
Kain segi tiga berwarna itu terhempas ke lantai, berwarna pink. Alka sangat malu.
Dia ingin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, namun Dante tak membiarkannya.
"Aku sudah melihat semuanya bahkan berulang kali menikmatinya, apalagi alasan mu untuk malu? Tidak ada, bukan?"
Perlahan Dante membuka kedua kaki Alka selebar pinggulnya, sedikit mengangkat pinggang Alka agar dapat naik. Dante ingin mengulang penyiksaan nya saat Alka belum hamil.
"Sayang jangan seperti ini," Alka menggigit kecil bibir bawahnya saat permintaannya tak di indahkan.
Jleb!
"Engh..." dia melenguh, ah... darahnya serasa mendidih panas, kuat dan nikmat.
Kini Dante tak mau bermain dengan lembut, dia sudah cukup sabar menahan diri.
Dia tertawa kecil melepaskan hasratnya yang terpendam, "Lakukan sampai sore, Alka. Aku tidak mau menerima penolakan dari mu!"
"Engh!" sekali lagi Alka mengerang saat merasakan pusaka Dante membesar di dalam sana.
Kedua tangan Alka mencengkeram kuat sisi bantal, tubuhnya panas dingin.
Tak mau berhenti, Dante kembali menyergahnya hingga membuat Alka meringis perih.
"Aaah....sssshhh..." tangannya mencoba meraih tangan Dante yang nakal, bagaimana tidak? Saat Alka mencoba mengendalikan diri dari rasa nikmat yang menghukumnya, di saat itu juga jemari Dante mengusik ketenangan bagian kecil di atas kewanitaan Alka. Nikmat dan geli, semua bercampur jadi satu, dan semakin berkedut.
Semakin lama semakin basah, "Sayang ... sudah, aku mohon, perutku keram..." Alka tak bisa bangun saat Dante semakin menguatkan cengkeraman tangannya pada pinggang Alka.
Semakin dalam dirinya menyergah, semakin kuat pula erangan Alka. Basah, basah, dan membuat Dante tersenyum puas.
Alka menggeleng, dia mengerang antara nikmat dan keram, kedua kakinya mulai lemas, namun area kewanitaannya tak bisa berdusta. Masih ingin bahkan lebih.
Seseorang tolong hentikan hasrat seorang Dante!
Keringat dingin menjalari kening dan pelipis Alka, Dante pun langsung melepaskan dan meletakan tubuh Alka tepat di bawah tubuhnya.
Dia bermain dengan normal, namun Alka sudah tak kuat lagi, perutnya semakin keram. Kedua tangannya berada di atas kepala, Dante mengunci pergerakannya.
Kuat, dan nikmat, hanya itu yang Dante rasakan. Jika dirinya merasa puas maka begitupun dengan Alka. Namun, jika Dante merasa tidak puas, maka Alka juga akan merasakan hal yang sama. Hanya itu yang di pikirkan Dante.
Dante menggigit kecil ceruk leher Alka hingga berbekas merah keunguan, lalu berpindah ke area dada, dan menghisap area terlunak Alka, dua gunung itu semakin membesar. Pengaruh hamil membuatnya terlihat besar.
Dante menarik tubuhnya bukan untuk melepaskan Alka, melainkan untuk memutar kejantanannya di dalam kewanitaan Alka.
"Sssshhhh... emmmh... Aaaah..." lenguhan Dante membuat dirinya sendiri senang, hentakan terakhir membuat tubuhnya ambruk sekaligus di atas tubuh mungil Alka.
Napas mereka beradu dengan kedua dada yang saling membentur.
Cairan kental itu merembes keluar, karena semua itu tak bisa masuk sepenuhnya ke dalam rahim Alka.
Alka memejamkan kedua matanya, sangat lelah dan berkedut-kedut, "Istirahatlah, satu jam lagi, aku akan kembali meminta hak ku, sayang..." seru Dante yang kemudian langsung membungkam bibir tipis Alka, tangannya meremas bokong kanan Alka.
Lama ia mencium bibir Alka, setelah puas di bibir, Dante berpindah ke dua pucuk Alka dan menghisapnya secara bergantian.
Noted :
Adegan 21+