HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Hanya Menilai Dari Yang Dilihat


"Nona ingin membunuh tuan muda! Lalu apa namanya jika bukan penghianat?" Dave menatap Alka dengan nyalang. Tangannya menggenggam jeruji besi itu dengan geram, rahangnya mengeras sempurna.


"Itu tidak benar Dave, percayalah kepadaku... aku -"


"Aku apa!" bentak Dave, dia tak peduli akan kebenarannya, saat seseorang di nilai salah, maka kebenaran apapun tentang dirinya itu semua hanya akan di anggap angin lalu.


Alka memilih diam tak mendebat, dia menggigit kecil bibir bawahnya hingga gemetar. Air matanya tumpah seketika.


"Nona apa? Jawab saya nona, jawab dengan menatap mata saya, nona!" amarah sekretaris itu membludak.


Alka menggeleng, sudah tak ingin lagi menjelaskan apapun padanya, sejenak dia menghela napasnya dengan pelan.


Dengan mantap mengangkat wajahnya menatap Dave, matanya sayu bersedih di sela senyuman yang membuat Dave murka.


"Menjijikkan! Cih!"


Satu tendangan kakinya mengenai jeruji besi itu, lalu Dave pergi meninggalkan Alka seorang diri di balik penjara yang begitu dingin.


***


"Paman Mark!" seru El, dia berlari mendekat dan memeluknya, "Apakah telah terjadi sesuatu?"


Mark menggeleng, dia mengusap pucuk kepala El dengan lembut, "Tidak apa-apa sayang, hanya kendala teknis saja."


"Paman apakah pestanya sudah selesai? Di mana Mommy dan Daddy? El ingin bertemu."


Mark diam.


"Paman?" El menarik ujung baju Mark, "El ingin bertemu dengan mommy."


"El sayang..." Mark mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anak lelaki itu, dia mengusap lalu mencubit pipi kiri El, "Dengarkan paman baik-baik ya..." El mengangguk, "Ini semua akan selesai dengan cepat, lebih baik El tetap belajar untuk masa depan mu yang lebih baik, ya?"


"Dan, jangan mengkhawatirkan persoalan Mommy dan juga Daddy mu... mereka baik-baik saja, ingat El ... kau adalah penerus dari kerajaan ini, jangan mudah mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti ini ya?" ucap Mark yang kemudian di angguki El.


"Baiklah paman, El mengerti akan hal itu."


"Pintar," Mark mencubit hidung El dan membuatnya tersenyum, "Sudah malam, ayo, paman akan mengantarkan mu ke kamar."


"Oke..."


***


Di ruang istana tepatnya aula pesta, Dante duduk termenung bahkan tidak menoleh sedikitpun saat Dave mendekat


Dante diam tak menjawab.


"Nona tidak mau mengaku -"


Bugh!


"Akh!"


Hantaman kuat melayang tepat di area perut Dave, membuatnya membungkuk di hadapan Dante. Tak puas, Dante menarik pundak Dave lalu melayangkan tamparannya pada wajah Dave.


Wajah itu memar, napas panas mengembus dari mulut Dante. Brak!


"Akh!"


Kali ini Dante menendang perutnya, membuat Dave terduduk dengan luka dalam.


"Siapa kau? Berani sekali menyudutkannya! Kebenaran apa yang kau ketahui tentangnya? Kau hanya menilai dari apa yang kau lihat! Jangan mencoba menekannya, Dave!"


Dante pun berlalu dengan meninggalkan Dave yang terkapar tak sadarkan diri.


***


Klek!


Pintu penjara terbuka, Dante membuka borgol di tangan dan kedua rantai di kaki Alka. Wanita itu tertidur, perlahan bangun.


"Engh..." terang gelap penglihatannya mulai jelas, "Da- Dante?"


"Diamlah, hukumanmu masih belum selesai, sayangku."


Dante menggendong Alka ala bridal style, membawanya masuk ke dalam kamar utama.


Di sana sudah ada dokter istana yang menunggu.


Perlahan Dante membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan membiarkan dokter untuk mengobati luka di pergelangan tangan dan kakinya.


Hampir setengah jam lamanya menunggu akhirnya selesai juga, "Yang Mulia, saya sudah selesai mengobati permaisuri... sekarang, beliau sedang tidur."


Dante mengangguk, "Pergilah, dan obati Dave."


"Baik."