HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE

HOT MOTHER & MR.BILLIONAIRE
Identitas Dante


Setelah Alka kembali ke ruang utama, Dante masih menungguinya di tempat yang sama saat mereka masuk.


"Dante, aku sudah selesai..." seru Alka memberitahukannya.


"Hm, ayo ikut aku..." Dante melingkarkan tangannya setengah lengan, meminta Alka untuk menggandengnya.


Alka mengangguk, "Ayo..."


Mereka bertiga melangkah bersama menuju kursi VVIP yang tak jauh dari Vanessa.


Seorang MC naik ke podium, "Baiklah rekan-rekan semuanya karena bintang utama kita sudah tiba, ah sepertinya hari ini ada yang spesial, Tuan muda Dante membawa seseorang yang begitu cantik.... ayo kita sambut pasangan serasi kita hari ini."


Semua berdiri memberikan tepuk tangan meriah, Vanessa yang hanya fokus menatap MC tanpa melihat ke belakang, dia tak mengenali nama Dante. Yang ia tahu adalah William Barrack.


Begitu semua mata menyoroti Dante dan Alka, begitu pun juga Vanessa yang ikut menoleh kebelakang, seketika senyumnya pudar.


William?


Deg!


Enam tahun lebih Vanessa mengejar impiannya menjadi seorang pelukis handal di Jerman, selama itu ia tak pernah membuka hatinya kepada pria manapun, dan setelah hari ini, apa yang ia dapatkan? Kecewa di hati, sakit.


Dada Vanessa terasa sesak.


Mata sipitnya memandang sepasang suami istri itu duduk di kursi.


Lima belas menit kemudian acara pun di mulai, MC meminta kepada Dante untuk berpidato seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya.


Menyenangkan sekali untuk Dante, dengan senang hati ia maju dan naik podium.


Dia menatap wajah-wajah yang hadir dengan ramah, kecuali Vanessa. Mulailah Dante berpidato.


"Terima kasih untuk seluruh kepercayaan yang kalian berikan kepadaku, dan juga Barrack Company."


Barrack Company? Apa yang terjadi? Bukankah dia putra mahkota? gumam Vanessa yang terus bertanya di dalam hatinya.


Apa yabg telah Vanessa lewatkan setelah kepergiannya? Papa dan mamanya pun tidak menceritakan apapun tentang pria itu.


Setelah kata sambutan Dante berikan, sekarang adalah waktunya untuk mendonasikan dana sebesar £150.000, atau setara dengan Rp.2.891.377.717,50 per tahunnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai menggalang dana kini waktunya untuk ramah tamah, Dante yang terlihat sedang berbincang dengan tamu penting itu malah di manfaatkan oleh Vanessa.


Dia mendekati Alka yang sedang duduk sendiri di meja nomor tiga.


"Hai?"


"Hai..." sahut Alka dengan senyuman ramahnya.


"Aku Vanessa, boleh aku tahu namamu?"


"Aku kekasih William, putra mahkota kerajaan Inggris ..."


Alka bingung, mengapa dia memotong kalimatnya?


"Atau .. yang kau kenal sebagai Dante."


Deg!


Bola mata Alka membulat sempurna, ia kaget terlebih lagi saat mendengar orang yang ia kenal sebagai Dante adalah seorang putra mahkota dari kerajaan Inggris?


Wajahnya berubah pias, Alka menggigit kuat bibir bawahnya, dia tak mempedulikan keberadaan Vanessa. Alka mencoba mendekati Dante, namun pria itu malah menjauh.


Dave yang datang mendekati Alka, "Nona, jangan mengganggu Tuan untuk saat ini..."


Tiba-tiba Alka meneteskan air mata, membuat Dave khawatir.


"Nona?"


"Aku tidak apa-apa, perutku sakit... aku ingin pulang."


"Saya akan memberitahukan tuan muda terlebih dahulu, Nona."


Alka diam tak menjawab, dia memilih untuk keluar ruangan secepatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Alka pergi meninggalkan gedung putih itu, Vanessa pun bergegas mencari William.


Bertanya kepada siapa saja yang ia temui hingga akhirnya dia menemukan William di sebuah ruangan kosong.


Segera Vanessa mendekat dan memeluknya erat dari belakang, "Aku kembali, sayang..."


"Vanessa ... " suara itu memanggil dengan nada berat, lalu Dante melepaskan mini earphone bluetooth dari telinga kirinya.


Kemudian melepaskan tangan Vanessa dari lingkaran pinggangnya, "Apa yang telah kau katakan kepada istriku?" tangan indah itu ter-cengkeram dengan kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Aw! Sakit... tolong lepaskan tanganku, sayang!"


"Siapa kau ... sampai berani mengatakan kau adalah kekasihku? Lancang sekali dirimu berusaha mengungkapkan identitas ku kepadanya!" geram Dante tak berhenti di situ, "Vanessa..." lirih Dante dengan nada menekannya, "Setiap tetesan air mata Alka adalah cambuk untukku, berhati-hatilah ... karena aku tak akan pernah membiarkan orang yang menyakiti Alka hidup dengan tenang."


"Willi, itu tidak benar... wanita yang kau cintai adalah aku, hanya aku -"


"Jangan terjebak dengan impian di masa lalu, Vanessa! Sekaran ini yang ada hanya kebencian ku untukmu!"


"Aaaaa! Sakit!"


Bruk!


"Aaaakkkhh!" pekik Vanessa kesakitan saat Dante menghempas kan tubuhnya di lantai, lalu pergi begitu saja meninggalkannya di ruangan itu.