Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Nasihat Alan


Setelah acara pertunangan selesai aku langsung lari menuju ruang kerja Papa yang berada di lantai dua. Dua puluh menit yang lalu Bobby memberitahukan kalau dia sudah mengirimkan belasan E-mail dan memintaku memeriksanya sebelum kontrak kerja sama dengan klien yang ada di Bali di tanda tangani.


Bekerja di hari besar seperti ini terasa sangat menyebalkan, sayangnya aku tidak punya pilihan lain selain mengerjakannya secepat yang ku bisa. Maklum saja, ketika seseorang memutuskan menjadi pengusaha, waktu yang ia punya bukan hanya miliknya saja, ada banyak tanggung jawab di pundaknya. Ada ribuan bahkan jutaan kehidupan yang bisa ia bantu dengan ketrampilan yang ada. Aku rasa hanya alasan itu yang kupunya sehingga aku merasa baik-baik saja saat tekanan kerja meninggi. Dan untungnya Ummi Fazila tidak mengeluhkan soal itu, dan untungnya lagi dia seperti vitamin dalam kehidupanku, hanya dengan menatap wajah tersenyumnya rasa lelahku seolah menguap keangkasa. Apa hanya aku suami yang merasakan cintanya semakin hari semakin besar pada kekasih halalnya? Perlu di ketahui, aku selalu menjaga pandanganku dari menatap wanita yang tidak halal bagiku. Aku selalu percaya, siapa yang tidak bisa menjaga matanya maka hatinya tidak ada harganya.


Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan yang bersumber dari daun pintu mengalihkan fokus ku. Sedetik kemudian kepala Araf menyembul dari balik daun pintu, wajah tidak berdosanya memamerkan senyuman. Aku sangat mengenalnya, saat ini dia pasti sedang gelisah. Aku tidak asal menebak, hanya dengan melihat raut wajah Araf aku langsung bisa membaca jalan pikirannya.


Aku yakin, saat ini dia pasti membutuhkan nasihat dariku. Padahal jika di pikir-pikir, Araf lebih senior dariku dalam urusan cinta. Aku hanya memiliki satu mantan saja. Sementara dirinya? Aku bahkan tidak bisa menghitungnya. Lalu apa yang membuat wajah tampannya terlihat kusut seperti baju yang tidak pernah bersahabat dengan setrika? Aku tidak akan menemukan jawabannya selama apa pun aku memikirkannya, karena itulah aku lebih memilih menunda pekerjaan ku dan memintanya masuk sambil memberikan isyarat untuk duduk di sofa.


"Kenapa kau terlihat sedih? Itu tidak cocok untuk mu." Celotehku sambil berjalan kearah pantry. Araf yang mendengar ucapanku hanya bisa menghela nafas kasar. Ia terlihat tidak nyaman, walau demkian ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum sambil menatap ku dengan tatapan lega.


"Ada apa? Apa kau punya masalah?" Aku kembali bertanya.


"Tidak. Aku hanya sedikit lelah, semalam ada kasus darurat di rumah sakit. Mau tidak mau aku harus lembur, aku pulang sekitar jam lima pagi." Ucap Araf menjelaskan.


"Syukurlah kau tetap ingat tanggung jawabmu."


Ruang kerja Papa di desain khusus oleh arsitek yang menjadi sahabat karib beliau sejak duduk di bangku Universitas. Berlama-lama di ruang kerjanya tidak akan pernah mendatangkan bosan, penggila kerja sepertiku akan betah duduk di depan laptop karena suasananya memang sangat nyaman. Tempat tidur, bahkan pantry tersedia di dalamnya.


"Apa aku boleh bertanya?" Araf membuka suara diantara senyapnya udara. Ia menatap ku dengan tatapan tajam.


"Tanyakan apa pun yang kau inginkan!" Balasku singkat sambil meletakkan segelas kopi hangat di depan Araf.


"Bagaimana rasanya menikah?"


Mendengar pertanyaan Araf membuatku ingin tertawa lepas. Aku merasa geli sendiri. Namun aku bisa mengerti itu, dia pria liar yang tidak akan cukup dengan satu wanita. Menikah akan membuat sayap-sayap nakalnya patah. Tapi aku juga mengenalnya dengan sangat jelas, Araf pria yang penuh dengan komitmen, dia akan menjaga apapun yang dia punya. Bahkan jika perlu dia akan mengikat semua hal yang menjadi miliknya agar tidak hilang dari genggamannya.


"Mmm... Menikah? Menikah itu sangat menakutkan. Di malam hari kau tidak bisa kemana-mana. Bahkan kekamar mandi pun kau harus meminta izin darinya." Ucapku serius.


Sepertinya sikap nakal ku kumat lagi, aku bahkan tidak ingin menghentikan guyonan ku yang sama sekali tidak lucu. Entah kenapa melihat wajah polos Araf membuatku ingin menggodanya terus.


"Kau tahu? Wanita itu sangat aneh, kadang-kadang mereka marah untuk hal kecil.


Sekarang katakan, apa salahnya jika seorang suami meletakkan handuk bekas mandi di tempat tidur sementara dia sudah terlambat kekantor? Lalu, Apa salahnya ketika seorang suami perduli pada Ibunya? Kadang-kadang aku heran kenapa istri orang lain sangat cerewet padahal wanita terlihat cantik saat dia sedang diam." Celoteh ku lagi.


Aku benar-benar ingin tertawa lepas, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Melihat wajah kaku Araf mencegah ku untuk tidak berhenti menggodanya. Entah dia pura-pura bodoh atau benar-benar penasaran, yang jelas sebentar lagi aku pasti akan segera mengetahui reaksinya.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Apa Fatimah juga seperti itu?" Kali ini Araf bicara sambil meraih bantal kecil yang ada disisi kanannya. Ia meletakkan batal kecil itu di atas pahanya, tatapannya tajam menuntut jawaban.


Sungguh, aku tidak tahan lagi. Aku tertawa lepas sambil melempar bantal kecil kearah Araf. Refleks ia menangkap bantal itu sambil menyebikkan bibirnya.


"Apa kau bermaksud menakutiku? Candaanmu benar-benar tidak lucu." Celoteh Araf setelah melihat reaksiku.


"Salahmu karena terlalu khawatir. Kau tahu, kan? Aku bukan seorang pelawak jadi jangan salahkan aku saat guyonanku tidak terdengar lucu." Jawabku membela diri. Senyumku tak bisa lepas dari bibirku.


"Baiklah. Sekarang aku akan menjawabmu dengan benar. Menikah itu sangat menyenangkan. Menikah itu sangat membahagiakan. Menikah itu sangat menakjubkan. Menikah itu sangat, sangat, sangat luar biasa.


Kau akan merasakan bahagia yang tidak pernah kau dapatkan saat kau hidup sendirian. Saat kau terbangun kau akan menatap wajah yang sama setiap hari, walau demikian kau tidak merasakan bosan ataupun sedih. Kau akan merindukannya saat kau berada jauh darinya, kau juga merasa kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup mu saat kau tidak melihat senyumannya.


Percaya padaku, Sabina adalah wanita yang luar biasa untukmu. Dia bisa saja memilih pria yang jauh lebih baik darimu, hanya saja Mama telah menyetujui hubunganmu dengannya. Dia tipe gadis yang penurut. Dia bisa menjadi temanmu tapi tidak akan pernah bisa menjadi musuhmu.


Kau tahu? Aku bahkan tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidup kita. Tapi lihatlah takdir yang Kuasa, sebentar lagi kau akan menjadi ipar ku. Aku hanya bisa mengatakan kau sangat beruntung mendapatkan Sabina, jaga dia sebagaimana kau menjaga dirimu sendiri. Jika kau sampai kehilangannya karena tingkah konyolmu, maka bisa ku pastikan kau telah kehilangan permata paling berharga dalam hidupmu." Ucapku panjang kali lebar. Araf hanya bisa mengangguk pelan. Entah dia percaya atau tidak dengan ucapanku, yang jelas saat ini aku benar-benar tidak bisa menabak hanya dengan menatap wajah tidak puasnya.


Araf sahabat yang baik, aku juga berharap semoga dia bisa menjadi suami yang baik. Aku lebih dekat dengannya ketimbang siapa pun yang ada di dunia ini. Kami berdua terikat dalam hubungan yang kuat. Sebagai sahabat yang dekat dengannya, aku hanya bisa memberikan sedikit nasihat untuknya. Semoga Allah memberikan kebahagiaan padanya dan juga Sabina sebagaima Allah menganugrahkan kebahagiaan untuk ku dan Ummi Fazila.


...***...