Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Menginap Part2 (Fazila)


Air mata ini tidak bisa berhenti menetes, menatap putri manisku semakin menambah gejolak di hatiku, apa jadinya diriku tanpa kehadirannya? Dan apa jadinya hidupku tanpa maaf dari Ummi putri manisku.


Alan... Kau harus pulang, nak! Fazila ada di rumah! Opa dan Oma sudah menjemputnya di asrama. Untungnya Fatimah memberikan izinnya sehingga Opa bisa membawa Fazila pulang, malam ini dia akan menginap. Mama sangat bahagia...


Setelah membaca pesan singkat Mama, semua kepedihan yang ku rasakan karena Seren serasa menguap ke angkasa. Tanpa berpikir panjang aku langsung meraih jas yang kusampirkan di sandaran kursi, berlari menuju parkiran kemudian berkendara seperti orang tidak waras. Untungnya jalanan sore ini tidak terlalu ramai sehingga aku sampai rumah tanpa harus terjebak dalam kemacetan panjang.


"Tante, ini sangat enak. Sayangnya Fazila tidak bisa memakannya."


Aku masih menatap Malaikat kecil ku dari balik daun pintu, wajah cantiknya memamerkan kesedihan. Entah apa yang membuatnya sesedih itu sampai ia tidak bisa memakan makan yang sengaja Mama siapkan di atas meja makan.


Wajah sepuh Oma dan Opa terlihat prustasi. Ku taksir, sejak putri manisku menginjakkan kaki di rumah megah kediaman Wijaya, ia belum memakan apapun, apa itu mungkin? Jika itu putri manisku maka itu mungkin-mungkin saja.


Fazila tidak pernah berpisah dari Umminya, sekarang ia akan menginap di rumah Omanya, keluarga baru yang bahkan belum terlalu akrab baginya.


"Kenapa sayang? Apa kau ingin makan-makanan lain? Katakan pada Tante, Tante akan meminta semua Art disini membuatkan makanan sesuai seleramu." Sabina, adik cantik ku bahkan ikut ambil bagian. Sepertinya Mama, Papa, Oma dan Opa tidak bisa menghibur putri manisku.


"Ummi tidak bisa makan tanpa kehadiran Fazila disisinya! Fazila juga sama, Fazila tidak bisa makan tanpa disuapi Ummi! Fazila rindu Ummi."


"Assalamu'alaikum...!" Aku masuk sambil memamerkan senyuman, senyuman yang coba ku tampilkan untuk menutupi kesedihanku.


"Wa'alaikumsalam...!" Ucap semua anggota keluarga, termasuk putri manisku di dalamnya.


"Abi...!" Putri manisku berlari kearahku, bibir tipisnya terlihat berkerut, wajah cantiknya mulai meneteskan air mata.


"Abi kemana saja? Fazila rindu Abi, Fazila juga rindu Ummi! Hiks.Hiks!" Air mata yang tidak ingin ku lihat kembali tumpah. Aku tidak ingin menangis lagi, dan derita ini tidak boleh menghampiri putri manisku.


"Ada apa? Apa Nenek buyut memarahimu? Katakan pada Abi, Abi akan memarahinya!" Tanyaku sambil membersihkan sisa air mata Fazila.


"Semua orang sangat baik, tante Sabina juga baik." Balas putri manisku sambil mengeratkan pelukannya. Aku berjalan menuju meja makan sambil menggendong putri manisku. Tidak ada ucapan apa pun yang keluar dari lisannya ketika aku mendudukkannya di samping Oma Ochi.


"Kau lihat wajah semua orang? Mereka terlihat sangat khawatir! Apa putri Abi membuat semua orang kewalahan?" Aku bertanya sambil menatap wajah merunduknya. Wajah itu menceritakan kesedihan mendalamnya, kesedihan yang bisa terbaca dari kaca mataku sebagai seorang ayah.


"Ia... Fazila membuat semua orang khawatir! Fazila tidak bisa hidup di tempat yang tidak ada Umminya. Fazila juga tidak bisa makan tanpa disuapi Ummi!" Ucapan jujur putri manisku mengoyak lubuk hati terdalamku.


Untuk sesaat aku menatap wajah Mama, Papa, Oma, Opa dan Sabina. Mereka pun merasakan kesedihan yang sama, apakah ini yang dikatakan orang dengan sebutan keluarga? Mereka akan menangis bersamamu ketika kau sedih, dan mereka akan tertawa bersamamu ketika kau bahagia! Ku akui aku sangat bodoh, untuk hal sederhana seperti ini pun ku pelajari setelah putri manisku memasuki hidupku yang di penuhi air mata, penyesalan dan kesedihan.


"Abi ada disini! Abi akan selalu menemanimu! Abi akan tertawa bersamamu, Abi akan menangis bersama mu, Abi juga akan makan bersama mu, Apa putri cantik Abi akan menemani Abi makan?" Aku bertanya sambil mengangkat dagu Fazila, Malaikat kecilku itu memilih untuk tetap diam bagaimanapun caraku mendesaknya untuk bicara. Bibir tipisnya kembali mengerucut, tetesan bening itu kembali menetes dari mata besarnya.


Aku mencium telapak tangannya dengan perasaan haru luar biasa. Sepersekian detik kemudian ia menghentikan tangis pilunya sambil menatap air mataku yang tanpa sengaja menetes tepat di atas punggung tangannya.


"Apa Abi belum makan?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibir putri manisku setelah ia menghentikan tangisnya. Tidak ada jawaban dariku, aku hanya bisa diam, masih menahan kesedihan.


"Fazila akan makan bersama Abi." Wajah indah putriku memamerkan senyuman seindah purnama, tidak ada lagi raut kesedihan yang di tampakkannya.


Aku kembali metatap wajah semua orang, Mama, Papa, Opa, Oma dan Sabina, mereka tersenyum kearahku seolah tidak terjadi apa-apa. Kehangatan ini membelai lembut lubuk hati terdalamku, seketika terlintas bayangan wajah ibu dari putri manisku, entah kapan kami bertiga akan makan bersama seperti hari ini.


...***...


Lima jam berlalu sejak putri manisku berangkat menuju rumah neneknya, entah kenapa hatiku terasa hampa tanpa kehadirannya. Setelah selesai Salat dan membaca Al-Quran aku bahkan tidak melakukan apa pun, aku berbaring di ranjang sambil menghela nafas kasar. Biasanya aku selalu mematikan ponsel di malam hari, entah kenapa aku lupa mematikannya, sepertinya pikiranku terlalu fokus pada putri manisku.


Baru saja bersiap untuk tidur, tiba-tiba ponsel yang ku letakkan di atas nakas berdering. Walau malas aku tetap meraihnya dengan tangan kanan, melihat nama yang tertera di layar ponsel bibir tipisku langsung mengukir senyuman.


"Wa'alaikumsalam." Aku tersenyum sambil mendengar untaian kata yang di rangkai Nyai Latifa. Aku bisa membayangkan wajah bahagianya, karena aku pun tersenyum mendengarnya.


"Benarkah? Kapan Nyai?" Aku bertanya dengan antusias yang tak jauh berbeda dari Nyai Latifa.


"Besok..." Ucapan Nyai Latifa terhenti karena ada yang memanggilnya.


"Fatimah, kami akan menyaksikan penampilan Fazila dari studio. Penerbangan kami pukul 9.30." Sambung Nyai Latifa di sebrang sana.


"Sampai jumpa besok. Assalamu'alaikum." Ucap Nyai Latifa lagi tanpa memperpanjang pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam..." Balas ku.


Percakapan kami berakhir, aku tersenyum sambil mengingat kembali ucapan Nyai Latifa, beliau akan menyaksikan penampilan langsung Fazila di atas panggung? Itu benar-benar berita besar. Aku tersenyum sendiri sambil membayangkan wajah bahagia putri manisku yang akan bertemu kakek dan neneknya.


Baru saja membayangkan wajah bahagia putri manisku, ponsel yang ku letakkan di atas tempat tidur kembali berdering. Untuk sesaat aku mengerutkan dahi, menatap nomer baru yang nampak di layar ponselku.


"Assalamu'alaikum..." Sapaku pelan.


Entah orang aneh mana yang berani menghubungiku di tengah malam begini. Waktu baru saja menunjukan pukul 21.00 namun bagiku jam 21.00 itu termasuk tengah malam. Aku selalu membiasakan diri tidur di awal malam sehingga aku bisa bangun di sepertiga malamku.


Mmmmmmm!


Aku berdehem dengan suara cukup pelan, aku sengaja melakukan itu agar pemilik suara di sebrang sana menunjukan keberaniannya, dua menit berlalu namun ia masih juga diam sampai akhirnya aku memutuskan untuk mematikan sambungan telpon yang ada di tanganku.


"Fazila ada disini, Mi! Fazila rindu Ummi. Fazila tidak bisa tidur tanpa Ummi!"


Suara serak putri manisku memenuhi indra pendengaranku, rasanya aku ingin berlari kearahnya dan memberikan pelukan pada Malaikat kecilku itu. Ia pasti sangat sedih, tidak ada yang bisa ku lakukan selain mencoba menguatkannya dengan kata-kata yang bisa menenangkannya.


"Mmmm! Apa putri cantik Ummi sedang menangis? Wahh... Ummi benar-benar bangga padamu karena akhir-akhir ini kau sering membuat Ummi sedih." Godaku sambil memeluk boneka kesukaan putriku.


"Ummi adalah Ummi terburuk di Dunia, karena Ummi membiarkan putri cantiknya menangis sendirian" Sambungku lagi dengan ucapan santai.


"Kenapa Ummi berkata seperti itu? Ummi adalah Ummi terbaik di Dunia, Fazila tidak akan memberikan siapa pun mengeluh pada Ummi, Fazila janji." Balas Putri manisku di sebrang sana, tangisnya tak terdengar lagi, aku mulai tersenyum karena aku tahu ia mulai tenang.


"Katakan pada Ummi, apa semua orang bersikap baik padamu? Apa kau mau Ummi memarahi mereka?" Aku bertanya sambil tersenyum, suara penuh semangatku berhasil membuat putri manisku tertawa lepas. Untuk sesaat yang terdengar hanya suara gelak tawa saja. Kurasa aku sangat merindukan putri manisku, aku tersenyum namun mataku meneteskan air mata.


"Kau tahu kan sekarang sudah malam?" Aku bertanya sambil menghapus sudut mataku dengan punggung tangan.


"Sekarang, tidurlah! Kau harus bersikap baik pada semua orang, jangan nakal disana. Meskipun Ummi jauh darimu kau selalu ada dalam setiap tarikan dan hembusan nafas Ummi. Ummi sangat menyayangimu." Sambungku pelan.


"Fazila juga sayang Ummi!"


Klikkkk!


Pembicaraan yang di penuhi kasih sayang itu berakhir dengan senyuman juga Ucapan salam.


...***...


"Apa kau ingin Abi mengantarmu pada Ummi? Jika putri Abi mau, akan Abi lakukan!" Aku bicara sambil menatap wajah cantik putriku, tidak ada sahutan darinya, ia merunduk sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


"Kenapa tidak? Kau tidak akan bisa tidur tanpa Ummi, dan Abi tidak akan bisa tidur jika kau tidak tidur."


Aku mendekati Fazila kemudian memangkunya, jika di pikir-pikir ini pertama kalinya aku memangku putri manisku. Bukankah aku ayah yang menyedihkan? Yaa, aku memang ayah yang menyedihkan, dan aku mengakui itu.


"Amir dan Lisa tinggal bersama ayah dan ibu mereka! Kapan Fazila bisa tinggal bersama Ummi dan Abi? Fazila ingin tinggal bersama kalian berdua."


Ucapan tulus putri manisku menggetarkan lubuk hati terdalamku. Bagaimana caraku menjawab pertanyaan singkatnya? Pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kali ini aku berbaring di samping kanannya sambil menepuk pelan bahunya.


"Kau lihat langit malam ini? Langit malam hanya menawarkan kegelapan. Dulu kehidupan Abi sama seperti langit malam, gelap tanpa cahaya.


Tapi, semenjak putri Abi datang, hidup Abi mulai berubah. Tidak ada lagi kegelapan, tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanya harapan. Harapan untuk selalu bahagia dan membuat putri Abi bahagia. Terima kasih karena menjadi putri Abi." Ucapku dengan suara lirih, sementara itu putri manisku yang ku ajak bicara telah tertidur pulas.


Pelan jemariku meraih ponsel yang ku letakkan di atas nakas, kemudian iseng menatap potret saliha Bidadari kecilku.



Bibir tipisnya yang selalu melantunkan Al-Qur'an, dan mata besarnya yang selalu tertunduk dan meneteskan air mata kala merindukan Umminya, membayangkan semua itu saja membuat hatiku terasa seperti teriris, pilu. Sangat pilu sampai aku tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhku.


Ya Allah... Terima kasih kau izinkan aku memeluk putri manisku. Bukan hanya melihat potretnya, putri manisku bahkan tidur di sebelahku. Ucapku sambil tersenyum kemudian mencium potret cantik Meyda Noviana Fazila yang mengenakan pakaian serba putih, setelah itu aku mencium puncak kepala Fazila. Suatu keajaiban bagiku kala putri manisku memelukku seperti malam ini.


...***...