HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Menyerahkan Diri


Vanessa dan mama baru saja tiba di istana, "Maaf nona Vanessa, ibu suri mengeluarkan perintah agar tidak mengizinkan keluarga Danton masuk."


"Bicara apa kalian? Papa ku ada di dalam, biarkan aku masuk."


"Biarkan saja dia," semua menoleh ke sumber suara, Dante.


"Yang mulia," para penjaga mengangguk hormat pada raja, "Nona Vanessa memaksa masuk -"


"Biarkan saja, Dave antar dia."


Lalu bersuara lirih, "Sisanya terserah padamu, aku tak peduli lagi dengannya."


Dave mengangguk hormat saat Dante berlalu pergi yang di ikuti beberapa pengawal istana, "Masuklah nona Vanessa."


"Menyingkirlah, kalian masih bisa mendengar, kan?" tandas mama Vanessa kepada para penjaga itu.


***


Penjara bawah tanah, dingin dan menusuk tulang belulang.


Mama, Vanessa dan Dave berada di balik jeruji, mama menangis melihat kondisi suaminya.


"Dave, lepaskan papaku..."


"Ada harga!" Dave menyeringai menatap tubuh Vanessa layaknya seorang pria berhasrat.


"Dave, jangan lancang -"


"Suamiku... hiks..." mama menangis tersedu-sedu.


Kedua tangan Vanessa terkepal erat, dia menghirup udara lalu menghembuskan dengan sedikit kasar, "Baiklah. Sekarang, bebaskan papa."


"Mudah!" Dave menoleh kearah penjaga, "Lepaskan tawanan."


"Tetapi tuan Dave -"


"Lepaskan!"


"Ba- baiklah..."


Setelah memastikan mama dan papanya keluar, meskipun mama sempat bertahan karena tak ingin jika Vanessa kembali terlibat dengan keluarga kerajaan. Tetapi Vanessa berhasil meyakinkan sang mama.


***


Kini, Vanessa dan Dave berada di dalam kamar mewah, inilah tempat istirahat Dave si pria yang tak kalah agresifnya dari Dante.


Bruk!


"Emh!"


Vanessa mengernyit saat Dave mendorongnya hingga terbaring di atas ranjang, kini Dave benar-benar mengurungnya. Di dalam otaknya hanya ada nafsu. Dia memandang Vanessa bukanlah gadis yang dulu menjadi kekasih hati tuan mudanya.


"Kau takut?" tangan Dave mulai merogoh masuk menarik cd biru Vanessa, dress yang ia pakai begit menguntungkan Dave.


"A- aku.. "


Telunjuk Dave menerobos masuk membuat Vanessa kesakitan, "Aaaa! Emh!" sakit sekali, Dave menarik tangannya dan melihat darah segar yang menempel.


"Kau masih suci? Aku sangat tidak sabar ingin mengoyak dan merusaknya!"


Srak!


Vanessa memejam kan kedua matanya dengan erat, wajahnya sangat merah, kini tubuhnya sudah telanjang, tanpa sehelai benangpun, begitu pun juga dengan Dave.


Kedua kaki Vanessa sudah terbuka lebar selebar pinggulnya, mengangkatnya sedikit keatas, membuat Vanessa mengernyit kesakitan. Di bawah sana masih perih akibat tangan liar Dave tadi.


Jleb!


"Aaaaarrrgggghhh!!!" air mata Vanessa menetes begitu saja, sakit sekali, sakit yang tak pernah ia rasa.


"Aku benar-benar tak menyangka kau masih suci, apakah kau melakukan operasi untuk mengelabui ku?"


"Sakit..." kedua matanya terpejam erat bersamaan dengan cengkeraman tangannya pada seprai.


Dave kembali menyergahnya nya karena belum berhasil menembus dinding terlembut seorang wanita. Berulang kali Dave menyergah nya dengan sekuat mungkin membuat Vanessa memekik kesakitan, dia berteriak demi mengurangi rasa sakitnya. Untung saja kamar ini kedap suara.


Dan Dave bisa memperk🧐Sanya berulang kali, kapan pun ia mau.


Hentakan terakhir berhasil menyatukan kedua tubuh itu, Dave pun langsung mendudukkan tubuh Vanessa di atas pangkuannya. Banyangkan saja rasa sakitnya seperti apa, Dave yang baru saja berhasil mengoyak kelembutan gadis itu, kini memaksanya berada dalam posisi seperti ini.


"Sakit..." Vanessa menangis, dia mencengkeram kuat pundak Dave yang kekar putih, namun Dave tak peduli.


Berjam-jam Dave menggagahinya, hingga akhirnya selesai juga pergumulan panas mereka, luka dan mengalami pendarahan, Vanessa pingsan.


Noted :


Adegan 21+ bijaklah dalam berkomentar, 😂