
Istana kerajaan
lengkap dengan apapun, ada taman di sana, ada juga sepeda jika ingin menikmati
harinya dengan santai.
“Emy,
ayo kita mengayuh sepeda... bersepeda kan membuat jantung lebuh sehat, iya kan
sayang?” mendadak Alka jadi perangko yang terus menempeli suaminya.
“Sayang,
kau juga ikut ya...” lanjut Alka seraya mencium bahu suaminya, dia suka itu,
aaaaa...
Dari
seberang jalan sana Dave melangkah mendekati mereka, dia mengangguk hormat
kepada Dante, “Tuan...”
“Ambil
sepeda, Alka ingin menaikinya,” pinta Dante dengan ekspresi tak mau di bantah. Dante
lelah jika harus kembali berseteru dengan istri mungilnya ini.
“Baik, tuan.”
Beberapa
menit kemudian empat sepeda pun sudah siap, tapi Alka langsung protes.
“Kenapa
dua? Sayang...” manja, “Aku juga kan mengajak mu dan Emy, seharusnya ada tiga,
bukan empat!”
Dave geram.
“Lalu
kau ingin Dave jalan kaki?” Alka menggeleng, “Lalu apa?” mode setengah kesal.
“Emy
dan Dave satu sepeda—“
“Dan
aku memakai sepeda yang lainnya, membiarkan mu mengayuh sepeda sendirian?”
kesal, tapi Alka tak mau di bantah.
“Kenapa
kalian diam saja, cepat kayuh sepedanya!” seru Dante.
Lagi-lagi
kedua insan itu terlihat canggung, “Mmmm... nona Alka, bagaimana jika saya
menemani nona saja?” pinta Emy yang langsung menunduk saat mendapatkan tatapan
tajam dari Dante, //Menurut!// begitu
kiranya.
Cih!
geram Dave, “Cepatlah, jangan membuang waktuku...” imbuh Dave kepada Emy, Dave
pun segera duduk di jok sepeda sementara Emy sudah duduk pose perempuan di
bagian belakang.
Sepasang suami istri itu mengayuh sepedanya masing-masing, “Sebenarnya
apa yang kau rencanakan?”
“Tidak ada, memangnya apa? Kau menuduhku?” protes, Alka
cemberut dan memilih untuk berhenti bersepeda, cuaca siang ini lumayan terik.
Dante menghela napas dan segera menepi, “Kemari!” suara itu
terucap dengan intonasi tegas, Alka mendekat dan ikut duduk di samping
suaminya, di bawah rindangnya pohon cherry.
“Kenapa sikapmu jadi aneh seperti ini?”
“Kau menyesalinya?” imbuh Alka dengan menatap lurus ke depan.
“Jangan bodoh Alka, di dalam rahimmu sedang tumbuh benihku...”
Dante dengan gagahnya menggendong Alka ala bridal style, membawanya masuk
kembali ke ruang rawat.
“Sayang?”
“Waktunya untuk makan siang Alka, aku sudah lapar.”
“Sayang, aku ingin makan hot dog yang ada di dekat rumah nenek,”
wajah mode imut, “Ya.....”
“Hm.”
***
Dave yang sudah kembali di tempat parkiran sepeda, “Kembali
lah lebih dulu, nona Alka akan membutuhkanmu,” Setelah puas mengerjaiku!
Emy turun dari sepeda, “Tuan maafkan saya, saya tidak
bermaksud—“
“sudah, jangan membahasnya lagi!” Lihat saja nanti
pembalasanku, nona!
“Mmmm... baiklah jika begitu saya permisi dulu tuan,” Emy pun
menganggukkan kepalanya dengan pelan dan segera undur diri.
Baru juga niat pembalasan dendamnya itu terucap di dalam hati,
hp Dave berdering. Video call dari yang mulia.
“Tuan? Tumben sekali menghubungiku melalui video call?” segera
ia menjawabnya, “Ia tuan—“ dahinya mengkerut, “Nona?” sebal, isssshhhhh!!!
“Sekretaris Dave... kau masih di luar, kan? Aku bisa
melihatmu...” Dante langusng mengambil alih hp nya, “Sayang jangan mengganggu!”
“Berhenti mengganggunya Alka,” ribut-ribut sepasang suami
istri yang berkahir dengan kemenangan Alka.
Aku bersumpah tidak akan pernah menikah! protes Dave.
“Sekretaris Dave, aku ingin makan hot dog di dekat rumah
nenek... tolong belikan enam ya, hehe... kemarilah untuk mengambil uangnya,”
tut tut tut, Alka mematikan video call.