
Saat ini Cyra, ayah Rafiq dan juga mama Jian, sudah pada duduk santai di ruang keluarga.
"Nak! Kamu serius ingin berbagi kepada mereka semua setiap hari jum'at?" tanya mama Jian.
Cyra mengangguk. "Serius Mama. Cyra dan kak Akmal sudah sepakat akan hal itu."
"Harta tidak dibawa mati. Dan kami ingin berbagi dengan sesama. Lagi pula bersedekah itu bisa menolak bala' dan mendatangkan ketenangan hati serta jiwa."
Ayah Rafiq mengangguk membenarkan ucapan Cyra. "Iya! Kamu benar Nak. Ayah salut sama kamu dan Akmal."
"Kalau begitu. Nanti Ayah mau ikut menyumbang. Karena mati pun harta tidak akan dibawa ke liang lahat."
"Harta Ayah banyak. Warisan Ayah juga banyak. Dan anak Ayah sekarang cuma Akmal saja. Pasti semua itu akan Ayah berikan kepada dia."
Cyra cuma mengangguk-anggukan kepalanya saja mendengar ucapan sang ayah mertua.
"Sebelum hari jum'at. Ayah akan mengantarkan sumbangannya ke sini."
Cyra mengangguk lagi. "Iya Ayah."
"Tidak harus makanan dan uang 'kan Nak. Maksudnya contohnya sembako atau yang lainnya?"
"Iya Ayah. Yang penting barangnya bisa mereka manfaatkan dan gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka," jawab Cyra.
"Tidak salah mama menjodohkan anak Mama denganmu, Nak. Kamu benar-benar wanita yang sholehah," puji mama Jian.
"Allah maha adil. Akan sangat menyesal bagi Mama jika Akmal dulu sampai menikah dengan Aalifa."
"Sudahlah Ma. Jangan dibahas lagi. Itu sudah masa lalu. Sekarang kita bicarakan yang sedang terjadi hari ini. Biarlah yang lalu biar berlalu," mama Jian menganggukkan kepalanya kepada ayah Rafiq.
Hari itu ayah Rafiq dan mama Jian bermain sepuasnya dengan baby Zahwa. Sebab mereka sangat merindukan cucu kesayangannya itu.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Selepas menunaikan sholat dhuhur. Ayah Rafiq dan mama Jian memutuskan untuk pulang ke rumah mereka.
"Daaa Kakek, Nenek. Hati-hati di jalan ya," Cyra melambaikan tangan baby Zahwa kepada ayah Rafiq dan mama Jian.
"Daaa cucu kesayangan Nenek. Besok Nenek datang ke sini lagi," mama Jian juga melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Setelah itu. Mobil ayah Rafiq benar-benar pergi dari halaman rumah Cyra. Dan Cyra kembali masuk lagi ke dalam kamarnya.
Baru saja sampai di dalam kamar. Tiba-tiba pandangan mata Cyra teralihkan ke arah ponselnya yang sedang berbunyi yang ternyata dari Akmal.
"Halo! Assalamu'alaikum Abu."
"Wa'alaikumussalam Umi," jawab Akmal.
"Sedang apa Umi? Mana Aiza?" tanya Akmal.
Cyra langsung mengalihkan sambungan teleponnya dengan video call. Baby Zahwa yang melihat wajah sang Abu di dalam ponsel, langsung dia pukul dengan tangan mungilnya. Dan Akmal merasa gemas melihat tingkah baby Zahwa yang seperti itu. Apalagi baby Zahwa sambil ngiler.
Akmal dan Cyra tertawa melihat tingkah sang putri yang sangat menggemaskan menurutnya. Bahkan layar ponsel Cyra sampai basah terkena air liurnya. Karena mau di makan sama baby Zahwa.
"Sayang kotor! Jangan di makan ponselnya!" ucap Cyra dan Akmal secara bersamaan.
Ketika Cyra ingin membersihkan layar ponselnya. Baby Zahwa merengek ingin meminta ponsel itu kembali.
"Abu! Sudah dulu ya. Ini Aiza menangis. Mau mainan ponsel Umi. Abu jangan lupa makan siang ya."
Akmal terlihat tersenyum di layar ponselnya. "Abu sudah makan siang ko sayang. Ini baru selesai sholat jumat."
"Oh ya! Tadi ayah sama mama pulang jam berapa Sayang?"
"Baru saja pulang Abu," jawab Cyra sambil menenangkan baby Zahwa yang terus meminta ponsel.
"Emm ya sudah! Umi tenangkan Aiza. Abu cuma mau bilang. Jam dua nanti. Abu ada jam mengajar lagi sampai jam empat sore. Dan pulangnya nanti Abu mau ketemuan sebentar sama Abraham di cafe milik Hamzah. Sekalian kumpul sebentar. Umi mengijinkan Abu kan?"
Akmal juga tidak takut dengan Cyra. Hanya saja Akmal tahu bagaimana menyenangkan hati Cyra supaya dia tidak merasa sedih atau tertekan menikah dengannya.
"Iya tidak apa-apa ko Abu. Pulangnya jangan malam-malam ya. Tapi tumben Abu mau ketemuan sama kak Abraham. Ada apa Abu jika Umi boleh tahu?"
"Abraham ingin memesan banyak sparepart di toko Abu untuk kebutuhan bengkelnya. Ini sudah rutinitas Abu sama Abraham ko Sayang sejak dulu."
Cyra mengerti penjelasan Akmal. "Oh! Umi mengerti. Baiklah! Hati-hati ya Abu. Aiza sudah sangat rewel. Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Umi," Akmal lalu mematikan sambungan video callnya.
Seperti ucapan Akmal tadi. Selesai mengajar. Akmal langsung ketemuan dengan Abraham di cafe milik Hamzah sekalian berkumpul bersama Hamzah juga.
Akmal pulang sekitar pukul tujuh malam. Tepat setelah adzan isya' selesai berkumandang.
"Abu pulang sayang," ucap Cyra kepada baby Zahwa.
Dengan tangan dan kaki mungilnya. Baby Zahwa merangkak sambil menangis mendekati Akmal.
"Abu masih kotor Sayang. Sama Umi dulu ya. Biar Abu mandi sama sholat isya' dulu," Cyra pun langsung menggendong baby Zahwa. Baby Zahwa langsung menangis sejadi-jadinya.
"Ayo kita keluar dulu yuk. Lihat apa ya di luar," Cyra mencoba menenangkan baby Zahwa. Sedangkan Akmal langsung segera mandi dan segera menunaikan ibadah sholat isya'.
Selesai mengerjakan itu semua. Akmal segera keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan dua orang wanita yang sangat berarti baginya.
Biasanya jika Akmal berkumpul dengan ke dua sahabatnya. Dia bisa pulang nanti malam. Sekitar jam sepuluhan. Tapi sekarang? Rasanya dia ingin segera pulang untuk melihat Cyra dan baby Zahwa. Terlebih lagi Hamzah juga merasakan hal yang sama seperti Akmal. Ingin segera melihat Misha dan baby Abbiyya. Sedangkan Abraham juga kasihan, jika Kalila terlalu lama ditinggal pergi olehnya.
Baby Zahwa yang melihat sang abu sedang berjalan ke arahnya. Dia langsung menangis lagi sambil merangkak ke arahnya. Padahal tadi baby Zahwa sudah tenang.
Akmal yang melihat baby Zahwa begitu menggemaskan. Tentu saja langsung segera membawanya ke dalam gendongannya.
"Kamu mau main sama Abu ya Sayang? Hmm! Maafkan Abu ya yang pulangnya telat."
Cyra yang melihat baby Zahwa sudah bersama abunya. Dia lalu ijin ke dalam kamar sebentar. Dan Akmal cuma mengangguk saja. Ketika Cyra sudah berlalu naik tangga menuju ke dalam kamar, Akmal langsung mengajak main baby Zahwa menggantikan Cyra.
Akmal terlihat sekali jika dirinya begitu menyayangi baby Zahwa. Bahkan ketika baby Zahwa terlihat sudah mengantuk. Akmal langsung menidurkannya dengan lembut. Lalu membawanya ke dalam kamar.
Di dalam kamar. Akmal langsung melihat Cyra sedang memakai pakaian tidur super seksi sekali. Hingga membuat jakun Akmal naik turun dibuatnya.
"U-umi kenapa pakai baju seperti itu?" Akmal menjadi tergagap sendiri.
"Memangnya kenapa Abu? 'Kan Aiza sudah tidur. Tidurkan saja dulu di tempat tidurnya," jawab Cyra.
Akmal seperti tersadar. Kakinya yang tadinya terpaku langsung berjalan dengan sendirinya menuju ke arah box baby Zahwa. Setelahnya. Akmal langsung memeluk Cyra dari belakang yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Tadi, kalau ada yang masuk ke sini selain Abu bagaimana Sayang?" Akmal mencium pundak Cyra dengan lembut.
"Siapa yang berani masuk sini Abu?" jawab Cyra.
"Bukankah jam tidur kita masih lama. Kenapa Umi sudah memakai baju seperti ini?" tangan Akmal mulai membelai lembut tubuh Cyra.
"Memangnya kenapa Abu? Umi cuma ingin membahagiakan suami. Lagi pula Umi tahu jika Aiza sudah mengantuk. Jadi ya Umi awali saja," Cyra menahan sesuatu di tubuhnya. Karena Akmal meeremass sesuatu yang sangat sensitif untuknya.
"Apakah Umi sudah selesai?" Akmal bertanya dengan mata yang berkabut gaairah.
Cyra tersenyum sangat manis sekali kepada Akmal melalui pantulan cermin di depannya. Senyuman Cyra sudah menjawab semuanya. Dan tidak pakai lama Akmal langsung menggendong Cyra ke atas ranjang.
Malam itu adalah malam pertama bagi Akmal dan Cyra setelah satu minggu menikah. Sungguh Akmal sangat menikmati sekali surga dunia yang seumur hidupnya baru dia rasakan sekarang bersama seorang wanita.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...