IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KEBAHAGIAAN AKMAL


Dokter kandungan yang ada di klinik tersebut ternyata seorang laki-laki. Hal itu tentu saja langsung ditolak oleh Akmal. Berapapun biaya yang akan dia keluarkan. Akmal ingin yang menangani Cyra adalah seorang dokter perempuan.


"Jika ingin yang perempuan. Di sini adanya seorang bidan, Pak?" ucap sang dokter kandungan.


"Iya tidak apa-apa. Tolong panggilkan bidan itu sekarang juga untuk segera datang ke sini. Jika tidak bisa! Saya bisa mencari klinik yang lain!" Akmal sedikit emosi karena lambatnya penanganan.


"Baik Pak. Mohon tunggu sebentar," jawab sang dokter.


Akmal hanya mengangguk saja. Setelah itu sang dokter pun berlalu pergi dari ruang perawatan Cyra untuk memanggilkan sang bidan yang bersangkutan.


Baru saja sang dokter kandungan keluar dari dalam ruang perawatan Cyra. Tiba-tiba Cyra memperlihatkan pergerakan akan sadar dari pingsannya. Akmal yang melihat langsung menunjukkan wajah lega dan senang secara bersamaan.


"Umi sudah sadar. Alhamdulillah," ucap Akmal.


Cyra memegangi kepalanya. "Kepala Umi pusing sekali Abu. Kita ada di mana sekarang? Ko seperti ada di rumah sakit?" Cyra menetralkan penglihatannya.


"Kita ada di klinik Umi. Tadi Umi pingsan di rumah."


Belum sempat Cyra bertanya lagi. Masuklah seorang bidan yang sudah Akmal tunggu-tunggu sejak tadi.


"Permisi Pak Akmal. Boleh saya periksa istri Anda?" ucap sang Bidan.


Akmal mengangguk mempersilahkan. "Silahkan Bu Bidan."


Bidan tersebut lalu memeriksa keadaannya Cyra. Dia mengecek perut dan mengecek sudah usia berapa kandungannya Cyra.


"Bisakah Anda membantu istri Anda untuk ikut ke ruangan saya, Pak?" ucap sang Bidan.


"Saya mau mengUSG perut istri Anda."


Akmal mengangguk. "Baik Bu."


Walau Cyra sedikit bingung. Namun dirinya tetap menurut ketika Akmal membantunya berjalan menuju ke ruangan sang bidan yang tidak jauh dari ruang pemeriksaannya tadi.


Sesampainya di ruang sang bidan. Cyra langsung disuruh untuk merebahkan badannya di ranjang pasien yang tersedia di situ. Sang bidan yang dibantu oleh asistennya, langsung memberikan gel di perut Cyra untuk memeriksa kandungannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Abu? Kenapa Umi harus di USG segala? Apakah Umi sedang hamil sekarang?" Cyra benar-benar kebingungan.


"Iya Ibu. Anda saat ini memang sedang hamil. Lihatlah di layar ini," sang bidan menunjuk layar monitor di depannya.


Akmal dan Cyra langsung mengalihkan pandangannya ke layar monitor yang tersedia di ruangan itu.


"Ini adalah janin Anda, Nyonya. Saya perkirakan usia kandungannya anda sudah memasuki dua bulan," sang bidan menunjukkan gambar baby kepada Akmal dan Cyra.


Cyra masih syok dan terkejut. Tapi tidak dengan Akmal. Dirinya terlihat tersenyum sumringah daritadi.


Setelah selesai pengecekan semuanya. Dari lingkar perut, panjang janin dan lain-lainnya. Saat ini Cyra dan Akmal sedang duduk di kursi depan meja kerja sang bidan.


"Bu Bidan! Jadi saya benar-benar hamil sekarang? Tapi saya masih punya bayi yang belum berumur genap satu tahun. Bagaimana itu Bu Bidan?" tanya Cyra.


"Jadi Nyonya masih menyusui ya?"


Cyra langsung menganggukkan kepalanya. "Nanti jika Anda sudah tidak kuat untuk menyusui lagi. Anda bisa menyapihnya sejak awal Nyonya," terang sang bidan.


"Karena terkadang ada kondisi, di mana sang mama ketika meenyusui sang kakak, perutnya akan sedikit mengalami kontraksi. Dan hal itu sangat riskan untuk janin yang ada di dalam perut Anda, Nyonya."


Cyra mengangguk mengerti. "Tapi kenapa saya tidak merasakan gejala-gejala seperti orang hamil ya Bu?" tanya Cyra.


"Mungkin suami Anda, Nyonya yang mengalaminya. Dan hal itu bisa disebut dengan kehamilan simpatik."


"Apa gejalanya seperti mual, pusing, naafsu makan berkurang. Hanya ingin makan tertentu saja Bu Bidan?" tanya Akmal.


Sang Bidan pun mengangguk. "Benar sekali Pak. Itu hal wajar. Dan artinya Anda begitu mencintai istri Anda. Hingga tanpa sadar terjalin kontak batin yang kuat di dalam diri Anda untuk sang calon buah hati Anda."


"Iya! Saya memang mengalami gejala seperti itu sejak kemarin Bu. Dan saya pikir gejala yang saya rasakan, karena faktor kecapekan atau tubuh yang tidak fit," ucap Akmal.


Bu Bidan pun tersenyum. Sedangkan Cyra sedang mencerna ucapan Akmal.


"Anda tenang saja Pak. Selagi Anda bisa menjaga pola makan yang teratur dan hidup sehat. Saya pastikan Anda tidak akan sampai drop kondisinya."


"Dan Anda juga harus memantau pola makan untuk istri Anda. Supaya janin yang ada di dalam kandungannya bisa tumbuh berkembang dengan baik," ucap sang bidan lagi.


"Lalu, apakah ada pantangan makanan dan minuman untuk istri saya Bu Bidan?" tanya Akmal.


Karena ini pengalaman pertama kali untuk Akmal. Tentu saja Akmal akan sangat berhati-hati sekali dalam menjaga Cyra dan calon buah hatinya.


Bidan tersebut lalu menjelaskan kepada Akmal dan Cyra apa saja makanan dan minuman yang baik di konsumsi dan tidak untuk ibu hamil.


Setelah mendapatkan penjelasan dari sang Bidan. Bahkan tadi Akmal sedikit malu-malu, ketika bertanya apakah boleh melakukan hubungan suami istri, di saat sang istri sedang hamil muda. Akhirnya sesi tanya jawab yang mereka lakukan selesai juga.


Obat penambah darah, vitamin dan penunjang kehamilan sudah ditangan Akmal dan Cyra. Membuat Cyra dan Akmal langsung bergegas pergi dari klinik tersebut.


Tiba-tiba Akmal mendengar ponselnya berdering, ketika dirinya dan Cyra sedang berjalan menuju ke parkiran mobil. Sambungan telepon itu ternyata dari sang ayah yang merasa khawatir mendapatkan kabar dari sang bibi jika Cyra sedang pingsan.


"Halo Ayah. Assalamu'alaikum."


Ayah Rafiq segera menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Mal. Kamu ada di mana sekarang sama Cyra? Bagaimana keadaan Cyra saat ini?"


"Cyra baik-baik saja ko Ayah. Kami akan segera pulang ke rumah," jawab Akmal.


"Baiklah. Ayah tunggu di rumah sekarang!"


Akmal tidak banyak bertanya. "Iya baiklah. Kalau begitu Akmal tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum Ayah."


Ayah Rafiq diseberang sana langsung menjawabnya. Dan lalu mematikan sambungan teleponnya.


Akmal dan Cyra yang sudah sampai di samping mobil mereka. Lalu Akmal membukakan pintunya untuk Cyra. Cyra benar-benar terlihat lemas sekali. Dirinya yang sudah duduk di dalam mobil langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang didudukinya.


Sedangkan Akmal sekarang terlihat segar tubuhnya. Dan dirinya sudah tidak sabar ingin mengatakan kabar gembira ini kepada semua keluarganya. Rasa eneg dan mual yang Akmal rasakan seakan sirna terbang entah ke mana karena kabar bahagia tersebut.


Mobil yang Akmal kendarai akhirnya sampai juga di rumah mewahnya. Baru saja masuk ke halaman rumah. Akmal dan Cyra melihat ada mobil ke dua orang tuanya dan mobil ke dua mertuanya.


Tadi, ketika Akmal sedang membawa Cyra ke klinik. Bi Sukma langsung mengabarkan keadaan Cyra kepada ayah Rafiq, mama Jian, umma Nada dan abi Rasyid. Dan di sinilah mereka semua. Sudah menunggu kedatangan Akmal dan Cyra dengan sangat khawatir sekali.


"Kalian ada di sini?" ucap Cyra kepada ke dua mertua dan ke dua orang tuanya.


"Umma dan abi langsung ke sini ketika ditelepon bibi. Jika kamu sedang pingsan, Nak," jawab umma Nada.


"Ayo sini kamu duduk dulu. Dan jelaskan kepada kami. Kamu sakit apa?" ucap abi Rasyid.


Saat ini Akmal, Cyra, abi Rasyid, umma Nada, mama Jian dan ayah Rafiq, sedang duduk bersama di ruang keluarga untuk mendengarkan penjelasan dari Akmal tentang keadaannya Cyra.


Bukannya segera menjelaskan kepada para orang tua. Akmal malah terlihat senyum-senyum sendiri daritadi. Dan hal itu membuat para orang tua menjadi gemas sendiri. Sedang Cyra hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Akmal yang seperti itu saat ini.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...