
"Aish maharani?"
Akmal merasa curiga. Dan langsung mencoba menghubungi karyawan butik untuk meminta cek cctv yang ada di depan butik.
Sedang Cyra, Hamzah dan juga Misha. Masih diam saja sambil mendengarkan Akmal yang sedang berbicara.
"Saya tunggu secepatnya," Akmal langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana?" Hamzah merasa penasaran.
"Sedang di cek sama anak-anak. Tadi mereka katanya juga mau menolongku, tapi sudah keburu kamu bawa ke rumah sakit," Hamzah cuma mengangguk saja.
Sebenarnya para karyawan butik juga melihat insiden Akmal yang menyelamatkan Cyra. Hanya saja mereka sedikit terlambat, karena Hamzah sudah lebih dahulu membantu Akmal.
Sedang berbincang. Tiba-tiba ponsel Hamzah bergetar, karena ada pesan masuk. Setelah di cek oleh Hamzah, itu dari temannya yang mengirimkan foto pemilik mobil yang tadi mau menabrak Cyra.
"Nah! Ini Akmal. Apakah kamu mengenal wanita ini?" Hamzah menyerahkan ponselnya kepada Akmal.
Akmal langsung melihat apa yang ada di dalam ponsel Hamzah. Yang menunjukkan foto seorang perempuan dan juga data-datanya.
"Bu Aish?"
Akmal sangat terkejut sekali. Hamzah yang melihat semakin yakin jika Akmal mengenalnya.
"Kamu mengenalnya, Akmal?"
Sambil menetralkan perasaan terkejutnya. Akmal lalu menjawab. "Iya. Aku mengenalnya."
"Dia salah satu Dosen di kampus tempatku mengajar," ucap Akmal.
"Tapi. Kenapa Bu Aish tega mau menabrak Cyra, Kak?"
"Apa ini ada kaitannya tentang tadi di kampus?" ucap Cyra lagi.
"Bisa jadi. Tapi kita tidak bisa bersu'udzon dulu kepadanya. Cyra," jawab Akmal.
"Memangnya? Ada kejadian apa di kampus tadi?".
Akmal langsung menceritakan kepada Hamzah. Tentang bu Aish yang sudah menyukainya sejak lama. Dan sering tebar pesona kepadanya supaya dirinya bisa tertarik dengannya.
"Jadi? Di kampus tadi. Cyra sudah diomelin sama nenek buyut!"
Misha terlihat sangat marah sekali. Dan Akmal langsung mengangguk membenarkan.
"Kurang gaji sekali tuh dia!" sarkas Misha untuk Aish.
"Kamu bicara apa sih Misha?" Cyra menegur sang sahabat.
"Habisnya aku kesel!" dengan muka cemberut, Misha menjawabnya.
"Kamu tenang saja Cyra. Semua itu bisa terjawab nanti. Jika anak buah temanku sudah menangkapnya," Cyra benar-benar terkejut mendengar ucapan Hamzah.
"Menangkap! Kak Hamzah apa melaporkan Bu Aish ke polisi?" Hamzah mengangguk membenarkannya.
"Ke-kenapa harus ke polisi segala Kak? Ini kan bisa dibicarakan baik-baik," Hamzah tidak setuju dengan ucapan Cyra.
"Teman Kakak itu seorang anggota polisi, Cyra. Dan ketika Kakak meneleponnya tadi. Dia langsung mengusut tuntas masalah ini,"
Cyra sangat takut berurusan dengan polisi. Akmal yang melihat. Langsung mencoba menenangkan Cyra yang terlihat semakin syok.
"Tenang Cyra. Semuanya akan baik-baik saja. Yuk kita pulang. Kakak sudah capek sekali," Cyra mengangguk pasrah kepada Akmal.
"Mau aku antar kalian pulang?" Hamzah menawarkan diri.
"Tidak perlu Kak. Cyra bisa bawa mobilnya sendiri," Cyra menolak dengan sopan.
"Baiklah. Kalian hati-hati ya di jalan," ucap Hamzah.
"Kakak juga sama Misha," jawab Cyra.
"Ayo kita ke luar dari sini,"
Misha dan yang lainnya langsung ke luar dari dalam ruang UGD tersebut.
Sedang berjalan beriringan berempat. Tiba-tiba ponsel Akmal bergetar karena ada sebuah pesan masuk, yang ternyata dari salah satu karyawan butik milik sang Kakak.
"Hamzah. Ini anak-anak sudah mengirimkan rekaman cctvnya." Akmal melihat rekaman CCTV yang ada di ponselnya. Lalu memberikannya kepada Hamzah.
"Kirimkan ke ponselku sekarang juga," ucap Hamzah.
Segera Akmal langsung mengirimkan hasil rekaman cctv itu ke ponsel Hamzah.
"Ini sudah bisa dijadikan bukti tambahan," sambung Hamzah sekali lagi.
"Tolong selesaikan masalah ini ya Hamzah,"
Hamzah mengangguk setuju. "Kamu tenang saja Akmal. Kamu itu temanku. Aku akan selalu membantumu jika kamu sedang dalam kesusahan seperti ini," Hamzah menepuk lengan Akmal yang tidak sakit.
"Terimakasih teman," Hamzah tersenyum manis.
"Sudah yuk. Kita masuk ke dalam mobil. Panas sekali cuacanya? Kasihan baby Zahwa sudah kepanasan itu," semuanya mengangguk setuju. Dan mereka lalu berpisah masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Setelah itu. Mereka berempat berpisah tujuan.
Walau tangan kanannya sedang terluka dan diperban begitu. Tapi Akmal masih bisa menggendong baby Zahwa di pangkuannya menggunakan tangan kirinya.
"Hati-hati Cyra."
Cyra hanya mengangguk saja dan fokus dengan jalan di depannya. Tiba-tiba Cyra mengucapkan sesuatu kepada Akmal.
"Kak Akmal. Terimakasih sudah menyelamatkan Cyra tadi," Cyra menjeda sejenak ucapannya. "Kalau Kakak tidak ada, pasti ..."
"Tidak apa-apa. Ini sakitnya tidak seberapa. Lebih baik Kakak yang terluka. Daripada kamu atau Aiza. Karena itu sakitnya akan dua kali lipat lebih sakit yang Kakak rasakan," Akmal tersenyum super manis sekali.
Akmal tahu. Jika Cyra sedang membalas senyumannya di balik niqabnya. Karena mata Cyra terlihat sipit walau sedikit.
Cyra yang melihat sebuah apotek. Dia langsung meminggirkan mobilnya sejenak.
"Kenapa berhenti Cyra?"
"Cyra mau membeli obat untuk Kakak. Tunggu sebentar ya. Dan titip Aiza." ucap Cyra sambil membuka pintu mobilnya. Setelahnya dia langsung masuk ke dalam apotek untuk membeli sesuatu yang dia butuhkan.
Tidak lama. Sekitar beberapa menit kemudian. Cyra sudah kembali sambil membawa kantong kresek kecil yang berisi obat-obatan.
"Itu vitamin untuk Kakak dan ada lagi nanti dibaca saja." Cyra menaruhnya di kursi belakang. Karena tangan Akmal tidak bisa menerimanya.
"Terimakasih,"
Cyra mengangguk, lalu menjalankan mobilnya lagi menuju ke rumah Ayah Rafiq.
Sesampainya di rumah Ayah Rafiq. Mama Jian yang sedang duduk santai di ruang Keluarga sangat terkejut sekali melihat Akmal pulang dalam keadaan tangan di sangga seperti itu.
"Astaghfirullah. Kamu kenapa Akmal?"
Sebelum menjawab Akmal memilih duduk terlebih dahulu di sofa seberang sang Mama.
"Tadi. Kak Akmal sudah menyelamatkan Cyra, Ma," bukan Akmal yang menjawab. Melainkan Cyra.
"Astaghfirullah. Tapi kamu sendiri sama cucu Mama tidak kenapa-kenapa 'kan Cyra?"
Cyra menggelengkan kepalanya kepada sang Mama. "Alhamdulillah, Ma."
"Tadi sudah dibawa ke rumah sakit 'kan?"
Akmal menganggukkan kepalanya. "Sudah Mama."
"Panggilkan tukang pijat saja Ma."
"Baiklah. Akan Mama panggilkan tukang pijat ke sini."
"Cyra pamit ke dalam kamar sebentar ya Ma, Kak."
Akmal mengangguk begitupula dengan Mama Jian.
Baru beberapa langkah berjalan. Cyra mendengar perkataan Akmal kepada Mama Jian yang langsung menghentikan langkah kakinya.
"Ma. Boleh Akmal meminta tolong?"
"Mau minta tolong apa Kak? Biar Cyra saja yang bantuin." Cyra berbalik badan lalu mendekat ke arah Akmal.
"Biar Mama saja Cyra."
"Biar Cyra saja Kak. Kasihan Mama sudah tua, nanti Mama bisa kecapekan."
Cyra sengaja berbicara seperti itu. Karena dia merasa tidak enak dan memang harus membantu Akmal yang pastinya sedikit kesusahan dalam melakukan aktifitas.
Sebab. Apa yang dialami Akmal sekarang. Itu karena dia sudah berkorban untuk menyelamatkannya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...