Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Teman Baru


"Apa yang kau lakukan? Kita harus segera kembali kepenginapan!" Ucap lelaki separuh baya itu di tengah kerumunan.


"Apa kau akan membeli sayur? Tidak kan! Lagi pula untuk apa kau jalan-jalan ke pasar? Tempat ini sangat kotor. Iihhhh..." Ucap lelaki separuh baya itu lagi sembari mengibaskan tangannya yang tak sengaja terkena karpet yang di gotong kuli khusus pengangkut barang.


"Master, bukan kah aku sudah memintamu untuk tidak mengikutiku! Lihat, sekarang kau terjebak dimana?" Ucap lelaki tampan bertubuh kekar itu.


"Jangan ikuti aku! Aku akan pulang sendiri." Ucap lelaki muda berwajah rupawan itu lagi. Tidak ada beban di pundaknya, ia hanya ingin menghabiskan waktu senggangnya dengan menikmati suasana menyejukkan di pedesaan.


"Araf. Araf. cepat kembali! Araf." Berkali-kali lelaki separuh baya itu memanggil, namun ia tetap saja di abaikan. Yang lebih membuatnya kesal, lelaki yang ia panggil sama sekali tak menghiraukan panggilannya, lelaki tampan itu berjalan sembari melambaikan tangan.


...***...


Araf Walker!


Namanya Araf Walker, ia terlahir dengan sendok emas di tangannya. Wajah rupawan, kulit putih, mata biru, humoris, rasanya tidak akan cukup untuk menjelaskan tentang sosok dirinya.


Sejak kecil ia menjadi anak kebanggaan, sayangnya sikap playboy dan mudah bosan menjadi hal terburuk yang ada dalam dirinya. Jiwa bebasnya membawanya menuju Malang, setiap orang ingin tinggal di kota besar untuk memperbaiki ekonominya. Namun tidak dengan Araf, ia lebih memilih tinggal di pedesaan dari pada di Ibu Kota yang padat.


Mungkin itu salah satu impiannya, impiannya untuk menghabiskan masa mudanya di tempat yang memiliki pemandangan indah dengan udara yang menyejukkan, dan pilihannya jatuh pada Kota Malang.


Araf selalu melakukan kesalahan, karna itulah mamanya meminta peria separuh baya itu untuk mengikutinya sampai pedesaan hanya untuk memberikan laporan setiap inci kegiatannya.


"Untunglah pria payah itu sudah pergi! Aku benar-banar bodoh, kenapa juga aku percaya mama akan membiarkan ku sendirian tanpa di ikuti antek-anteknya." Lirih Araf pelan sembari membelah jalanan yang licin.


Araf berjalan menyusuri lorong jalanan licin, semalam hujan deras mengguyur Malang. Ketika ia hampir saja terjatuh, ia di kejutkan oleh suara gelak tawa empat bocah yang berdiri di belakangnya.


"Hai kalian, apa kalian meledek ku?" Tanya Araf dengan tatapan tajam.


Hahahhaaa! Bukannya menjawab, anak-anak itu malah tertawa semakin keras.


"Kita tidak boleh menertawakan orang yang sedang terkena musibah, katakan maaf padanya!" Ucap bocah berjilbab biru itu sembari berbisik di telinga temannya.


"Ssttt! Kau diam saja ini urusan laki-laki."


"Hai kamu, siapa namamu?" Tanya Araf sembari melipat lengan bajunya.


"Kenapa aku harus memberi tahukan namaku pada orang asing! Aku tidak mau."


"Ssttt! Kau tidak boleh berkata seperti itu, Ummi bilang, kita harus menghormati orang yang lebih tua. Dan dia lebih tua dari kita." Ucap bocah berjilbab itu lagi.


"Hai gendut, ternyata teman gadismu lebih baik dari mu. Hai nak, siapa nama mu?" Tunjuk Araf pada bocah berjilbab itu.


"Fazila. Namaku Fazila."


"Aku Lisa."


"Aku Dena."


"Dan kamu, gendut. Siapa nama mu?" Tanya Araf tanpa memperdulikan wajah cemberut orang yang di tanyanya.


"Dia, Amir. Ucapannya memang sedikit jutek, tapi dia orang yang baik." Balas Fazila sembari memamerkan wajah tersenyumnya.


"Kenapa kau bicara dengannya? Dia itu orang asing, siapa tahu dia penculik yang berkeliaran seperti yang ada di berita. Takut." Amir menarik tangan Lisa dan Dena. Tanpa aba-aba tiga bocah itu berlari meninggalkan Fazila sendirian.


Fazila terlihat ketakutan, namun ia berusaha bersikap normal.


"Hai, nak. Kamu tidak perlu takut. Kakak bukan orang jahat." Ucap Araf menenangkan.


"Benarkah?"


"Kakak sedang tersesat! Tadinya kakak mau pulang, eeeehh... Tidak tahunya kakak malah melewati jalan yang salah."


"Tidak apa-apa, aku akan membantu paman." Fazila berusaha bersikap ramah.


"Apa kamu tidak takut seperti ketiga temanmu? Kamu bisa pergi jika kamu mau!"


"Tidak. Tidak. Aku tidak akan meninggalkan orang yang sedang tersesat. Jika aku sampai melakukan itu, Ummi pasti akan memarahiku."


"Ummi. Siapa Ummi?" Araf bertanya karna tidak tahu, baju putih yang ia gunakan terlihat kotor karna sebelumnya tanpa sengaja tertumpah jus mangga selama berada di pasar. Di tambah kehadiran lelaki separuh baya yang mengikutinya membuatnya sedikit kesal.


"Ummi? Ummi itu ibuku." Jawab Fazila polos.


"Oo... jadi nama ibumu Ummi?" Araf bertanya lagi, pertanyaan yang tampak bodoh, Fazila tersenyum karna pertanyaan konyolnya.


"Paman, nama ibuku bukan Ummi! Nama ibuku Fatimah! Ummi itu panggilan yang ku berikan pada ibu. jadi Ummi itu artinya ibu." Jawab Fazila dengan tatapan heran, baru kali ini ia bertemu dengan orang aneh.


Araf menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa terciduk, dan ia merasa seperti orang terkonyol yang pernah ada di dunia ini.


"Paman mau kemana? Jika aku tahu aku pasti


akan mengantar anda." Jawab Fazila sopan.


"Kakak mau kerumah dinas, tapi kakak lupa jalannya. Kakak juga tidak membawa ponsel, jadi kakak tidak bisa memberitahukan siapa pun." Araf menghela nafas panjang, ia sendiri tidak tahu akan mengalami hal konyol, egonya merasa terluka karna tidak tahu jalan pulang.


"Rumah dinas? Jadi paman orang yang di bicarakan kakek Kiai?" FaziIa memamerkan wajah cerianya.


"Kakek Kiai, siapa dia?"


"Paman tidak perlu tahu dia siapa. Katakan padaku, apa anda paman doktor yang datang dari kota?"


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Araf dengan intonasi semangat empat lima.


Araf yang masih terbawa suasana karna ada yang mengenali dirinya merasa sangat bahagia, sesaat ia teringat peristiwa ketika berada di pasar. Bukan pertikaiannya yang ia ingat, melainkan ia mengingat wajah menawan di hadapannya. Sungguh, untuk sepersekian detik ia tergoda oleh wajah wanita yang di belanya, kepalanya tertutup oleh kain panjang, ia tidak bisa melihat rambutnya namun ia tahu wanita di depannya adalah mutiara tak tersentuh, mutiara yang berhasil mencuri dua jam terakhirnya.


"Ummi yang cerita, Ummi bilang akan ada dokter baru yang akan tinggal di rumah dinas, karena rumah dinas sedang ada perbaikan, paman akan tinggal di rumah yang sudah disediakan kakek Kiai."


"Oo banarkah. Itu sangat menyentuh." Ucap Araf sembari menggenggam jemari Fazila. Mereka mulai menyusuri jalan setapak, tak ada percakapan apapun di antara mereka berdua.


"Paman, rumah ku sudah dekat. Apa kau mau mampir, di dalam ada Ummi. Aku yakin Ummi akan senang." Ucap Fazila diantara senyapnya udara.


"Terimakasi sayang, kakak harus kembali kerumah dan istirahat. Ooo iya... Kakak lupa, siapa tadi namamu?" Araf bertanya sembari duduk menyeimbangkan diri dengan tinggi Fazila.


"Namaku Fazila. Aku anak kesayangan Ummi." Ucap Fazila cepat.


"Baiklah Fazila, mulai saat ini kau adalah temanku, dan aku adalah temanmu."


"Tidak.Tidak. Aku tidak bisa berteman secepat itu. Aku harus bertanya dulu pada Ummi, lagi pula anak kecil tidak bisa berteman dengan orang dewasa." Jawaban Fazila berhasil membuat Araf terkekeh.


Anak yang manis! Lirih Araf dalam hatinya.


"Baiklah kalo begitu. Aku akan menjadi teman baru mu hanya jika ibumu mengizinkannya." Balas Araf, disusul lambaian tangan kecil milik fazila.


*Rezeki terindah bukanlah Harta, tapi rezeki terindah adalah tenangnya hati, akal yang sehat, badan yang sehat, hati yang bersih, pikiran yang indah, doa ibu, tali persaudaraan, dan perhatian sahabat.


Bahagia tidak selalu datang pada yang berkuasa, karna sesungguhnya bahagia akan datang pada diri yang selalu mensyukuri setiap anugrah dari yang kuasa. Allah*.


...***...