
"Kenapa mama diam? Jawab ma!" pinta Vanessa, dia mengguncang pelan kedua bahu sang mama.
Mama duduk, diam termenung seraya mengusap kedua matanya yang mulai basah.
"Kakek mu adalah pria yang bernama Danton, dan nenekmu adalah istri pertamanya yang kemudian lahirlah mama... Mereka berpisah karena kakek mu sangat suka bermain perempuan, setelah bercerai nenek mu membawa mama pergi ke Inggris -"
"Dan, mama tidak menceritakan itu padaku? Apakah mama tahu? Wanita yang bernama Alka itu yang menjadi istri dari William ... dia adalah wanita yang hampir di nikahi oleh kakek!"
Bola mata mama membelalak sempurna, "Apa?"
"Mama tahu apa akibatnya? Keluarga kerajaan mengusirku tanpa hormat, mereka tidak mengizinkan ku lagi untuk masuk ke istana."
Vanessa terduduk lesu dia menangis.
"Mereka mengusir putriku?" papa geram dan tak terima, dan langsung beranjak keluar rumah masuk ke mobil.
"Suamiku hentikan, jangan seperti ini... mereka pasti punya alasan yang kuat -"
"Tapi tidak dengan cara seperti itu!" bentak papa, "Apa salahnya memiliki silsilah keluarga dengan papamu? Apakah Tuhan akan mengutuk hal itu? Putriku tidak ada hubungannya dengan hal ini."
Papa marah, dia mempercepat laju mobilnya.
Mama mulai panik, dan meminta Vanessa untuk segera menyusulnya, "Sayang mama mohon, hentikan papamu... jangan berdiam diri saja. Ayo kita segera susul papa. Dia tak boleh bertindak dalam keadaan marah."
***
Pacuan kuda istana...
El semakin lihai menunggangi kuda, jika tadi ada Mark di belakangnya, maka kini dia menunggangi kuda hitam besar itu sendirian.
Di seberang sana, Dante menuntun kuda putih besar yang sedang di tunggangi oleh Alka.
"Sayang, aku takut..."
Dante tersenyum, "Tidak apa-apa, kuda ini sangat jinak... dia bahkan tak berani menatapmu selama ada aku."
Pengawal dan dayang masih setia mengikuti dari belakang, Dante yang sedang asyik menuntun kuda siapa yang mengira jika ada seekor kalajengking yang menyelinap dan menggigit kaki kuda itu.
Membuat kuda itu merespon dan mengangkat kedua kakinya, mendendangkannya di udara dengan suara khas yang mengejutkan semua.
"Alka!"
"Emh!" dia memeluk Dante dengan erat, beruntung tidak ada luka, namun shock nya cukup membuat ia takut.
"Kenapa kalian diam, cepat periksa!" pekik Dante menatap tajam pada yang lainnya.
"Ba- baik yang mulia."
"Alka lihat aku sayang, lihat aku... hei..." Dante menepuk pelan pipi Alka, kedua matanya terpejam, napasnya tak beraturan, "Lihat aku sayang..."
"Aku takut...." ucap Alka dengan lirih.
"Semuanya akan baik-baik saja, jangan takut lagi... kendalikan rasa takut mu Alka, kau sedang hamil. Itu tidak baik untuk anak kita..."
Setelah kuda itu di periksa, "Yang Mulia kami menemukan kalajengking menggigit kaki kuda ini," seorang pengawal memegang binatang kecil yang sudah mati itu.
"Bawa kuda ke kandangnya dan segera panggil dokter hewan."
***
Alka dan Dante sudah berada di kamar utama, berbaring berpelukan, Alka tahu apa yang di inginkan Dante yaitu tubuhnya.
Cup!
Ciuman lembut Dante mendarat di kening dan bibir Alka.
Wajahnya bersemu merah.
"Wajahmu merah, kenapa? Kau malu? Kita sudah sering melakukannya..." iya benar, bahkan sampai di kolam renang, ( ˶ ❛ ꁞ ❛ ˶ )
Alka tak bisa menolah hasrat seorang Dante, bagaimana pun juga dia menginginkannya.
"Sssshhh..." desah Alka saat Dante membelai lembut kelembutan yang tertutup rambut-rambut halus kriting.
Noted :
Cuaca mendung, scane panas dinginnya aku lanjut nanti, ya (ʃƪ^3^)