
Setelah napas keduanya kembali normal, Dante segera menarik diri dari kelembutan Alka.
Dia memiringkan tubuhnya lalu mencium wajah Alka, seperti itu tanpa memakai selimut.
"Dante?"
"Hm?" Dante menelentangkan tubuhnya sembari menarik selimut dengan kaki, menyambutnya dengan tangan untuk menutupi tubuh keduanya.
"Dua hari yang lalu saat penggalangan dana, wanita yang bernama Vanessa itu -"
Dante pun langsung menghela napas kesal, dia mengernyit.
Alka pun mulai salah tingkah tetapi dia juga penasaran, "Dia mengatakan jika Vanessa adalah kekasih William, putra mahkota -"
"Bicara sekali lagi akan ku potong lidahmu!" suara itu tercipta dengan nada yang bersungut-sungut, Dante kesal dia pun bangun dan turun dari ranjang untuk meraih gunting di atas nakas.
Melihatnya seperti itu tentu saja Alka spontan bangun, dia takut.
Lalu Dante kembali naik ke atas ranjang, mendekati Alka dengan sorot mata yang mengancam.
Gunting itu ia bawa membuat ujungnya menyapa wajah Alka, "Aku adalah Dante, suamimu... bukan siapapun yang orang lain katakan!"
"Ma- maafkan aku, suamiku..." wajah Alka mendadak pucat pasih, dia benar-benar belum mengenal Dante, siapa sebenarnya pria yang menikahinya ini?
"Katakan seperti apa yang kau dengar, sayang?" tatapannya berubah sendu.
"Dante ... suamiku."
"Ya benar, itu adalah kebenarannya," ucap Dante seraya mengusapkan ibu jarinya di bibir tipis Alka, "Pakai kembali piyama mu..."
"Ba- baik suamiku..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dante kini sudah berada di ruang kerjanya, lantai satu. Dia membaringkan tubuhnya di sofa.
Hp nya bergetar ada pesan masuk dari Mama alias Ratu, "William? Kau masih hidup? Kenapa tidak pernah berkunjung ke istana? Vanessa kemarin datang menemui Mama, kenapa kau tidak memberitahu Mama jika kalian bertemu di penggalangan dana?"
Dante terlihat geram, dia pun menarik satu tarikan napas dengan kuat dan prak!
Hp nya hancur, tak puas Dante pun beranjak bangun dan menginjak-injak hp nya.
"Vanessa!" napasnya begitu memburu dengan emosi yang menguasainya. Dia membenci wanita itu, "Kau mencoba mencari dukungan keluarga kerajaan?"
Di dalam kamar Alka masih terjaga dan sedang duduk di tepi ranjang, tubuhnya sangat lelah, pinggangnya pun menjadi sakit.
"Adududuh... sakit sekali, emh..."
Dia mengusap minyak hangat di pinggangnya, "Kenapa dia jadi se-marah itu? Memangnya William itu siapa? Jika Dante bukan William, kan tidak perlu se-marah itu... lagi pula aku kan hanya penasaran saja," kesal Alka merutuki sakit pinggang nya.
Tiba-tiba Alka diam, dia mengusap perut bagian bawahnya yang baru saja di isi Dante, "Tuhan, apakah memang sebaiknya aku hamil lagi?" Alka menggeleng, "Tidak bisa, aku tidak ingin kasih sayangnya terhadap El terbagi. El baru saja merasakan kebahagiaan karena memiliki ayah."
Alka masih tak mengetahui kebenaran tentang Dante yang telah menodainya di malam itu.
"Ku harap Dante bisa mengerti alasanku yang belum mau memberinya anak," anak pertama dari hubungan kami.
Yang sebenarnya akan menjadi anak kedua kalian, El adalah anak pertama kalian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam mencapai puncak, Dante masuk ke dalam kamar El yang tidur nyenyak di temani Lala.
Melihatnya hanya dari ambang pintu saja sudah membuatnya senang.
Puas menatap El dari jarak itu, Dante pun masuk ke dalam kamarnya.
Dia mendapati Alka yang tidur dengan begitu gelisah, Dante pun segera membaringkan tubuhnya lalu memeluk sang istri.
Pelukannya membuat Alka tenang, dan kembali lelap di alam mimpinya yang indah.