HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Mual


Dante naik keatas ranjang dan berbaring di sisi sang istri, dia meraih pergelangan tangan kanannya, lalu mencium punggung tangan itu.


Dalam tidurnya Alka tak sadar jika dirinya kini tengah berbalik dan memeluk Dante, suaminya.


"Engh..." igauan nya membuat Dante tersenyum.


Dia menatap wajah yang pulas itu, perlahan tangannya menyusup masuk mengusap perut Alka lalu beralih untuk memeluknya.


"Kau milikku, Alka... hanya milikku."


Perlahan Alka membuka kedua matanya saat merasakan bibirnya di kecup berulang kali, pelan namun pasti bibirnya semakin di lahap. Tangan kekar Dante menekan tengkuk Alka agar tak bisa menjauh darinya.


"Emh!" Alka mengernyit saat seperti biasa Dante menggigit kecil bibir bawahnya, tubuhnya kini terlentang dan Dante sudah berada di atasnya.


"Hukumanmu masih berlanjut!" Dante menyeringai dan membuat Alka takut.


"A-"


Kedua kaki Alka baru saja terbuka selebar pinggulnya, perlahan Dante menarik dalaman berwarna putih itu, menatapnya bagian kelembutan Alka dengan sejuta gairah.


Perlahan dia memainkan jemarinya di sana membuat Alka memejamkan mata, oh tidak, itu sudah sangat basah. Dante benar-benar menyiksanya dengan hal itu.


Alka hampir mencapai pelepasan pertamanya namun Dante masih enggan menyatukan tubuhnya, tubuh Alka serasa terbakar dan ia sangat ingin.


"Ini hanya permulaan sayang, aku belum memulainya... dan, kau tidak boleh mengeluarkannya sebelum diriku."


Alka menggigit kecil bibir bawahnya, kedua tangannya meremas sisi bantal dengan keinginan yang menggebu.


Dengan cepat Dante menarik jemarinya, membiarkan sesuatu yang hangat keluar dari sana.


"Engh..."


"Aku belum memulainya Alka, bukankah aku sudah mengatakannya? Kau tidak menurut padaku."


"Aku -"


Kedua mata Alka terpejam saat Dante menyatukan tubuh mereka, memainkannya dengan lembut namun rasanya ingin sekali ia menyergah kelembutan itu hingga perih dan sakit. Tetapi Dante tidak boleh lupa, siapa yang ada di dalam rahim istrinya.


Satu jam berlalu, mereka baru saja selesai melakukannya, Dante berbaring membiarkan Alka memunggunginya, itu pun atas perintah sang suami. Dante memeluknya.


Dia menciumi dan menggigit punggung Alka hingga membuatnya meringis kesakitan, Dante pun sangat suka mengusap perutnya. "Kau mencintaiku?"


Pertanyaan macam apa itu?


"Jawab," Dante menggigit pelan.


"Sangat....aku mencintaimu," Alka meringis.


Lalu Dante membalikkan tubuh istrinya agar bersitatap, dia mencium kening dan bibir Alka lalu memeluknya lagi dengan erat, membuat wajah Alka terbenam di dada bidangnya.


"Istirahatlah, kau pasti sangat lelah setalah melayani ku... besok kau harus bangun sebelum diriku membuka mata."


Deg!


Apa lagi ini, apa yang akan terjadi jika Alka bangun kesiangan? Dulu, saat masih tinggal di luar istana, bahkan Dante tak pernah mempermasalahkannya.


Usapan lembut Dante pada punggung Alka membuat wanita itu terlelap di dalam tidurnya, tak lama kemudian di susul oleh Dante.


Malam pun melewati puncak, dingin semakin menusuk, Dante mengeratkan pelukannya. Begitupun juga dengan Alka, dia mulai merasa mual. Tidurnya terganggu.


Dia menutup mulutnya, berulang kali seperti itu. Tapi isi perutnya ingin di muntah kan, benar saja.


Alka mendorong tubuh Dante agar sedikit menjauh namun Dante tidak ingin melepaskannya, "Aku mual sayang, biarkan aku ke bath room."


"Kau hanya kedinginan -"


Alka mual, dan memegangi perutnya. Dante panik.


"Alka!"


Cepat-cepat Dante membawa Alka ke bath room dengan kondisi tubuh mereka yang telanjang.


Di dalam sana Alka memuntahkan semua isi perutnya, di lemah. Kepalanya pusing.