Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Membuat Rencana


Pesta malam ini berakhir dengan baik, dan semua irang pun terlihat bahagia, maka iti sudah cukup. Aku sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Putri manis ku, Meyda Noviana Fazila lebih memilih pulang bersama tante Sabina-nya. Entah kenapa anak manis itu begitu terikat dengan Sabina, ia bahkan sampai menolak pulang bersama ku dan pulang ke rumah Opa-nya.


Prok.Prok.Prok.


Aku menekpuk tempat tidur, mencoba memberikan isyarat agar Ummi Fazila duduk di dekat ku. Dan untungnya, ia tidak membantah.


Aku merangkul Ummi Fazila dan menenggelamkan kepala ku di pundaknya. Aku suka aroma lembut yang menguar dari tubuhnya. Dan aku pun sangat menyukai aroma buah yang bersumber dari rambut hitam nan panjang miliknya.


"Abi tidak mengantuk?"


"Tidak!" Balas ku singkat sambil mengeratkan rangkulan ku di tubuh harum Ummi Fazila.


"Apa Abi boleh bertanya?"


"Tanyakan apa pun yang Abi inginkan."


"Dulu...!" Ucapan ku tertahan di tenggorokan ku, rasanya aku tidak bisa melanjutkan pertanyaan ku. Walau sudah mendapatkan maaf dari Ummi Fazila tetap saja rasanya masih sangat menyakitkan saat aku ingin menanyakan masa kecil putri berharga ku.


"Fazila kecil anak yang sangat pengertian, dia tidak pernah meminta di belikan apa pun karena dia tahu Umminya hanya bisa memberinya makan.


Fazila kecil lebih memilih menghabiskan waktunya untuk muraja'ah dari pada sekedar bermain dengan teman-temannya, karena dia tahu dengan jelas cita-citanya ingin memberi Ummi dan Abinya mahkota di Surga."


Aku bahkan belum menanyakan apa pun, namun Ummi fazila sudah bisa membaca jalan pikiran ku. Dada ku tiba-tiba terasa sesak. Cita-cita putri manis ku sangat mulia. Dia ingin memberikan Ummi dan Abinya Mahkota di Surga. Dan aku? Aku tidak memiliki peran apa pun dalam kehidupannya sampai ia bisa menghafal tiga puluh Zuj Al-Qur'an di usia belia. Hal ini membuat air mata ku kembali menetes deras.


"Jangan bergerak."


Aku semakin mengeratkan tangan ku yang masih melingkar di pinggang ramping Ummi Fazila. Aku tidak ingin ia berbalik dan menatap ku dengan tatapan kasihan.


"Kenapa? Apa Abi menangis lagi? Sejak kapan Abi berubah menjadi pria cengeng? Aku yakin sebelumnya Abi pasti tidak pernah menangis. Ummi ridho dengan takdir yang sudah si gariskan yang Kuasa, jadi Abi tidak perlu menyesali masa lalu lagi. Jika Abi benar-benar menyesal, maka sekarang Ummi mohon biarkan Ummi tidur. Apa boleh?"


Hahahahaha....


Entah kenapa tiba-tiba aku tertawa lepas, mendengar permintaan Ummi Fazila untuk membiarkannya tidur menghilangkan kesedihan juga kantuk ku. Sedetik kemudian aku menempelkan keningku di kening mulusnya.


"Baiklah. Ummi bisa tidur." Ucap ku singkat.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu Ummi Fazila terlelap. Setelah memperbaiki selimutnya aku langsung berjalan menuju ruang kerja ku yang berada di ujung lorong.


Klik.


Aku menyalakan lampu kemudian meraih ponsel yang terletak di dalam laci meja kerja ku. Mencari nomor Bobby dan berusaha menghubunginya.


"Se-selamat ma-lam, bos." Terdengar suara gugup Bobby di sebrang sana.


"Tidak perlu basa- basi. Atur pertemuan ku dengan Seren dengan alasan perkerjaan. Ingat, jangan sampai dia tahu tentang diriku, aku yakin jika dia tahu, dia akan menolak. Karena dia tahu apa yang akan terjadi setelahnya." Ucap ku dengan nada kesal.


"Ba-baik bos."


Klik.


Aku langsung mematikan ponsel, kemudian melempar ponsel itu di atas gundukan berkas yang tersimpan di atas meja kerja. Rasanya aku tidak sabar menunggu hari esok, hari di mana aku akan mematahkan sayap wanita kasar itu. Inilah alasannya kenapa seseorang tidak boleh mencintai berlebihan, tidak tahu kapan cinta itu akan berubah menjadi kebencian.


...***...


Satu bantingan keras kembali terdengar dari kamar yang terletak di lantai dua. Sejak sore ia mulai lepas kendali. Tidak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia. Dan ajaibnya, bahagia itu datang dari hati yang bersih, bukan hati yang di penuhi oleh dendam.


"Aku meminta mu menyingkirkan wanita itu. Bukannya menjaga anaknya. Aaaaaa....." Satu teriakan keras kembali memenuhi seisi rumah megah itu.


Pria tampan yang di teriaki hanya bisa membisu, mulutnya terkunci rapat sampai ia tidak bisa membalas setiap omong-kosong yang di tujukan padanya sejak setengah jam yang lalu.


"Aku tidak sesabar itu sampai harus menunggu mu bertindak. Bukannya menepati janji, kau malah berpikir menjadi Babby sitter. Enyah dari pandangan ku. Dan jangan pernah tunjukan wajah sok polos mu."


"Seren... Bukankah kau selalu bilang kau terlahir seperti dewi yang selalu membawa kebahagiaan bagi orang yang ada di sekitar mu? Lalu apa ini? Kau bukan lagi dewi berhati lembut yang ku kenal dulu! Jika kau selalu mengharapkan keburukan bagi orang lain, maka kau tidak jauh berbeda dari Iblis."


"Tutup mulut mu."


Pranggg!


Satu bantingan keras kembali terulang, kali ini berbeda. Vas yang Seren lempar secara sengaja membentur dinding, pecahannya tanpa terduga menggores wajah pria rupawan yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Kenapa? Apa kau sudah puas? Sampai kapan kau akan bertindak gila? Pria di dunia ini bukan dia saja, apa gunanya menyakiti diri sendiri? Bahkan jika kau tiada pria konyol itu tidak akan datang kedalam pelukan mu. Dia sudah bahagia bersama anak dan istrinya."


"Cukup Ruan. Cukup." Seren berteriak dengan nada suara tinggi. Tatapannya setajam belati.


"Itulah yang ingin ku katakan padamu nona Seren yang terhormat.


Cukup!


Sudah cukup kau mengusik kehidupan orang lain. Dan sudah cukup pula bagi mu mendambakan hal yang tidak seharusnya kau dambakan.


Betapa bodohnya diri ku? Aku bahkan sampai masuk kedalam regumu untuk melakukan hal tidak berguna.


Tapi, sekatarang? Tidak lagi!


Besok aku akan mengundurkan diri menjadi bodyguard keluarga itu. Aku menyerah padamu dan aku menyerah pada perasaan cintaku."


Ruan... Si pria tampan dengan sejuta pesona indahnya terpaksa harus menyerah pada gadis yang sangat di cintainya. Saat ini dadanya terasa sesak, begitu besar gelora cinta yang ada dalam hatinya. Tapi, sayangnya, perasaan itu sama sekali tak berarti apa-apa di hadapan wanita anggun yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Aku pergi. Jaga dirimu. Karena setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi." Ucap Ruan lagi.


"Pergi saja. Pergi yang jauh. Aku tidak pernah memintamu berada di sekitar ku, kau saja yang bodoh mengharapkan cinta dari wanita yang tidak mencintai mu. Mulai sekarang aku yang akan bertindak dan mendapatkan kembali cinta ku. Sekarang enyah dari hadapan ku. Pergi......!"


Pergi!


Satu teriakan kasar yang keluar dari bibir Seren kembali mengoyak jiwa Ruan. Rasanya, ia ingin memberikan pelajaran pada wanita kasar itu. Sayangnya, jiwa kelelakiannya menentangnya bertindak kasar pada wanita. Ia hanya bisa berjalan meninggalkan rumah megah berlantai dua itu dengan derai air mata. Entah laki-laki atau perempuan jika hal itu menyangkut hati, tetap saja air mata mudah sekali menetes.


Aku mencintai mu di luar pemahaman. Aku mencintai mu dan itu sebabnya aku tidak akan pernah berhenti mendo'akan kebahagiaan mu juga keselamatanmu. Gumam Ruan sambil melajukan mobilnya menembus jalanan yang legang.


...***...