
Alka yang ingin membuka suaranya pun langsung terdiam saat Dante meremas pundaknya, pelan, namun bisa membuatnya meringis.
"Dan ini juga berlaku untuk mu, Alka," tegas Ratu yanh tak imgin di bnayaj.
"Pihak kerjaan akan menggelar pesta pernikahan kalian, sudah waktunya panggung istana kembali menunjukkan taringnya."
"Ta- tapi?"
"Alka!" suara datar itu berasal dari mulut sang suami, "Aku tidak bermasalah untuk pesta pernikahan kami. Tetapi kami tidak akan gimggal di istana."
Ratu mengeraskan rahangnya, "Maka jangan harap kalian akan bertemu dengan El! Dia yang akan meneruskan posisimu, pangeran William. Tunjukanlah dedikasi mu! Lagi pula bukankah sudah cukup aku memberimu waktu untuk hidup di luar?"
"Pikirkanlah dengan baik-baik, pangeran William ... putri Alka," senyum di wajah tenangnya membuat Alka merona merah.
Satu hal yang membuatnya ragu adalah, apakah pihak kerajaan sudah mengetahui identitasnya? Namanya telah di coret dari silsilah keluarga Monarch. Dia takut karena hal itu dirinya akan di pisahkan dari El, dan pria yang sedang duduk di sampingnya.
"Bagaimana, putri?" Ratu bertanya kepada Alka, dan itu membuatnya bingung.
"Tak masalah, dengan segala konsekuensinya ... yang mulia ratu!" tatapan Dante begitu dalam, dan dingin.
Ratu pun tersenyum, dia beranjak dari duduknya dengan wajah yang gembira, "Baiklah pesta akan di gelar lusa!"
Keputusan final tak dapat di ganggu gugat! ðŸ¤
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angin malam berdesir pelan, membuat suasana kamar semakin dingin dengan adanya AC.
Dante yang sedang berbaring di atas ranjang sembari memainkan hp pun mulai bosan, berkali-kali ia menatap pintu yang tertutup sebagai penghubung antara kamar dan ruang ganti.
"Alka, cepat sedikit!" seru Dante mulai serius, "Hanya pakai piyama saja selama itu, Alka!" dengan tak sabarannya Dante menggedor pintu ruangan tersebut.
"Alka!" mengira wanita itu kabur melalui jendela ruang ganti, Dante pun mendobrak pintu nya hingga rusak.
"Alka!"
"Engh..." tubuh Alka begitu lemah, dia merasa pusing, "Sayang?" seru Dante yang menopang tubuhnya, membiarkan punggung ramping itu mendarat hangat di dada bidangnya, "Ada apa dengan mu?" perlahan Dante menggendongnya, lalu dengan hati-hati meletakkan tubuhnya di atas ranjang.
"Alka, ada apa denganmu? Katakan padaku bagian mana yang sakit?"
"Hoek..." Alka segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi setelah mendorong Dante agar menjauh darinya, di dalam sana dia memuntahkan apapun yang ada di dalam perutnya.
"Alka!"
Sebagai seorang suami tentu saja dia sangat panik, Dante memeluk Alka dari belakang seraya mengusap perut rampingnya.
Sekali lagi Alka muntah, dengan penuh perhatian Dante memijit tengkuk Alka, pelan dan nyaman.
Lima belas menit kemudian Dante kembali menggendong tubuh Alka yang benar-benar lemah.
Dia membaringkannya, menyelimutinya dengan hangat.
Dante mengusap wajah Alka, mengusap ibu jarinya di bibir Alka yang memucat, "Ada apa sayang?"
"Di dalam perutku seperti ada yang jalan."
Dante mengernyit, "Apa?" dia pun membuka selimut yang menutupi tubuh Alka dengan sedikit kasar, lalu menaikkan piyama sutranya ke dada, memperlihatkan perut rampingnya, menatapnya dengan tajam.
"Apa yang ada di dalam perutmu Alka? Cepat katakan!"
"Aku juga tidak tahu, aku benar-benar mual dan juga pusing, Dante, perut bagian bawahku sakit..." rintih Alka yang hampir menangis.