
Jeglek!
Mati lampu, semua yang ada di pesta itu menjadi riuh khawatir dan terdengar suara-suara mereka yang panik.
Gelas yang di pegang Alka pun mendadak jatuh, akibat dari seseorang yang tak ia ketahui siapakah gerangan ia.
Di tengah kepanikan pesta, seseorang membawa Alka dan membuatnya meringis kesakitan akibat cengkeraman tangannya yang kuat.
"Aaaaa! Sa- sakit, tolong lepaskan tanganku!" tangan itu cukup besar, seperti tangan Dante. Tetapi Dante tak akan pernah menyakiti istri tercintanya.
Klek!
Pintu terbuka, suasananya masih gelap gulita, bruk!
"Aw!" tubuh mungil Alka terhempas ke atas ranjang, dia meraba-raba tempat itu. Tapi tak menemukan apapun, ah sial sekali nasibnya. Mengingatkannya kembali akan insiden enam tahun lalu.
Alka menangis, dia ketakutan, tak!
Satu jentik kan jari membuat lampu di kamar itu menyala.
Alka pun memejamkan mata karena bias cahaya yang mendadak memenuhi indera penglihatannya.
Srak!
"Jangan!" Alka histeris menangis saat pakaiannya di sobek pada bagian dada. Tanpa membuka mata, dirinya tak tahu siapa yang ada di hadapannya itu.
Dante, dia begitu emosi dengan sikap Alka yang rela berkorban demi menyelamatkan mereka semua.
Bibir Alka bergetar memucat, perlahan dia membuka kedua matanya, menatap sepasang kaki maskulin.
Dia mengenali setelan pakaian ini, "Da- Dante, emh!" Alka mengernyit saat Dante mencengkeram kuat rahangnya.
Dia kesakitan, "Sa- sakit..." lirih Alka namun tak di gubris suaminya, pria itu benar-benar marah, manik indahnya terbelalak saat Dante membaringkannya dan merobek apapun yang menjadi penghalang pada tubuh mereka.
Dante mencengkeram kuat dua pergelangan tangan Alka di atas kepalanya, dan mulailah Dante menyiksa sang istri, dia menggagahi Alka layaknya bukan wanita baik-baik.
Alka hanya memalingkan wajahnya ke arah kanan dengan menggigit kecil bibir bawahnya. Masih menangis.
Satu gigitan Dante di leher Alka membuatnya meringis kesakitan.
Puas Dante menyakiti dan menyiksanya, hingga satu jam penuh pun berlalu, polos tubuh Alka tanpa sehelai benang pun, mulai memperlihatkan perutnya yang masih rata. Sekujur tubuhnya di penuhi jejak percintaan Dante.
"Aku tidak akan pernah memaafkan penghianat, apapun alasanmu untuk melakukannya!" suara itu tercipta penuh ancaman.
Dante menarik paksa tubuh Alka yang lemah, dia menggendongnya dan memandikannya hingga kembali bersih.
***
Usai mandi dan memakai pakaian lengkap, di dalam kamar itu sudah ada sekretaris Dave dan asisten Mark serta para pengawal.
Alka menatap Dante.
"Bawa dia, kurung di penjara bawah tanah!" seru Dante tak peduli.
Alka menggeleng, dia tidak mau, "Dante, aku ... "
"Jaga bicara anda, nona!" imbuh Mark.
Apa yang salah dengan semua ini?
"Tuan Dante adalah seorang pangeran yang memiliki nama lengkap William Barrack, sesaat lagi akan di nobatkan menjadi raja," imbuh Dave ikut menimpali.
"Bawa dia!" pekik Dante dengan emosi.
Para pengawal pun langsung memegangi tangan Alka, dia memberontak, "Dante dengarkan aku, aku -"
Satu pukulan di tengkuknya membuat Alka pingsan.
"Bawa dia," pinta Dante dengan wajah datar seraya duduk di tepi ranjang, yang kemudian segera di angguki para pengawal.
Kini di dalam kamar itu hanya ada mereka bertiga saja.
"Tuan?" Mark.
"Tetapi nona sedang hamil muda, tuan," Dave.
"Aku tahu, aku hanya ingin memberinya pelajaran..." tatapan Dante mendadak setajam silet yang siap menguliti Dave dan Mark, "Dave pergilah ke penjara bawah, aku ingin kau memastikan keselamatan istriku ... dan, Mark, kau juga segeralah pergi ke ruang perpustakaan. Ada El di sana, katakan semua akan baik-baik saja, penerus ku tidak boleh menjadi pengecut!"
Keduanya diam dan saling pandang untuk sesaat, mereka memperhatikan Dante yang menarik laci dan mengambil sesuatu.
"Pergilah, jangan hanya diam saja dan menjadi orang yang tak berguna."
"Kami mengerti, tuan."
Keduanya mengangguk hormat dan segera pergi ke tempat tujuan masing-masing.
***
Lampu penerangan sudah kembali menyala, pesta pun bisa berjalan kondusif kembali seperti sedia kala.
Wajah-wajah yang tadinya menegang, kini bisa rileks lagi.
"Tuan William, anda baik-baik saja? Saat lampu menyala saya terkejut karena tidak mendapati tuan dan nona di hadapan saya."
"Terima kasih untuk rasa khawatir mu, tuan, aku dan istriku baik-baik saja," seru Dante dengan tersenyum, dia menyodorkan segelas wine padanya, "Minum..."
Orang itu pun diam sejenak memandangi minumannya, "Terima kasih tuan, tetapi saya sudah minum -"
"Kau takut padaku?" Dante bertanya dengan datar, kelopak matanya terlihat menyipit lalu dia menarik satu garis senyum di sudut bibirnya.
"Tidak, tuan."
Dante kembali menyodorkannya, "Minum."
"Mmmm... baiklah."
'Sialan sekali...' pekik nya dari dalam hati, mereka berdua bersulang lalu meneguk wine bersamaan.
Tak ada yang terjadi padanya, 'Mungkin hanya perasaanku saja... ternyata dia -' "Ehm!" berkali-kali berdehem namun tenggorokannya sakit sekali, 'A- ada apa ini? Kenapa aku tak bisa mengeluarkan suara!' mulai panik.
"Ladies and gentleman, pesta kita telah berakhir... terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia datang untuk menyambut ku, anak dan istriku." Tiga tepukan tangan Dante membuat musik dansa berhenti, penasihat Jian terlihat mulai mengarahkan para pengawal untuk membubarkan pesta secara halus.
Langkah kaki Dante semakin mengikis jarak pada pria itu, dia menggeleng.
"Aku tidak tahu siapa yang mengirim mu pada kami, kau punya masalah apa dengan ku? Aku tak keberatan jika kau mau melenyapkan nyawaku... tetapi aku ... William Barrack tidak akan tinggal diam jika ada yang berani mengancam kehidupan istri dan anakku!"
Seringaiannya Dante sangat menakutkan, wajah pria itu terlihat ketakutan saat menerima aura yang mengintimidasinya. Padahal hanya saling bersitatap.
Langkahnya semakin mundur tepat saat Dante melangkah menghampirinya, berhenti di sebuah gambar lingkaran lantai marmer.
Dante memperlihatkan sebuah benda yang tadi ia ambil dari dalam laci kamarnya, Dante menaikan satu alisnya dan pom!
'Aaaaaaa!' berteriak tanpa suara.
Lantai yang ia pijaki terbelah dua, dari dalam sana sudah ada monster yang kelaparan melahap tubuh itu dengan cara aestetic.
"Cih! Berani sekali kalian mengusik Alka."
Lantai itu kembali tertutup, dengan kuat Dante menarik napas, dalam, dan menghembuskan nya dengan perlahan.
***
"Engh..." Alka mulai tersadar, perlahan membuka kelopak matanya, kepalanya terasa berat.
Lantai dingin menjadi alas tidurnya, dia membelalak saat tangannya di borgol di belakang tubuh, dengan kedua kaki yang di rantai.
"Nona sudah sadar?"
Alka mencari sumber suara itu, Dave bersandar pada pintu, "Sekretaris Dave ... tolong lepaskan aku, kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini?" tandas Alka, kedua sudut matanya mulai basah.
"Kenapa?" Dave diam dan melangkah mendekat, "Karena nona adalah pengkhianat!"
"Bukan! Aku bukan pengkhianat!"