
Karena Alka masih di rawat di rumah sakit, akhirnya pesta yang akan di adakan oleh keluarga kerjaan pun harus di tunda dulu.
Pagi ini Dante terbangun dari tidurnya sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi pangeran itu bahkan tidak bisa bergerak leluasa karena tubuh mungil Alka yang berada di atas tubuhnya.
Semalaman tidur terlentang seperti ini membuat tubuhnya lelah dan pegal.
Kenapa bobot wanita hamil selalu berat? Dante sampai mengernyit, dia kesal akan sikap sang istri. Tetapi dia juga menyayanginya, terlebih lagi kini telah hadir janin di dalam rahimnya.
Buah cinta mereka berdua, bahkan tak kenal waktu dalam bercocok tanam di lahan rindang Alka.
Dante mengusap lembut punggung ramping Alka, lalu membisikinya.
"Alka, sudah pagi ... mau sampai kapan kau membuat Dave menunggu di luar?"
"Engh..." lirih Alka, dia kedinginan, "Dingin..." saat Dante hendak membaringkan Alka di sisinya, Dante pun segera memeluk tubuh mungil itu.
Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Alka, "Kau kedinginan, semalaman aku memelukmu."
"Sayang?" seru Alka seraya mengusap kedua matanya.
"Hm?"
"Aku ingin melihat sekretaris Dave di luar, apakah dia masih ada di luar atau tidak."
Alka beranjak bangun, Dante merasa cemburu atas perkataan itu.
"Semalaman penuh kau bahkan melarang ku untuk menemuinya, lalu apa ini -"
"Sssstttt!"
Alka menutup mulut suaminya dengan telapak kanan Alka.
Dia pun segera turun dari bed dan mendekat ke atas nakas, mengambil sisir.
Dante masih mencerna semua sikap aneh istrinya, dia pun mengikutinya dari belakang hingga berdiri di ambang pintu. Tak jauh dari sang istri.
Kedua telinga Alka bisa mendengar helaan napas pelan suaminya, "Apa yang sedang kau lakukan? Kau punya dendam kesumat apa padanya?"
Muah!
Ciuman hangat di pipi kiri Dante membuatnya langsung menurut, dia pun mendekati Dave dan menepuk pelan bahu kanannya.
"Dave!"
"Emh!" Dave yang terkejut pun langsung membuka kedua matanya, mengerjap berulang kali, mengumpulkan nyawa hingga ia merasa kembali hidup lagi.
"Tuan?" Dave pun segera berdiri lalu menatap Alka yang memegang sisir di tangannya, Apa yang akan nona lakukan dengan sisir itu?
Alka menyeringai senang seraya menatap wajah mereka secara bergantian, "Sayang?" seru Alka lalu mendekat lalu menyerahkan sisir itu kepada Dave, membuat Dante mengernyit.
"Untuk apa sisir itu, Alka?"
"Sekretaris Dave, sisir lah rambutmu yang kering itu."
Lalu dengan cepat dia memeluk Dante, "Sayang, kau akan menghukum siapapun yang menolak keinginan ku, kan?"
Tentu saja hal itu membuat Dave meradang, wajahnya memerah, Sial! Berani sekali dia mengerjaiku! Punya dendam membara apa dia padaku?
Sisir di tangannya pun hampir patah, "Tuan, saya -"
Dante menggeleng pelan, "Lakukan apapun yang di inginkan istriku, Dave... kau dan siapapun tak boleh menolak permintaan permaisuri ku."
Cih! Permaisuri? Lalu aku ini apa, Tuan? Aku yang menemani mu dari awal keluar istana hingga bertemu kembali dengan nona Alka. Dave benar-benar protes dengan sikap Dante.
"Sayang, sekretaris Dave belum menyisir rambutnya," Alka mengadu, dan kembali mencium bibir Dante, dan melirik Dave dengan ekor matanya yang di iringi senyum jahilnya.
Puas!
pekik Dave melalui sorot matanya yang mendelik itu.