
Dua jam berlalu sejak aku mengantar dua wanita yang paling kusayangi dan paling kucintai itu. Mereka berdua sangat berharga, lebih berharga dari nyawaku sendiri. Sungguh, kami baru saja berpisah. Namun, entah kenapa aku sangat merindukan mereka, putri manisku Meyda Noviana Fazila, dan tentu saja Umminya Fatimah Azzahra.
Aku tidak bisa fokus karena sangat merindukan mereka, apa yang harus ku lakukan agar kerinduan ini menguap keangkasa bersamaan dengan melodi-melodi cinta ini.
"Tuan... Tuan."
Ssssss!
Bobby meletakkan jari telunjuknya di bibir merona milik Iklima, berusaha memberikan isyarat agar Iklima tak perlu bersuara. Sontak, Iklima langsung menepis tangan sepupunya itu sambil menyebikkan bibir tipisnya.
"Jangan berisik. Mungkin tuan sedang tidak fokus." Ucap Bobby sambil berbisik.
Prakkkkkk!
Bantingan pintu cukup keras membuat semua orang terperanjak. Aku kembali fokus, aku menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir.
"Apa kau tidak warassss!" Aku berteriak kasar sambil menatap Araf dengan tatapan tajam, sedetik kemudian aku menatap enam orang yang duduk di sofa. Bobby, Iklima, tiga manager dan seorang OB yang sedang menyodorkan kopi pada lklima, mereka menatapku dengan tatapan heran. Pria muda yang bertugas sebagai OB itu terkejut luar biasa, sampai-sampai kopi yang ada di tangannya terlepas tanpa sengaja.
Araf! Ada apa dengannya? Kenapa dia membuat keributan sebesar ini? Apa dia salah makan?
Tidak. Tidak. Aku yakin pasti ada yang salah! Tapi Apa? Aku bergumam sendiri sambil menatap Araf yang saat ini masih mematung di depan pintu kantorku. Aku yakin ia pasti sangat kesal. Sekesal apa dirinya sampai harus menakuti semua orang?
"Kalian semua, tinggalkan kami berdua!" Araf berucap dengan suara datarnya. Matanya memerah, wajah yang biasanya ramah kini berubah menakutkan. Dalam kondisi ini aku tidak bisa menegurnya, bicara dengannya hanya akan memperkeruh suasana.
"Aku bilang tinggalkan kami berdua!" Araf bicara dengan nada tinggi, semua orang yang berada di kantorku merasa ketakutan melihat tingkahnya, dan ini untuk pertama kalinya. Aku saja yang mendengar teriakan keras Araf sampai berdiri dari kursi kebesaranku.
Sungguh... Aku merasa tersanjung. Keenam orang yang saat ini duduk di sofa kantorku tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya sebelum mendapat izin dariku. Kesetiaan, aku bisa melihat itu dari tatapan mereka.
Ada apa dengan si payah ini? Kenapa dia sangat agresif. Tingkahnya tak jauh berbeda dengan seorang pemabuk yang tidak bisa membedakan antara salah dan benar. Haruskah aku memakinya? Aku bergumam sendiri, otak ku berusaha menebak alasan di balik kemarahan araf. Sayangnya, aku tidak bisa menemukan alasan apa pun.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisanku, aku berusaha memberikan isyarat dengan mengedipkan mata, isyarat agar keenam orang kepercayaanku itu meninggalkan kami berdua tanpa perlu bertanya ada apa.
Praaakkkkkkkk!
Bantingan pintu cukup kerasa kembali terdengar setelah Bobby, Iklima, dan rekan-rekannya meninggalkan kantorku. Aku berusaha memaksakan senyumanku hanya untuk mencairkan suasana yang terasa aneh bagiku.
Sungguh, tatapan Araf setajam belati, seolah tatapan itu akan menguliti setiap inchi tubuhku. Jika sudah seperti ini tidak ada jalan lain untukku selain berusaha bersikap lunak padanya.
Gdeebukkk.
Aaahhhhh!
Aku meringis kesakitan. Tinju keras Araf berhasil mendarat di wajah tampanku. Saat ini aku sangat kesal, rasanya aku ingin membalas Araf dengan pukulan yang sama. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu sebelum mengetahui alasan di balik kekesalan dan kekasaran Araf. Yang bisa ku lakukan hanya menangkis dan menghindar agar tidak terkena pukulan Araf lagi.
"Aku tidak akan melepaskanmu! Walau aku harus tiada aku tidak akan bersikap lunak padamu.
"Pukulan yang tadi karena kau seorang pembohong. Dan pukulan selanjutnya..." Araf menyeringai, gerakannya benar-benar lihai, aku sampai kelabakan meladeninya, untungnya kantorku sangat luas sehingga tidak sulit untuk menghindari pukulannya.
"Apa kau tidak lelah? Ayo kita bicara!" Aku berusaha menghentikan keberutalan Araf sambil menagkis tangan dan kaki jenjangnya yang saat ini mengarah di tangan dan perut rataku.
"Aku tidak akan mengampunimu! Hari ini salah satu diantara kita harus keluar hidup-hidup." Araf berucap dengan nada suara tinggi, sementara nafas kami? Jangan tanyakan lagi, nafas kami terdengar seperti suara gemuruh yang saling bersahutan.
Aku baru menyadari, Araf yang kuladeni saat ini bukan lagi Araf yang sama saat kami duduk minum kopi dan saling berbagi cerita. Aku bisa melihat dari tatapannya, ada amarah yang membuncah disana. Dan sekarang aku tidak bisa memberikan diriku terkena pukulannya, setidaknya kami berdua harus merasakan sakit yang sama.
Gdebukkkk!
Ssshhhhh. Aaaahhhhh!
Tangan keras Araf kembali mendarat tepat di wajah tampanku. Karena gerakan cepatnya tubuh jenjangku sampai terpelanting membentur dinding.
Sungguh, aku merasakan nyeri luar biasa yang bersumber dari sudut bibirku, pelan aku memengang sumber nyerinya, setitik darah menempel di jari telunjukku.
Sementara itu Araf masih menatapku dengan tatapan kebencian. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya Iblis mana yang merasukinya sampai ia terlihat seperti akan menghabisiku dalam satu kali gerakan tangan.
"Aku sudah memintamu untuk bicara baik-baik, dan kau menolakku! Kau juga sudah melukai wajah tampanku, maka sekarang tidak ada pilihan lain bagiku selain membalasmu." Aku berucap sambil memasang kuda-kuda, kali ini aku tidak akan membiarkan Araf menggores tubuhku lagi. Sekarang giliranku yang akan memberikan pukulan bahkan tendangan di bagian tubuh jenjangnya.
"Ini peringatan terakhir untukmu! Hentikan kekonyolan ini dan ayo kita bicara." Aku berusaha kembali, berusaha bicara baik-baik pada Araf. Sayangnya, karena kemarahan Araf bahkan mengabaikan setiap ucapanku.
"Apa kau pikir aku tidak waras? Untuk apa aku bicara denganmu? Saat ini aku ingin mematahkan tulang-tulangmu. Jadi jangan pernah bicara denganku lagi!" Ucap Araf ketus. Tatapan mata Araf masih setajam belati.
"Baiklah. Mari kita bertarung dengan benar." Aku membalas ucapan Araf dengan kepercayaan diri penuh. Satu. Dua. Tiga. Perlahan aku mulai menghitung kemudian...
Gdebukkkk!
Baru saja Araf melangkah kearahku, secepat kilat aku melayangkan pukulan keras di wajah tampannya. Entah apa yang ia pikirkan sampai ia tidak bisa menghindari pukulanku.
"Itu baru permulaan, setelah ini kau akan merasakan sakit yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hipupmu." Ucapku dengan nada suara santai. Sejujurnya aku ingin tersenyum melihat wajah kesal Araf. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena sudut bibirku masih terasa nyeri.
Cuiiihhh!
Araf meludah kesembarang arah, aku merasa bersalah melihat sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar, setidaknya kondisi kami sama-sama terluka, karena itulah aku tidak ingin larut dalam perasaan menyesal.
"Kau bisa memukuliku karena aku yang membiarkanmu melakukan itu, setelah ini tidak lagi." Gerutu Araf sambil melempar bantal kecil kearah wajah memarku.
Aku sendiri bertanya-tanya bagaimana caraku mengakhiri adu jotos tidak berguna ini. Semakin aku memikirkannya semakin aku tidak bisa menemukan jawabannya. Melihat kekesalan Araf, akan butuh waktu lama untuk bisa menenangkannya.
Alan... Kau dalam masalah besar. Kau tidak boleh melukai sahabatmu, tapi kau juga tidak boleh membiarkan dirimu terkena pukulannya, tetap bertahan walau kau merasa lelah. Gumamku sambil menatap wajah memar Araf.
...***...