
Salju masih berkelebat tapi tak menghentikan aktivitas setiap orang, jalanan masih bisa di lalui.
Akhirnya, masa menstruasi Alka pun berakhir. Malam ini Alka terlihat begitu gugup. Selama dua hari belakangan ini Dante tak mengizinkan nya untuk pergi keluar rumah.
Jika butuh apapun Alka bisa mengatakannya kepada Emy, ah mana mungkin Alka berani memintanya, Emy pasti akan melaporkan semuanya kepada Dante.
Suara gemericik air di dalam kamar mandi pun sudah tak terdengar lagi, Dante baru saja selesai mandi setelah lelah fitnes.
Gugup membuat jantung Alka berdebar kencang, dengan cepat ia meraih hp dan searching google, cara alami menunda kehamilan.
Membuang cairan injeksi di luar? Alka menggeleng, mana mungkin pria penuh gairah itu mau melakukannya, yang ada dirinya akan di cekik sampai mati.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka, Alka dengan cepat menghapus riwayat searching nya.
Lelaki itu hanya memakai handuk putih yang melilit sempurna di pinggangnya, dia menatap Alka dengan penuh gairah yang menggelegar.
Semakin Dante mendekat, Alka pun semakin gugup tak karuan.
"Da- Dante?"
Dante merangkak naik, menarik kaki Alka dan menciumi wanginya. Terdengar helaan napas yang begitu sensasional.
Wangi ocean dari tubuh pria itu membuat Alka ingin segera tenggelam di dalam lautan kenikmatan fana yang akan segera tercipta.
"Alka, aku sudah sangat sabar menantikan malam ini..." dia meraih punggung tangan Alka dan menciuminya berulang kali, "Kau merindukannya? Katakan seperti apa yang ku pinta, Alka."
Tangannya naik mengusap benda yang terlindungi kain berbusa itu, "Alka aku menginginkanmu, tolong jangan beri aku alasan apapun lagi..." suara itu terdengar begitu memburunya, "Alka?" dia mengusap pipi mulus sang istri.
Lalu menarik tengkuknya agar ia bisa lebih leluasa melahap bibir tipis Alka dengan rakus, dengan tangan yang mengusap punggungnya. Kini helaian benang di tubuh keduanya telah teronggok di atas lantai, tubuh Alka sudah berada bawah tubuh kekar Dante.
Di kamar sebelah El sudah tidur di temani baby sister bernama Lala, kamar Dante kedap suara jadi sekuat apapun erangan Alka nantinya, tak akan ada yang bisa mendengarnya. Gugup, sudah pasti, itu yang di rasakan oleh Alka saat menatap Dante.
Jemari mereka saling meremas hangat, lalu Dante melepaskan remasan tangannya dan beralih untuk membuka kedua kaki Alka selebar pinggangnya. Alka pun memejamkan kedua matanya saat pusaka Dante melesat masuk tanpa ampun.
Erangan Alka tiada hentinya membuat Dante ingin terus menuntutnya kepermainan yang lebih keras.
Urat-urat di tubuh Dante mekar semua, tubuh kekarnya semakin membuat tubuh mungil Alka tak berdaya. Sedikit kasar Dante mengangkat pinggul Alka, memposisikan nya dengan tepat.
Dante pun kembali memainkan bagian terlembut Alka di dalam sana, dia menyergah tanpa ampun.
"Sayang pelan-pelan..." gumam Alka yang tak kuat menerima permainan suaminya, "Sayang, emh!" tangannya meremas kuat pada seprai di bawah tubuhnya.
"Tidak Alka, ini masih pemanasan, kau membuatku menunggu selama satu Minggu, bagaimana bisa aku melepaskannya dalam satu jam?"
Lagi-lagi Alka mengerang, tubuhnya serasa terbakar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Dante menyeringai, dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari kelembutan istirnya, "Aku belum selesai Alka, bagaimana bisa kau mendahuluiku?" protes Dante.
Mendadak Alka mengerang sakit sembari mengerjap kuat saat sergahan Dante menyakitinya, napas Alka tersengal membuat dadanya kembang kempis.
Tak lama kemudian ia merasakan ledakan di dalam kelembutannya menerobos masuk ke dalam rahimnya.
Seketika Dante ambruk dan menindih tubuh Alka, "Kita belum selesai Alka. Belum." ucapnya dengan sensasional.