
Menidurkan baby Zahwa sambil bersholawat. Bibir Cyra tanpa sadar terus tersenyum, karena teringat dengan sikap manja Akmal tadi di meja makan.
Begitupun dengan Akmal yang saat ini juga sedang tersenyum sendiri. Sebab bisa semakin dekat dengan Cyra seperti tadi.
Akmal yang teringat jika ada beberapa tugas dan berkas dari para mahasiswanya yang belum dia kerjakan. Akhirnya, dia langsung bergegas menuju ke meja belajarnya.
"Ini bagaimana aku mengoreksinya dan memasukkan semua datanya ke dalam laptop?"
"Sedangkan besok harus aku membagikannya kepada anak-anak?"
Sungguh Akmal sangat kebingungan sekali untuk mengerjakan pekerjaannya itu. Melihat ke arah jam yang menempel rapi di dinding kamarnya. Akmal memikirkan sesuatu.
"Masih jam delapan lebih sedikit. Jika aku meminta bantuan kepada Cyra. Dia mau nggak ya?"
Akmal mencoba berspekulasi sendiri dengan otaknya. Dan untuk lebih meyakinkan pikirannya. Akmal pun ke luar dari dalam kamar dan mengetuk pintu kamar Cyra.
Cyra yang sedang melamun. Lalu tersadar, ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia segera memakai niqabnya lagi untuk membukakan pintu kamarnya.
"Eh Kak Amal. Ada apa ya Kak?"
Akmal sedikit malu meminta bantuan kepada Cyra. Di saat Cyra bertanya kepadanya.
"Emm. Itu?"
"Itu apa Kak? Katakan saja? Siapa tahu Cyra bisa membantu Kakak."
"Maukah kamu membantu Kakak mengoreksi semua tugas dari murid-murid Kakak. Sekaligus memasukkan beberapa data ke dalam laptop?"
"Oh baiklah," jawab Cyra.
"Biar Kakak bawa ke sini saja barang-barangnya."
Cyra yang mendengar langsung mencegah Akmal. Sebab Cyra merasa kasihan dengan Akmal yang pastinya kesusahan dalam mengambil semua berkas-berkas yang akan dikerjakannya.
"Biar Cyra dan Aiza saja yang pergi ke kamar Kakak."
Akmal sedikit tidak percaya dengan ucapan Cyra. "Sungguh?"
"Iya sungguh Kak. Sebentar, Cyra mau menggendong Aiza dulu."
Ucapan Cyra langsung diangguki oleh Akmal. Dan dia memilih berjalan lebih dahulu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Untuk mencegah fitnah dan timbul pembicaraan yang kurang sedap dari semua orang. Karena mereka berdua belum mahram. Akmal sengaja membuka lebar pintu kamarnya ketika Cyra ada di dalam kamarnya seperti saat ini.
Baby Zahwa sudah Cyra tidurkan di atas kursi goyang miliknya. Dan Akmal menggoyangkannya dengan perlahan, supaya baby Zahwa semakin terlelap di dalam tidurnya.
"Mana Kak? Yang harus Cyra bantu?"
Cyra bertanya sambil ikut duduk di sofa sebelah Akmal.
"Ini sama yang itu." Ucap Akmal sambil menunjuk berkas yang ada di depannya dan di depan Cyra.
"Oh. Baiklah," jawab Cyra.
"Yang ini harus diapakan Kak?"
Cyra bertanya lagi sambil mengambil berkas yang ada di hadapannya.
"Itu ada data-data yang harus Kakak masukkan ke dalam laptop. Itu laptopnya kamu buka dulu."
Cyra langsung membuka laptop yang ada di hadapannya, yang ternyata ada password-nya. "Ini password-nya apa Kak?"
"Nama kamu."
Cyra sangat terkejut sekali mendengar jawabannya Akmal. "Kakak jangan bercanda!"
"Untuk apa Kakak bercanda denganmu, Cyra. Kakak memang sudah memakai password itu sejak namamu tersimpan rapi di dalam hati Kakak."
Cyra terpaku dengan jawabannya Akmal. Yang terlihat sekali, jika Akmal sedang tidak bercanda dengannya.
"Ketik saja CyraAdeevaAkmal."
"Hah!"
"Kenapa?"
Akmal bertanya? Karena Cyra terlihat sangat terkejut sekali dengan password laptopnya.
"Emm. Tidak apa-apa,"
Cyra langsung memencet password laptopnya seperti yang tadi sudah dikasih tahu oleh Akmal. Nama sang ayah di belakangnya dirubah dengan nama Akmal. Yang seharusnya Cyra Adeeva Rasyid. Menjadi Cyra Adeeva Akmal.
Cyra langsung mengangguk mengerti. Dan benar saja laptop itu langsung terbuka dan menampilkan fotonya yang sengaja Akmal ambil secara candid. "Ini? Foto?"
"Iya. Kakak mengambilnya secara diam-diam dulu waktu kamu masih kuliah."
Sungguh Cyra sangat terkejut mengetahui kenyataan itu.
"Sekarang tanpa bersembunyi sembunyi lagi. Kakak bisa memintanya langsung kepada yang bersangkutan."
Ucapan Akmal sukses membuat Cyra tersadar dari rasa keterkejutannya.
"Oh ya. Mulai dari mana nih Kak data-data yang harus Cyra masukkan ke dalam laptop?"
Cyra sengaja mengalihkan pembicaraan. Karena dia tidak mau terlarut dalam keadaan yang bisa membuat dinding pertahanannya runtuh.
Akmal langsung mengarahkan Cyra untuk membuka file yang sudah disimpannya di dalam laptop. Setelahnya, Akmal langsung mendikte Cyra untuk mengetikkan data-data itu semua ke dalam laptopnya.
Tidak terlalu banyak data-data yang harus Cyra masukkan ke dalam laptop. Yang banyak itu mengoreksi manual tugas semua para mahasiswa atau mahasiswinya Akmal.
"Cyra jadi teringat dengan tugas Cyra dulu dari Kakak."
Akmal sedikit bingung dan penasaran apa maksud ucapan Cyra. "Maksudnya bagaimana ya Cyra?"
"Dulu Cyra sering mendapatkan nilai bagus di mata kuliah Kakak. Itu murni karena Cyra pintar, atau Kakak yang sengaja memberikan nilai bagus untuk Cyra?"
Akmal tersenyum mendengar pertanyaannya Cyra. Dan dia lalu memberikan penjelasan akan semua nilai bagus yang didapat oleh Cyra darinya.
"Semua nilai itu murni dari kepintaranmu sendiri Cyra."
"Kamu mengerjakan sesuai dengan apa yang Kakak inginkan. Bahkan kamu bisa menjabarkan arti sebuah hadist, ayat sama hal-hal yang bersangkutan dengan itu semua dengan detail." jelas Akmal lagi.
"Teman kamu yang lainnya ada. Tapi tidak sedetail sepertimu."
Cyra mendengarkan dengan sangat serius sekali jawabannya Akmal. Dan sekarang dia tidak bertanda tanya lagi tentang semua nilai bagus yang Akmal berikan kepadanya.
Karena Cyra sempat berpikir. Jika Akmal memberikannya nilai bagus, karena dia ada rasa dengannya. Tapi sekarang, pemikiran buruk itu sudah tidak ada lagi di otaknya.
Cyra hanya mengangguk-angguk saja setelahnya. Lalu dia melanjutkan lagi pekerjaannya membantu Akmal, hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih.
"Akhirnya selesai," senyum Cyra mengembang sambil meluruskan tulang punggungnya yang terasa capek sekali.
"Capek ya?"
Cyra langsung mengangguk kepada Akmal. "Tapi Cyra suka Kak. Berasa seperti menjadi seorang dosen," Cyra menjawab sambil tersenyum.
"Terimakasih ya Cyra. Karena sudah membantu Kakak malam ini," Akmal tersenyum sangat manis sekali.
"Sama-sama," jawab Cyra sambil tersenyum juga dari balik niqabnya.
"Besok Cyra ikut sama Kakak ke kampus ya?"
"Besok? Mau apa Cyra?"
Sambil mengambil baby Zahwa dari kursi goyangnya. Cyra lalu menjawab. "Untuk membantu Kakak mengajar. Karena Cyra yakin, jika Kakak pasti akan kerepotan dalam mengajar. Karena tangan Kakak masih seperti itu."
Akmal mengangguk pelan. "Baiklah. Sekalian nanti Hamzah mau ke kampus juga katanya."
"Kak Hamzah mau ke kampus Kak? Mau apa?" Cyra sedikit terkejut mendengarnya.
"Untuk melaporkan bu Aish kepada pihak kampus."
Cyra semakin terkejut dan ketakutan mendengar jawabannya Akmal.
"Ta-tapi Kak?"
Akmal tahu jika Cyra ketakutan dan terkejut mendengar jawabannya. "Tenang saja Cyra. Tidak akan terjadi apa-apa. Ada Kakak yang akan selalu melindungimu."
"Sudah malam. Tidurlah. Kasihan anak kita Umi, tidak nyenyak daritadi tidurnya."
Godaan dari Akmal membuat dada Cyra berdesir aneh dan pipinya langsung terasa panas. Sedangkan Akmal tersenyum sangat super manis sekali sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Cyra langsung permisi pergi menuju ke dalam kamarnya sendiri. Sambil menutupi rasa malu dan juga groginya.
Ada rasa yang tidak bisa Cyra jelaskan. Tapi Cyra selalu mengelak dan menolak. Karena dia takut jika itu akan terlalu cepat bagi dirinya untuk melupakan Mirza yang baru beberapa minggu lalu meninggal dunia.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...