
Satu Minggu pasca di rawatnya Alka, kini dokter sudah memperbolehkannya pulang, dan tentu saja mereka akan langsung pulang ke istana.
"Sayang, ini bukan jalan menuju rumah... kita mau ke mana?"
"Pulang ke istana."
"Lalu, El?"
"Seperti yang sudah Mama katakan, El akan menetap di istana dan mendapatkan pendidikan layaknya putra bangsawan."
Alka terdiam sejenak menunduk, "Tidak bisakah kita membiarkannya memilih jalan hidupnya?"
Lampu merah, Dave mengentikan mobilnya.
"Tidak!" jawaban tegas itu membuat Alka kembali sedih. Suara itu tercipta dengan tak acuh, sepertinya Dante telah kembali ke jati diri yang sebenarnya.
"Dengar Alka, dia adalah cucu pertama yang lahir pewaris tahta, dia juga yang akan mewarisinya, percayakan saja semua itu kepada El," Dante mengusap pucuk kepala Alka, "Bukankah sudah waktunya untuk kita sebagai orang tua untuk mempercayainya?"
Mendadak Alka mengusap air matanya, dia pun mencium pipi Dante.
"Maafkan aku yang hampir meragukannya, sayang..."
Tak ada alasan lagi untuk menyalahkan takdir, karena Tuhan Yang Maha kuasa telah menetapkan garis hidup Alka.
Garis tangan yang membawanya masuk ke dalam kehidupan William Barrack!
Lampu kembali hijau, Dave yang sejak tadi memakai headset itu pun tak mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan, demi menjaga kesucian telinganya agar tidak ternoda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi, penjaga membuka gerbang dan membiarkan mobil mewah itu masuk.
Alka terpukau melihatnya, inikah yang di namakan istana? Ia mengira itu semua hanyalah dongeng belaka.
"Apa yang kau lihat?" Dante mendekat untuk membukakan sabuk pengamannya, "Turun."
Alka menyusul suaminya yang sudah turun lebih dulu saat Dave membukakan pintu mobilnya.
Para pengawal dan pelayan istana menyambut mereka, berjejer rapi, ada penasihat Jian juga di anak tangga teratas, "Selamat datang kembali di istana Emperor ini, yang mulia pangeran, putri," dengan sopan dia menyapa ramah.
Indahnya jika Alka di perlakukan dengan baik oleh keluarganya sendiri, kini ia merindukan mereka.
"Yang mulia Ratu sudah menunggu di dalam, silakan..." seru Penasihat Jian mempersilakan ketiganya.
Setibanya di dalam singgasana, Ratu sudah duduk dengan penuh kewibawaan, ada El juga yang terlihat semakin tampan.
Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, berada di bawah didikan keluarga kerajaan membuatnya terlihat berbeda.
"El?" seru Alka yang merindukannya, namun Dante tak mengizinkannya. Dia mencengkeram tangan Alka.
"Selamat datang di istana Emperor pangeran William Barrack, putri Alka Barrack, duduklah..."
Alka melirik El, apa yang terjadi? Seperti bukan El saja.
Meskipun duduk berhadapan tetapi rasanya begitu jauh dari hati.
"Tunjukan sikap tentangmu, Alka," ucap Dante, "Kau akan mendapatkan jawabanmu jika tetap tenang."
"Jian, bawa Ellard Hansel Barrack ke dalam kamarnya," titah Ratu.
"Baik yang mulia, pangeran, mari..."
Sikap yang di tunjukan El pun benar-benar berbeda, padahal baru satu Minggu tidak bertemu, El si pewaris tahta itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan, dan segera pergi mengikuti langkah kaki Penasihat Jian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Asing terasa, tetapi itu adalah konsekuensi yang harus Alka terima. Dia menikah dengan seorang pangeran yang akan di nobatkan menjadi raja.
"Pesta akan di laksanakan malam ini," pengadaan pestanya di majukan, "Alka menantuku, bersiaplah... begitupun juga denganmu pangeran William."
"Baik yang mulia ratu," tutur Dante, Alka pun segera beranjak dari duduknya mengikuti Dante, lalu bersamaan memberikan ratu bow.