Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Tanpa Amarah


Gemerlap panggung Hafidz Qur'an sore ini membawa suasana sedikit berbeda, dekorasi panggung dengan pencahayaan luar biasa kali ini membawa semangat baru bagi peserta Hafizd Qur'an yang masih tersisa. Tiga minggu berlalu sejak proses penayangan pertama namun tetap saja semua ini terasa sangat menegangkan.


"Ummi... Apa Ummi tegang lagi?" Aku teringat pertanyaan singkat putri manisku sebelum acara ini di mulai.


Tegang? Yaaa... Aku merasa selalu tegang setiap kali putri manisku tampil di atas panggung. Apa yang harus ku lakukan agar hatiku kembali tenang? Satu jam berlalu sejak acara ini berlanggung secara langsung di saluran Tv Swasta namun hatiku masih saja merasakan hal yang sama, khawatir, sedih, tegang, takut dan was-was, rasanya semua perasaan itu memenuhi rongga dadaku sampai bernafas pun terasa sangat berat.


Saat ini aku duduk di panggung sebelah kiri bersama ketiga Wali dari anak-anak yang menjadi Rival Fazila, mereka sama sepertiku, mereka terlihat tegang sejak kami duduk di kursi yang sudah di siapkan panitia acara Hafidz Qur'an.


Terimakasih... Kami masih menemani anda dan anda masih menyaksikan kami. Ini dia acara kebanggaan kita semua Hafidz Indonesia... Berkah bersama Al-Quran.


Ucapan pembuka dari host yang sebaya denganku itu terdengar penuh semangat. Wajah tampan sekaligus bahagianya membuat panggung Hafidz sore ini terasa hangat dan menyenangkan. Bahkan Host muda itu tak berhenti menyunggingkan senyuman dari bibir tipisnya, seolah senyumnya itu mengabarkan 'Tidak ada masalah yang besar karena Allah lah yang maha besar, tidak ada duka yang akan menghampirimu jika kau menjadikan Al-Quran sebagai tuntunan hidup mu'


Aku mengusap dada sambil menutup mata, mencoba menghadirkan wajah cantik putriku, Meyda Noviana Fazila.


Tadi kita sudah menyaksikan penampilan tiga Finalis yang sangat luar biasa, dan kali ini kita akan menyaksikan penampilan terakhir dari peserta terakhir kita, kita sambut Meyda Noviana Fazila...


Suara tepuk tangan dari hadirin yang hadir di studio terasa bergema di telingaku, mereka menyambut masuknya putri manisku di tengah-tengah panggung Hafidz Qur'an. Aku tersenyum melihat wajah penuh senyuman Fazila, aku tahu ia pasti merasa gugup. Aku sangat bangga padanya karena ia bisa mengatasi keadaannya saat ini, keadaan yang aku sendiri masih merasakan gugup luar biasa.


Fatimah... Putrimu sangat membanggakan! Walau ia terlihat tegang, ia berhasil melewati rasa takutnya. Kau sangat beruntung! Aku bergumam sendiri sambil menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.


Kali ini pandangan ku mengarah kearah kursi bagian depan yang terletak di sisi kiri, disana sudah duduk keluarga dari pria itu, pria yang belum sanggup ku sebut namanya tanpa menorehkan setitik luka yang masih tersisa.


"Assalamu'alaikum..." Putri manisku mengucapkan salam sambil melambaikan kedua tangannya menyapa semua orang.


"Wa'alaikumsalam..."


Semua orang membalas salam putri manisku dengan perasaan lega luar biasa. Sungguh, air mataku kembali tumpah. Tidak pernah sekalipun aku membayangkan hari seperti ini akan hadir dalam kehidupan sunyiku.


Sementara itu, di kursi pojok paling belakang masuk seorang pria berbadan tegap dengan memakai setelan jas. Keluarganya tidak ada yang menyadari kedatangannya karena memang ia datang di saat lampu di matikan, hanya lampu yang ada di panggung yang dinyalakan untuk menambah kesan menakjubkan.


"Hai nak, apa kabar...?" Host muda itu kembali menyapa Fazila.


"Baik, kak!"


"Bagaimana perasaanmu setelah berada si empat besar? Kali ini tantangannya sedikit berat. Untungnya itu tidak jauh berbeda dengan ketiga temanmu sebelumnya. Hahaha!" Ucapan host itu di barengi dengan tawa khasnya.


"Tadinya Fazila merasa sangat gugup, karena disana ada Ummi jadi Fazila tidak merasakan takut lagi!"


"Kau sangat menyayangi Ummi ya? Kakak dengar kau hanya tinggal berdua dengan Ummi. Apa itu benar?"


Host Muda itu kembali mengurai tanyanya, pertanyaannya sangat sederhana namun putri manisku pasti akan menangis karenanya. Apa yang harus ku lakukan?


"Dulu Fazila dan Ummi tinggal hanya berdua saja. Tapi sekarang tidak lagi." Balas putri manisku dengan senyum mengembang di wajam cantiknya.


Ternyata aku salah, putri manisku tidak meneteskan air mata, ia malah tersenyum seolah dunia sedang bersujut padanya. Itu artinya ia sangat bahagia, dan aku akan mempertimbangkan perasaannya walau itu terasa menyesakkan dadaku.


Abi? Abi? Abi? Satu kata itu terdengar masih asing di telingaku. Ku akui sekarang aku tidak terlalu membencinya, meskipun begitu aku masih belum bisa menerima kehadirannya. Aku masih memberikan waktu untuk diriku sendiri. Insya Allah, perasaan kesal, amarah, benci dan luka ku akan segera menghilang karena aku percaya Allah akan menyembuhkan semua luka selama kita menjalani hidup ini dengan berserah diri pada sang pemilik jiwa, Allah.


...***...


Alan... Tidak ada lagi yang kau butuhkan dalam hidup ini. Bahkan tanpa kau meminta Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sudah memberikan segalanya untukmu. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan...? Aku bergumam sendiri sambil berdiri tegap di dalam Lift.


Dua jam berlalu sejak penampilan menakjubkan putri salihaku. Sungguh, aku tidak pernah merasakan bahagia sebesar ini sebelumnya. Kehadiran putri salihaku membawa banyak kebahagiaan dalam hidupku, bahkan bibirku tak berhenti menyunggingkan senyuman menawan. Untungnya aku hanya sendiri di dalam Lift. Aku rasa aku mulai tidak waras. Apa itu mungkin? Yahh... itu mungkin-mungkin saja.


Glekkkk!


Aku langsung menelan saliva begitu pintu Lift terbuka, sosok menawan itu berdiri di depanku dengan tatapan lembutnya. Ia cukup terkejut dengan kehadiranku, aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Pintu lift hampir saja tertutup namun tetap saja ia tidak berniat menggerakkan kakinya.


Kami saling menatap tanpa berucap sepatah kata pun, yang bisa ku lakukan hanya menahan agar pintu Liftnya tidak tertutup. Perlahan namun pasti, kaki jenjang itu melangkah pelan menuju kearahku. Lima langkah, hanya lima langkah. Aku yakin, perlahan-lahan jarak lima langkah yang memisahkan kami saat ini akan menghilang dan di gantikan dengan kebahagiaan tanpa batas.


"No-nona Fa-ti-mah mau kemana?"


Seperti pecundang, aku bahkan bicara dengan perasaan gugup luar biasa. Tidak ada balasan darinya selain anggukan kepala kecil. Aku merunduk sambil mencerna keadaan yang ada.


Haruskah aku keluar dan meninggalkannya sendiri? Jika aku tetap disini aku pasti akan membuatnya semakin menderita! Aku mulai bergumam sendiri sembari bersiap turun di lantai selanjutnya.


"Nenek Nyainya Fazila berada dirumah sakit. Jadi, aku akan kerumah sakit menggunakan taksi."


Glekkkkk!


Lagi-lagi aku hanya bisa menelan saliva ku. Ini terlalu mengejutkan. Ini terasa bagai mimpi yang menjadi nyata. Dia bicara denganku tanpa amarah! Bukankah ini luar biasa?


"Fazila ingin menginap di rumah omanya. Aku memberinya izin karena aku harus tinggal dirumah sakit.


Alhamdulillah... Sekarang dia masuk tiga besar. Itu artinya dia harus belajar lebih giat lagi, setelah ini dia tidak akan bisa berkunjung kerumah kalian lagi.


Jadi... Sebagai hadiah untuk putriku, aku mengizinkan Omanya membawanya untuk menginap lagi di rumah kalian. Dan ini untuk yang terakhir kalinya. Hanya ini yang bisa ku lakukan. Mohon jangan salah paham."


Apa aku tidak salah dengar? Dia bicara denganku dengan nada yang lembut? Dia menatap wajahku? Apa artinya dia mulai membuka hatinya untukku? Assahhhhh....! Sudut bibirku sedikit terangkat, ia bahkan menatap wajah tersenyumku.


Banyak hal yang ingin ku bicarakan dengannya, sayangnya ia berjalan meninggalkanku setelah mengucapkan salam. Bahkan, ia mulai mempercepat langkah kakinya setelah mendapat panggilan dari seseorang yang ia sebut sebagai Kiai.


Pembicaraan singkat yang berlangsung selama di Lift tadi benar-benar meninggalkan kesan luar biasa di lubuk hati terdalamku. Ia menatapku tanpa kebencian! Ia bicara padaku tanpa amarah! Ia mengizinkan putri kami tinggal bersama ku lagi! Bukankah ini karunia yang sangat luar biasa?


Jika aku bisa aku ingin segera bersatu dengannya, duhai sang penguasa jiwa dan yang maha membolak-balikkan hati manusia. Satukan hatiku dengannya. Aku tahu aku tidak suci, namun setidaknya aku sudah mengaku salah dan ingin memperbaiki kesalahan yang telah lalu.


Aku juga tahu, butuh waktu untuk bisa menyembuhkan luka. Semoga kali ini kami bisa berjalan bersama dan saling menyembuhkan luka masing-masing.


...***...