
Setelah kepergian Aish dari dalam ruang kantornya. Akmal langsung mendekati Cyra yang terlihat begitu syok sekali. "Kamu tidak apa-apa kan Cyra?"
Dengan keadaan terlihat linglung, Cyra pun menjawab. "Cyra tidak apa-apa ko, Kak."
Terdiam sejenak. Cyra lalu melanjutkan lagi ucapannya. "Apakah itu Bu Aish yang mengajar ... "
"Iya, dia Bu Aish yang itu," jawab Akmal.
"Tapi. Kenapa dia bisa sampai berbicara kasar seperti itu kepada Cyra, Kak?" Cyra kebingungan.
"Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan lagi," Akmal mencoba menenangkan. Dan Cyra memilih mengangguk saja.
"Tunggu sebentar ya. Kakak mau mengambil berkas-berkas milik anak-anak dulu." Akmal memilih beberapa tumpukan berkas yang ada di atas mejanya.
Sedangkan Cyra, hanya diam saja sambil memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Akmal.
Setelah selesai, Akmal langsung mengajak Cyra untuk pergi dari dalam ruang kantornya.
"Kita mau ke mana Kak? Memangnya, Kakak apa tidak mengajar lagi nanti?" tanya Cyra.
Sambil menggelengkan kepalanya. Akmal menjawab. "Tidak. Kakak hari ini cuma mengajar satu kelas saja."
"Lalu?" tanya Cyra.
"Sudah, tenanglah. Ayo ikut saja dengan Kakak," jawab Akmal. Dan Cyra hanya bisa pasrah.
Sambil berjalan berdua dengan beriringan. Cyra dan Akmal terlihat begitu romantis, dan mengundang mata banyak orang untuk menatap ke arah mereka.
Bibir yang terus tersenyum sambil bercanda disepanjang jalan. Akhirnya, Cyra dan Akmal sampai juga di parkiran kampus.
Dengan penuh perhatian. Seperti biasanya, Akmal membukakan pintu mobilnya untuk Cyra. "Terimakasih." Cyra langsung duduk di kursi penumpang yang ada di depan.
"Sama-sama Tuan Putri," Akmal tersenyum manis sekali.
Akmal lalu berputar arah untuk masuk ke sisi yang satunya. Setelahnya, dia pun langsung menjalankan mesin mobilnya untuk menuju ke sebuah tempat yang ingin dia datangi bersama Cyra.
Disepanjang perjalanan. Akmal dan Cyra bercanda bersama sambil menggoda baby Zahwa yang sudah terlihat lucu di mata mereka.
"Kamu tahu Cyra. Kenangan yang masih Kakak ingat dengan kak Mirza adalah di waktu Kak Mirza kentut, lalu dia hadapkan persis di wajah Kakak," Akmal bercerita sambil tertawa sendiri.
Sambil ikut tertawa dan cukup penasaran. Cyra pun bertanya. "Oh ya Kak?"
"Iya. Jika jiwa isengnya muncul ya begitu dia. Suka bercanda dan membuat Kakak jengkel," jawab Akmal.
Cyra tertawa riang gembira mendengar cerita dari Akmal, tentang masa kecilnya dengan sang suami dulu.
"Terus. Apa ada hal lain lagi yang belum Cyra ketahui tentang kak Mirza, Kak?" tanya Cyra.
"Kak Mirza sering menjadi rebutan oleh semua cewek sejak dia masuk bangku sekolah dasar, Cyra. Bahkan sampai sekarang, kak Mirza masih menjadi rebutan. Tapi, cuma kamu saja yang bisa meluluhkan hatinya," jawab Akmal.
Cyra tersenyum sambil menunduk. Karena teringat dengan sang suami yang sudah meninggal dunia. "Alhamdulillah, Kak. Karena kak Mirza juga yang mengajarkan Cyra, apa itu arti cinta."
Akmal juga tersenyum mendengar jawabannya Cyra. Dan dia pun mencoba bertanya kepadanya. "Apakah itu artinya. Kamu sudah tahu, seberapa tulusnya cinta Kakak untukmu, Cyra?"
"Entahlah Kak. Cyra bingung?"
"Perasaan ini seakan ikut mati. Ketika kak Mirza pergi meninggalkan Cyra di sini sendirian," wajah Cyra terlihat bersedih.
"Iya. Kakak mengerti. Dan Kakak tidak menyuruhmu untuk terburu-buru membuka hatimu untuk Kakak, Cyra," jawab Akmal. Dan Cyra hanya tersenyum super tipis dibalik niqabnya tanpa Akmal ketahui.
Setelah beberapa menit berada di perjalanan. Akhirnya, mobil yang Akmal kendarai sampai juga di sebuah butik yang cukup besar yang ada di kotanya.
Cyra yang melihat butik tersebut. Hatinya langsung terenyuh karena teringat dengan sang suami.
"Ini 'kan butiknya ... "
Sambil melepaskan sabuk pengamannya. Akmal lalu menjawab. "Iya. Ini butik milik kak Mirza,"
"Ayo turun," kata Akmal.
Akmal tersenyum sambil mengangguk saja membalas sapaan ramah dari karyawan butiknya.
"Sebenarnya. Butik ini adalah langganan Cyra dan umma, Kak," ucap Cyra.
"Oh ya?" Akmal merasa terkejut.
"Iya. Tapi tidak tahunya ... "
"Sudahlah. Tidak perlu diingat-ingat lagi. Ayo, Kakak ajak melihat-lihat di dalam sini," Akmal mengajak Cyra melihat ke semua tempat.
Baru beberapa tempat yang mereka lihat. Akmal dan Cyra tidak sengaja berpapasan dengan sepasang suami istri yang sangat mereka kenal, yaitu Hamzah bersama Misha.
"Cyra," Misha cukup terkejut melihat Cyra.
"Misha," begitupun dengan Cyra. Tidak lupa dengan Hamzah dan juga Akmal.
"Kamu mau beli apa Misha?" tanya Cyra.
"Bajuku semuanya sudah tidak ada yang muat. Karena perut buncit ku ini. Jadi, aku mengajak kak Hamzah untuk menemaniku membeli baju di sini," jawab Misha.
"Silahkan dipilih-pilih. Semoga banyak yang cocok untukmu," jawab Cyra. Dan Misha langsung mengangguk.
"Kalau kamu sendiri ke sini apakah mau mengecek butiknya?" tanya Hamzah.
"Iya Hamzah. Sekaligus mengajarkan calon istriku ini bagaimana mengelolanya," Akmal sungguh sangat percaya diri sekali.
Tentu saja Hamzah dan Misha sangat terkejut sekali mendengar ucapannya Akmal, yang mengatakan calon istri. "Calon istri?"
"Iya. Tentu saja kalian tahu, siapa calon istriku di sini?"
Hamzah dan Misha langsung saling pandang dengan sikap Akmal yang begitu sangat berani sekali saat ini.
"Apakah itu benar, Cyra?" Misha merasa penasaran.
"Suka-suka dia sajalah, yang penting kak Akmal bahagia," jawaban Cyra membuat Akmal refleks tertawa bahagia.
"Apakah itu artinya kamu menerima Akmal, Cyra?" Hamzah bertanya membuat Akmal dan Misha langsung mengalihkan pandangannya ke arah Cyra.
Cyra yang ditatap seperti itu oleh ke tiga orang di depannya, dia menjadi bingung mau menjawab apa. "Emm, Kak. Di mana letak kantornya?" Cyra mengalihkan pembicaraan.
"Di sana." Akmal menunjuk sebuah tempat.
"Ayo antar Cyra ke sana yuk, Kak. Kalian berdua boleh ikut ko, kalau mau," ucap Cyra.
"Boleh," Misha mengangguk setuju.
Cyra langsung menarik tangan Misha untuk menuju ke ruangan yang tadi ditunjuk oleh Akmal.
Sedangkan Akmal yang masih tertinggal bersama Hamzah. Dia langsung bergumam sesuatu. "Selalu saja mengalihkan pembicaraan."
Hamzah yang mendengar langsung menjawabnya. "Tenanglah. Jangan terburu-buru. Cyra masih janda fresh, masih segar, jadi bersabarlah," Hamzah menepuk pelan pundak Akmal.
Akmal hanya mengangguk saja. Dan selanjutnya, mereka berdua pun menyusul Cyra yang sudah masuk ke dalam ruang kerja Mirza bersama Misha.
Akmal dan Hamzah bisa melihat raut wajah bahagia Cyra, ketika berada di ruang kerja Mirza. Karena ruang kerja Mirza begitu nyaman dan enak sekali, terutama bagi kaum perempuan.
Selera Mirza benar-benar sangat bagus, dalam mendesain ruangan. Begitupula dengan rumah pribadinya yang dia desain sendiri untuk dia tinggali bersama keluarga kecilnya.
"Apakah kamu suka Cyra?" Akmal berbicara sambil berjalan mendekati Cyra.
Dengan wajah berbinar senang. Cyra pun menjawabnya. "Cyra sangat suka Kak. Nyaman sekali ruangannya."
Akmal turut bahagia, melihat Cyra sedang bahagia seperti saat ini. Dan mereka berempat, lalu memilih berbincang sebentar di dalam ruang kerja tersebut.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...