
"Tolong lepaskan aku, jangan menyentuhku! Jangan!" Angela bergeser dari pintu, dia menggeleng berulang kali bahkan lari untuk mengambil gunting di atas nakas.
"Jangan takut sayang, ayo... kita sudah menikah, jangan malu, aku kan sudah menyentuhnya tadi."
"Tidak! Dasar tua bangka tidak tahu malu!"
Geram menimbulkan urat-urat kecil di wajah Danton, dia berjalan maju membuat langkah kaki Angela terhenti saat punggung rampingnya membentur tembok.
"Jangan-"Hiks... Angela menangis saat Danton berhasil mengunci pergerakannya, gunting itu terlepas dari tangannya.
Lalu Danton menarik paksa gadis itu ke atas ranjang, melucuti pakaiannya dengan cepat, lalu membalikkan tubuh polos Angela, tiarap.
Pria tua itu sangat menegang, dengan tak sabarnya ia merusak segel Angel dalam satu kali dorongan kuat, membuat gadis itu memekik kesakitan.
Berulang kali Danton menyergahnya dalam posisi Angela tiarap, sakit tak terkira, darah segar menetes dari bagian V miliknya.
Kulit tubuhnya memerah biru akibat ciuman dan gigitan, setelah berhasil menggawangi nya barulah Danton membalikan tubuh Angela.
Mengangkat kakinya dan mendorong masuk sekaligus, "Aaaaaa!!!" teriak Angela, "Sakit!" tangannya meremas kuat pada seprai hingga Kumal.
Danton pria tua, namun gairah sx nya tak kalah dari anak muda.
"Setiap waktu kita akan terus melakukannya sayangku, sampai tubuhmu terbiasa dengan kepemilikan ku ... bagaimana sekarang rasanya, sayang?"
"Aku membencimu, Akh!"
Danton tak peduli, dia senang menyergah bagian terlembut Angela dengan kekuatan penuh.
Entah berapa lama waktu berlalu, setiap waktu setiap jam, hari berganti malam selama 5 tahun mereka terus melakukannya.
Hingga suatu haru Danton menginginkan seorang anak yang lahir dari rahim Angela sebagai penerusnya.
Namun, satu hal yang pasti, Danton masih tetap menginginkan tubuh Alka.
Flashback End...
☘️☘️☘️
Dante terlihat sedang duduk di sofa, Mark berdiri tegap di belakangnya. Duduk berhadapan dengan Daniel—ayah kandung Alka.
"Siapa anda?"
"Mark?" seru Dante lalu mengepalkan tangannya ke udara, "Jangan dengarkan dia, aku Dante Barrack ... atau, kau bisa memanggilku menantu!"
Angela yang mendengarnya dari balik dinding itu pun terkesiap kaget, "Me- menantu? Apakah itu artinya dia adalah suami si kakak sialan itu?"
"Apa maksudmu?" tukas papa dengan bingung, keningnya berkerut.
"Alka adalah istriku, dan ibu dari calon dua anakku..."
Papa terlihat kesal menahan emosi, "Kau kah pria yang dia pilih untuk menjadi suaminya? Gara-gara dirimu -"
Dante beranjak dari duduknya, tubuh kekar berototnya membuat Angela menelan dari kejauhan, mulai berandai.
"Dante Barrack! Atau ... William Barrack, Raja dari Inggris!"
"Hah?!" sejuta panah menghunus jantung Daniel, jantungnya terasa sakit.
"Siapapun yang berani mengusik istriku, bersiaplah untuk mati!"
Deg!
Bola mata Daniel membulat sempurna, entah mengapa kedua kakinya mendadak gemetaran.
"Pembohong! Kau pembual, tidak ada raja di Inggris -"
"Jaga bicara anda, tuan Daniel!" tegas Mark tak terima, "Kami datang ke California untuk tugas kenegaraan, dan kami memiliki banyak koneksi dengan presiden, itu artinya ... dalam sekejap mata, nyawa anda bisa melayang, tuan!"
"Kita pergi, tidak ada gunanya berbicara pada sampah!" tegas Dante.
Begitu keduanya melangkah,
"Hak!" Daniel meronta kesakitan, memegangi bagian dada, dia shock membuat syaraf nya tak bekerja dengan baik.
Lihat itu, bibirnya sudah tak sempurna lagi, dia struk.
"Tuan?" Mark merasa kasihan, tapi bukan Dante namanya yang bisa iba begitu saja.
"Mati, itu lebih baik dari pada hidup untuk menyusahkan permaisuri ku!"