HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Kebenaran Vanessa


Jam dinding menunjukan pukul 03.15 pagi waktu Inggris, selang infus sudah terpasang di punggung tangan Alka.


"Ada apa dengan istriku? Kenapa dia merasa mual?"


"Itu hal yang wajar selama masa kehamilan, dan itu merupakan salah satu perubahan hormon yang terjadi pada wanita yang awalnya tidak hamil, dan sekarang hamil. Saya akan meresepkan vitamin untuk menguatkan kandungan juga beberapa resep untuk mengurangi mual yang di rasakan."


"Baiklah, atur saja segala sesuatunya."


Dokter itu mengangguk dan segera menuliskan beberapa resep, lalu memberikannya kepada Jian.


Pria parubaya itu pun bergegas menuju apotek istana, untuk mengambil beberapa obat dan vitamin yang baru saja di resep kan.


***


Dua Minggu pasca perawatan Alka di istana, setelah rutin mengkonsumsi vitamin serta makanan empat sehat lima sempurna, dirinya merasa sudah lebih baik dari yang sebelumnya.


Pagi ini dia berada di taman bunga bersama dengan Dante, duduk di gazebo dengan di suguhkan pemandangan luar biasa indahnya.


Duduk bersebelahan, di sekitar tempat itu ada banyak pengawal dan dayang.


Dante memang tak tanggung-tanggung, jika dia ingin mencium Alka, maka dia akan melakukannya.


Dante mengelus pipi kanan Alka dan mencium pipi kirinya, tepat Dante yang juga kebetulan duduk di sisi kiri sang istri.


"Sayang?"


"Hm, kenapa, kau menolak?"


Alka menggeleng, wajahnya merona merah samar, "Tidak sayang, bukan begitu... ta- tapi?"


"Apa?"


"Aku ingin memetik bunga, boleh?"


"Hanya memetik bunga?" Alka mengangguk, "Biarkan para dayang yang memetiknya, cuaca pagi ini cukup terik."


Hm, hanya memetik bunga pun tak di perbolehkan?


"Mommy?"


Keduanya menoleh ke sumber suara, "El?"


El mendekat dan sejenak melupakan statusnya, dia duduk di antara Mommy dan Daddy nya, Jian yang melihatnya pun ingin segera memanggilnya. Tapi Mark dan Dave tak membiarkannya.


"Biarkan saja, jangan kau ganggu mereka."


Jian mengangguk, "Baik tuan."


"Mommy, Daddy, ayo kita jalan-jalan ... liburan ... ke luar negeri."


Deg!


Bola mata Alka membulat sempurna, dia terbayang akan masa lalunya.


"Dave, persiapkan segala sesuatunya."


"Saya mengerti tuan."


***


Pintu gerbang istana terbuka.


Vanessa membawakan sebuah hadiah jam termahal di dunia, design nya pun benar-benar mewah.


Mobil yang mengantarkannya pun baru saja terhenti di pelataran, "Nona ingin saya menunggu?"


Vanessa menggeleng, "Kau pulang saja, nanti akan aku hubungi lagi jika urusan ku sudah selesai."


"Mmm.. iya baiklah nona." sopir pun turun dan segera membukakan pintu mobilnya untuk nona Vanessa.


Vanessa melangkah dengan anggun masuk ke dalam istana, dirinya masih di terima dengan baik oleh keluarga ini.


"Selamat pagi semua," dia menyapa para dayang dan beberapa pelayan.


"Selamat pagi nona Vanessa, ada apakah gerangan yang membuat nona datang?"


"Aku kemari ingin memberikan hadiah kepada pangeran William-"


"Tidak ada pangeran William di sini!" mendadak Ibu suri datang bersama rombongannya berada di ruangan tengah, tempat yang sama dengan Vanessa.


"Yang mulia ratu?" Vanessa pun memberinya sikap hormat.


"Ah benar... kau bahkan tidak di undang ke pesta penyambutan Raja dan ratu yang baru?"


"Apa?"


"Pulang lah, kau sudah tidak punya tempat lagi di sini."


Vanessa geram, dia mengeratkan genggamannya pada kotak hadiah jam.


Penasihat Jian datang dari sisi kanan.


Ibu suri menggantungkan tangannya ke arah Jian, "Beritahukan kami apa yang kau dapatkan, Penasihat Jian."


Pria parubaya itu mengangguk, "Baik yang mulia ibu suri," menghela napas pelan, "Nona Vanessa Aira Danton."


Benar, silsilah keluarga Vanessa masih memiliki hubungan darah dengan kakek Danton, yang dulu ingin menikahi Alka.