dulu ya. Jika kita mau menjenguk Misha."


"Iya. Nanti akan Kakak jemput jam enam saja. Setelah sholat maghrib."


"Ok Kak. Emm! Apakah Aiza kita ajak juga?" Cyra merasa bimbang.


"Tidak perlu. Aiza titipkan sama umma dan abi dulu. Takutnya Aiza terkena virus. 'Kan kita menjenguknya di rumah sakit." Cyra setuju akan ucapannya Akmal.


"Baiklah. Cyra setuju Kak."


"Kakak tutup dulu ya teleponnya. Kakak mau menyeleksi tugas milik anak-anak dulu. Supaya nanti tenang bila Kakak tinggal pergi."


"Iya Kak. Jangan capek-capek ya." Akmal tersenyum lagi di seberang sana.


"Assalamu'alaikum." ucap Akmal.


"Wa'alaikumussalam." jawab Cyra. Dan sambungan telepon mereka akhirnya terputus.


Selesai mengabari Cyra. Akmal langsung bergegas mengerjakan pekerjaannya.


Sedangkan Cyra langsung keluar dari dalam kamar untuk berbicara kepada sang umma.


Umma Nada juga sangat senang mendengar Misha sudah melahirkan.


"Anaknya laki-laki apa perempuan Cyra?"


Nah kan? Cyra tadi lupa bertanya kepada Akmal.


"Aduh! Cyra lupa bertanya sama kak Akmal, Umma," Cyra tertawa geli.


Sedangkan umma Nada langsung menggelengkan kepalanya melihat sikap Cyra.


"Abi mana Umma? Bukankah tadi ada di rumah?"


"Abi sedang menghadiri syukuran di tetangga kompleks sebelah," Cyra mengangguk.


"Jika nanti Cyra belum sempat bilang sama abi. Tolong sampaikan kepada abi ya Umma." Umma Nada menganggukkan kepalanya.


"Tapi nanti nak Akmal datang ke sini untuk menjemputmu kan?" gantian Cyra yang mengangguk lagi.


"Iya Umma. Setelah sholat maghrib."


"Pasti nanti kamu ketemu sama abi."


Singkat cerita. Maghrib pun tiba. Semua orang yang beragama islam langsung menunaikan ibadah sholat maghrib. Baik di rumah maupun berjamaah di masjid-masjid terdekat.


Akmal sendiri yang sudah pulang dari masjid langsung bergegas bersiap-siap untuk pergi menyusul Cyra.


Begitupula dengan Cyra yang saat ini juga sedang bersiap-siap untuk menjenguk Misha bersama Akmal.


Akmal yang sudah selesai langsung segera keluar dari dalam kamarnya. Lalu berpamitan kepada ke dua orang tuanya untuk menjenguk Misha bersama Cyra.


Senyum Akmal terus terlihat di bibirnya selama perjalanan menuju ke rumah abi Rasyid.


Sesampainya di rumah abi Rasyid. Akmal melihat ada sebuah mobil yang tidak ia kenal. Akmal pikir. Jika mobil itu milik saudara jauhnya abi Rasyid.


Tapi tidak tahunya. Ada hal tidak terduga yang membuat hati Akmal seperti diiris dengan samurai.


"Bagaimana Cyra? Apakah kamu mau menerima lamaran dari saya?"


Jedar! Akmal seperti tersambar petir di siang bolong yang sedang panas terik matahari.


Ucapan itulah yang didengar oleh Akmal dengan sangat jelas sekali ketika langkah kakinya baru saja sampai di teras rumah abi Rasyid.


Pandangan abi Rasyid, Cyra, umma Nada dan juga laki-laki yang berpakaian polisi. Langsung teralihkan ke arah Akmal yang sedang berdiri di tengah-tengah pintu rumah.


"Kak Akmal!"


Cyra sangat terkejut sekali. Dirinya merasa seperti kepergok selingkuh atau semacamnya. Ketika Akmal datang di saat situasi yang tidak tepat seperti saat ini.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...