Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Permintaan Bu Nani


Aku masih duduk bersimpuh di lantai yang dingin. Aku bahkan tidak memperdulikan dinginnya angin malam yang mulai terasa menusuk setiap inci tubuhku.


Jiwa ku meronta. Aku merasa tercekik. Dan air mata sialan ini tidak mau berhenti menetes. Siapa pun yang melihatku dalam kondisi ini akan berpikir aku pemuda yang payah karena menangis seperti perempuan. Terserah orang berpikir apa pun tentang diriku, tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku selain diriku sendiri. Aku berharap, semoga tidak ada orang lain yang mengalami derita seperti yang ku alami, dan semoga setiap wanita di luar sana tidak mengalami derita seperti yang di alami ibu dari putri manisku.


Aku pantas dimaki, dan aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maaf darinya. Aku berusaha meminta maaf agar aku tidak terlihat seperti pria pecundang di hadapan putri manisku yang sangat berharga, bahkan putri manisku jauh lebih berharga dari nyawaku sekalipun.


Dadaku masih terasa sesak, tangisku semakin pecah. Membayangkan wajah seindah purnama milik wanita saliha yang menjadi ibu dari putriku itu membuatku merinding luar biasa. Apa yang harus ku lakukan? Bahkan kepintaran yang kumiliki sama sekali tidak berguna di hadapan amarahnya.


Alan, apa yang akan kau lakukan sekarang? Tidak akan mudah mendapat maaf darinya. Kau pun mengerti keadaannya, kau tidak pantas mendapatkan maaf. Kau benar-benar tidak pantas mendapat maaf. Aku bergumam sendiri di sela-sela tangisku.


Sementara itu di tempat berbeda, Bu Nani masih tidak bisa menahan kepedihan yang memenuhi rongga dadanya. Mendengar pengakuan menjijikkan dari putra kebanggaannya membuat jiwanya terpukul luar biasa.


"Ma. Makanlah...! Papa akan memyuapi Mama." Ucap Pak Otis sembari membelai puncak kepala istri tercintanya.


"Menurut Papa, apa Mama bisa makan setelah mendengar apa yang Alan katakan? Kenapa Mama tidak tiada saja sebelum melihat semua ini, Pa? Kenapa? Hiks.Hiks." Bu Nani meneteskan air mata lagi. Dan ini untuk kesekian kalinya.


Sungguh, pak Otis pun merasakan hal yang sama. Dadanya terasa sesak, rasanya ia ingin menghajar putra kesayangannya itu tanpa ampun. Namun apa yang bisa ia lakukan? Semuanya hanya masa lalu, dan masa lalu selalu mengajarkan kita untuk tidak mengulangi hal yang sama.


Hiks.Hiks.Hiks.


Tidak ada hal lain yang bisa pak Otis lakukan selain menghibur istri tercintanya. Tangisan bu Nani semakin menusuk indra pendengarannya, mengatakan semuanya akan baik-baik saja tidak akan berguna, karena semuanya memang tidak baik-baik saja.


Saat ini dada pak Otis berdebar, kencang. Bahkan bernafas pun terasa sangat sesak. Membayangkan wanita yang mehirkan cucunya hidup sebatang kara membuat amarahnya semakin berlipat ganda pada putra tercintanya, Alan Wijaya.


...***...


Jiwa seorang ibu sangat mudah terluka begitu mendengar anak-anaknya menderita. Tidak ada yang lebih mengerti dengan perasaan itu selain diriku. Aku rasa hanya alasan itu yang ku punya, karena itu aku menerima ajakan bertemu dengan pihak keluarga pria yang menjadi sumber deritaku.


Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari keempat orang asing yang duduk di depanku, dua laki-laki dan dua perempuan, satu di antaranya tidak asing di netraku, karena sebelumnya aku pernah bertemu dengannya.


Bu Nani! Ya, namanya Bu Nani. Aku masih ingat dengan jelas. Beliau wanita yang ramah.


"Kami sangat malu padamu! Apa yang bisa ku katakan agar bisa menenangkanmu? Kami akui atau tidak, kamilah orang tidak beruntung itu! Kami tidak beruntung karena putra yang sudah kami didik dan jaga melebihi permata berharga telah mengecewakan kami!


Dada ku terasa sesak! Setiap detik aku bahkan berdoa agar Tuhan mengambil nyawaku sehingga rasa maluku tidak akan mengalahkan kasih sayangku!" Ucapan Bu Nani terhenti oleh isakan tangisnya.


Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah itu memamerkan kekecewaan. Mungkinkah ia merasa kecewa pada putranya? Atau ia hanya berpura-pura sedih di depanku agar aku mau memaafkannya? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menebak apa pun.


"Ini semua salahku! Aku terlalu keras padanya sehingga ia tumbuh menjadi cucu pemberontak. Salahkan semuanya padaku, karena aku layak untuk itu!" Sambung pria sepuh yang duduk di samping Bu Nani, aku sendiri tidak tahu siapa beliau. Yang jelas, beliau pasti anggota tetua keluarga pria bejat itu. Beliau pun menampakkan wajah muramnya. Tak jauh berbeda dengan wanita tua yang ada disamping kirinya. Ku tebak, beliau pasti istrinya.


Ada beberapa orang yang sangat beruntung, di berikan usia yang panjang sehingga anak dan cucunya bisa bersenda gurau dengannya. Sungguh, sangat berbeda denganku! Aku tidak memiliki siapapun tempat bersandar, karena itulah aku selalu mengatakan dengan bangga kalau putri sempurnaku Meyda Noviana Fazila adalah karunia dari Surga.


"Maafkan kami karena terlalu banyak bicara!Namaku Ochi, di sampingku adalah suamiku nama beliau Ade. Dan kedua orang ini adalah putri dan menantuku, namanya Nani dan suaminya Otis." Ucap Wanita sepuh itu memperkenalkan diri.


Aku masih diam, aku ingin mendengar ucapan apa yang akan mereka ucapkan selanjutnya. Aku tidak ingin menjadi orang tidak sopan karena memaki mereka sebelum mendengar penjelasan yang mereka bawa bersama dengan hadirnya.


Kutuklah kami sekuat yang kau mau. Tapi kami tidak akan berhenti memohon pengampunan darimu. Kami datang kemari bukan karena kami menganggap diri kami benar. Kami datang kemari karena kami ingin berlutut padamu dan menyerahkan anak kami padamu! Entah kau membunuhnya atau melemparnya dari gedung lantai dua puluh lima, terserah padamu!" Ucap Oma Ochi sambil merunduk. Sungguh, ia benar-benar tidak berani menatap wajahku.


Hhhmmm! Aku hanya bisa menghela nafas kasar. Sepertinya mereka tidak tahu anak yang mereka bicarakan sudah berlutut di hadapanku. Aku ingin keluar dari pembicaraan konyol ini. Bagaimana mungkin keluarga aneh ini menyerahkan pria brengsek itu padaku? Aku bahkan tidak bisa bernafas karena merasa jijik berada dekat dengannya. Meskipun demikian, aku masih mencoba bersikap tenang, sepertinya stock sabar yang kupunya masih kurang banyak untuk menghadapi pria itu dan keluarganya. Untuk saat ini aku hanya bisa merunduk, aku terlalu malas untuk menatap wajah keempat orang yang duduk dengan wajah sedih di depanku itu.


"Aku tahu perasaanmu! Berada dekat dengan kami pasti membuatmu sesak! Aku pun merasa jijik pada diriku sendiri. Aku marah dan kesal sampai di titik aku ingin mengakhiri putra ku, katakan padaku apa yang harus kulakukan?"


Aku kembali mendengar isakan pilu Bu Nani, sepertinya aku terlalu sombong sampai mengabaikan kesedihan yang ada di depanku. Sekarang aku yakin keempat orang asing di depanku ini tidak berpura-pura.


Kepalaku yang tadinya tertunduk kini terangkat sempurna, ku tatap satu persatu pemilik netra yang dari tadi menangis pilu itu. Aku merasa berdosa karena mengabaikan mereka.


"Tolong maafkan kami." Ucap bu Nani sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Menikahlah dengan putraku! Dengan begitu ia bisa bertanggung jawab padamu dan cucu kami!" Sambung bu Nani lagi.


Mendengar ucapan Bu Nani dadaku kembali terasa sesak, tiba-tiba saja air mataku menetes deras, aku menangis bukan lantaran bahagia. Menurutku ucapan Bu Nani terlalu mengejutkan sampai aku tidak bisa berkata-kata. Melihat ekspresi wajah kesalku Bu Nani terlihat menyesal.


"Katakan padaku, kata-kata seperti apa yang harus ku katakan pada anda selain kata-kata kasar?" Aku bertanya sembari menatap keempat orang asing di depanku secara bergantian. Tidak ada jawaban dari mereka selain helaan nafas kasar. Aku rasa mereka mengerti maksudku tanpa harus mengatakan umpatan.


"Aku bahkan tidak bisa menatap wajah putra kalian! Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan agar aku tidak mengecewakan kalian?" Aku kembali bertanya, kali ini dengan suara kecil, suara yang nyaris tak terdengar.


"Selama delapan tahun terakhir hidupku di penuhi oleh air mata! Jika anda mengatakan putra anda juga menderita, sekarang katakan padaku, apakah putra anda lebih menderita dariku atau tidak? Jika anda tahu jawabannya maka aku akan memaafkannya!" Aku menepuk-nepuk dadaku yang semakin terasa sesak. Sementara air mataku tak bisa berhenti menetes, masih banyak yang ingin ku katakan pada keempat orang di depanku namun ucapanku terkatup di bibirku.


"Apa anda tahu? Setiap tanggal dua belas April dadaku selalu berdebar kencang, karena hari itu putri manisku akan bertanya siapa ayahnya dan dimana dia tinggal? Apa anda tahu apa yang akan ku lakukan ketika hal itu terjadi? Aku berpura-pura tidak mendengar pertanyaannya, kemudian di tengah malam aku akan menangis sesegukan karena aku tidak tahu siapa pria brengsek yang telah menghancurkan kepercayaan diriku! Sekarang katakan padaku, apa aku harus melakukan permintaan kalian sementara berada di dekat putra kebanggaan kalian membuat ku berada di titik aku ingin tiada. Katakan padaku apa yang harus kulakukan agar tidak membuat kalian kecewa?" Aku bicara dengan mata tertutup, tapi air mataku tetap tidak bisa berhenti menetes.


Jika ada yang mengutukku karena aku tidak bisa memaafkan pria itu, maka aku minta maaf telah mengecewakan mereka. Hanya saja, derita yang ku alami ini tidak semudah itu sembuh hanya dengan seuntai kata 'Maaf' Hatiku masih terasa sakit, karena itu tidak mudah untuk memaafkannya.


Fatimah Azzahra! Kau sangat kejam. Aku bergumam sendiri dalam hatiku namun mataku tetap tak bisa berhenti menetes.


"Maafkan kami karena meminta hal yang sangat sulit darimu! Kami tidak tahu ternyata dukamu sangat dalam." Ucap Opa Ade pelan, wajah sepuh itu terlihat sangat sedih.


"Aku bukan orang yang kejam. Kalian tahu kalau kalian punya seorang cucu, kalian bisa menemui putriku kapanpun yang kalian inginkan. Dan mohon maafkan aku, aku tidak bisa memberikan apa yang kalian inginkan.


Lebih baik kita akhiri saja pembicaraan ini!Tidak ada penyelesaian dari masalah ini.


Maafkan saya! Sekali lagi maafkan saya karena tidak bisa memberi apa yang kalian minta. Saya butuh waktu, entah setahun, dua tahun, bahkan delapan tahun kemudian, saya tidak tahu apa saya bisa memaafkan putra anda." Ucapku dengan suara tenang.


Aku beranjak dari tempat dudukku, kemudian meninggalkan keempat orang itu setelah mengucapkan salam, salam adalah doa terbaik untuk seorang muslim. Sebelum meninggalkan mereka, ku tatap wajah keempat orang di depanku, mereka terlihat kecewa, namun setelah mendengar ucapanku yang mengizinkan mereka bertemu putri cantikku mereka terlihat mengukir senyuman.


Walaupun aku membenci putranya, setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan untuk tidak mengecewakan keempat tetua keluarga Wijaya itu, anggota tetua yang sebenarnya tidak memiliki salah apa-apa padaku.


Ya Allah... Maafkan aku karena aku masih saja egois! Aku menolak permintaan bu Nani dengan suara menyakinkan! Bagaimana aku bisa menikah dengan putranya? Sejatinya orang itulah yang paling ku benci saat ini! Aku berharap tidak ada yang merasa kecewa karenaku! Fatimah, kau dalam masalah besar! Lirihku dalam hati sembari beranjak meninggalkan Ruang VVIV Restoran yang ku kunjungi kemarin malam bersama dokter Araf dan pria itu, pria yang bahkan tidak ku ingat namanya.


...***...