HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Menuju California


Sehari semalam pingsan membuat tubuh Vanessa begitu lemah, pagi menyapa dirinya di dalam keheningan.


Sehelai selimut lembut berbulu menutupi bagian dada hingga ujung kakinya, selang infus terpasang di tangannya.


"Anda sudah sadar, nona Vanessa?"


Pelayan istana bernama Arita itu mendekat untuk menyingkap korden, di ikuti dokter istana khsus wanita.


Vanessa memilih diam sambil memalingkan wajahnya ke arah kanan, air matanya kembali menetes saat mengingat bagaimana dirinya di jamah oleh seorang Dave. Pria perkasa yang begitu agresif padanya. Perih terasa, sakit berdenyut-denyut.


"Untuk sementara waktu nona dan tuan belum bisa melakukan hubungan badan, setidaknya selama empat Minggu. Selama itu juga saya akan datang untuk merawat luka di bagian sensitif nona."


Seprai itu sudah di ganti, memang ada banyak darah di atasnya tadi. Kini, Vanessa bukan lagi gadis suci seperti kemarin.


Dokter membuka sedikit selimut di bagian belahan kakinya, menyalakan senter untuk melihat luka yang di perbuat Dave.


Sampai semengerikan ini, semoga saja tidak menyebabkan nya trauma pada hubungan badan, aku khawatir percintaan mereka akan membuah kan hasil.


"Sssshhh..." sentuhan tangan dokter pada tepi bibir V itu membuat Vanessa meringis sakit.


"Saya sudah meresepkan obat untuk mengurangi pembengkakan dan juga rasa sakitnya. Seharusnya obat itu bisa berkerja dengan baik."


***


Beberapa hari kedepan Vanessa masih akan menjalani pemeriksaan dan perawatan V di paviliun belakang, tempat itu juga tak kalah mewahnya.


Di gedung utama, di dalam kamar Alka baru saja selesai mandi. Beberapa koper sudah di siapkan.


Mereka akan berangkat ke California pagi ini.


"Engh..." Alka memegangi perutnya, dia merasa keram.


"Ada apa sayang? Kau terlihat tidak sehat..."


"Tidak!" Ah, ada apa lagi ini? Kemarin saat berada di taman bunga bukankah Dante sendiri yang mengatakan jika dia akan membawa anak serta istrinya ke California? Sebelum Alka membuka suara, "El akan mengikuti tes bersama keluarga bangsawan yang lainnya. Jangan mengganggunya."


Hati kecil Alka benar-benar sedih, sebagai seorang raja ... tidak bisakah dirinya memberikan dispensasi?


"Ayo cepat, jangan melamun."


"I- iya sayang..."


Beberapa pelayan dan pengawal serta pasukan pengaman raja pun berbondong-bondong masuk ke dalam mobil.


Alka yang sudah duduk di jok belakang, bersebelahan dengan Dante. Tak lupa ia memakai topi khas para ratu. Cantik dan elegan.


Sebelum mobil itu benar-benar meninggalkan pelataran istana, Alka memandangi gedung istana yang megah dan besar.


"Tidak perlu bersedih, ada Dave di sana..." benar, karena yang ikut dalam kunjungan kenegaraan ini juga ada Mark.


"Iya aku mengerti, hanya saja -"


Lirikan dingin dari ekor mata Dante membuat Alka terdiam, dia takut untuk menjawab setiap perkataan Dante.


Tangan Dante mendekat membuat Alka mengira jika pria itu akan memukulnya, nyatanya tidak. Dante mengusap perut Alka sembari mencium pipinya. Muah.


"Sampai di hotel, berikan hak ku yang tertunda selama beberapa jam perjalanan. Mengerti?"


Alka mengangguk pelan.


"Kau memang istriku yang cantik," Dante benar-benar senang mengusap perut Alka. Biasanya saat menjelang tidur malam, Dante tiada hentinya mengusap perut yang masih rata itu. Dante melakukannya sampai ia tertidur dengan sendirinya.


Mobil pun perlahan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan istana, menuju bandara internasional.