
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku masih bisa melihat gadis kecil itu. Sesekali ia melambaikan tangan padaku seraya memamerkan senyum indahnya. Dia sangat cantik, dia sangat manis, pantas saja mama terobsesi memiliki cucu semanis dirinya.
Hhmm. Aku menghela nafas kasar, keinginan mama tidak akan pernah terwujut. Biarkan saja mama dengan angan-angan panjangnya, aku berharap ia tidak lagi memaksaku menemui gadis manapun setelah ini.
"Aku sangat senang bisa bertemu dengan mas Alan! Aku tidak menyangka tante Nani memilihku di antara miliyaran gadis yang ada!ini benar-benar menakjubkan!" Ucap gadis yang duduk di depanku, ia terus saja memamerkan senyumnya.
Aku ingin menamparnya dengan kata-kata kasar agar percakapan memuakkan ini lekas berakhir, namun ku urungkan niat itu mengingat kami baru saja duduk tak lebih dari tiga menit. Aku yakin mata-mata mama juga sedang mengawasi ku dari sudut yang tak bisa ku lihat.
Seorang wanita bergaun merah muda dengan kain penutup kepala yang memiliki warna senada berjalan menuju meja yang Iklima duduki bersama bocah manis itu. Ia berjalan secara terburu-buru, begitu ia sampai di depan anak manis itu, ia langsung memegangi pundak anak manis itu, pundak yang aku juga memeganginya lima menit yang lalu.
Entah pembicaraan serius apa yang membuatnya begitu khawatir, ia memeluk anak manis itu kemudian berjalan meninggalkan Restoran, di ikuti oleh Iklima di belakangnya. Spontan, Iklima menundukkan badan memberi hormat padaku kemudian ia pun berlalu.
Entah seperti apa wajah wanita yang membuat Araf jatuh cinta pada pandangan pertama, aku penasaran karena aku hanya bisa menatap punggungnya dari kejauhan.
"Mas Alan! Mas Alan!" Panggil wanita anggun di depanku, aku sedikit terkejut. Untuk sesaat aku menatap wajah ayunya. Ia nampak heran dengan sikap tidak perduli ku, namun aku tidak perduli dengan tanggapannya.
"Aku tahu mas Alan tidak menyukaiku!" Ucapnya pelan, terdengar nada berat dalam setiap untaian ucapan singkatnya.
Dia mengucapkan kata-kata yang seharusnya ku ucapkan. Jika aku bisa, aku ingin mengatakannya dengan lantang kalau aku benar-benar tidak menyukainya. Namun ku tahan keinginan itu untuk menjaga egoku.
"Mas Alan mungkin tidak pernah melihatku! Namun aku selalu melihatmu! Bahkan jika aku memejamkan mata, bayangan indah wajahmu hadir di sana. Kemanapun aku melangkah dan apa pun yang ku kerjakan, kau selalu hadir dalam setiap rangkaian kehidupanku." Ucap gadis di depanku tanpa melepas tatapannya dari wajah tampanku.
Tampan! Ya, ku akui aku memang tampan. Itu bukan sekedar omong-kosong, mungkin karena itulah wanita aneh di depanku ini terus saja menyanjungku. Aku masih tetap diam, aku ingin mendengar ucapan apa yang akan keluar dari bibir tipisnya selanjutnya.
"Aku sangat bahagia ketika opa Ade menghubungi papa dan mengatakan keinginan tulusnya untuk menyatukan kita. Aku merasa Rembulan berada di pangkuanku. Dan tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari itu." Ucapnya lagi.
Haruskan aku pura-pura tersenyum mendengar ucapan tulusnya? Rasanya aku ingin pergi saja. Mendengar omong-kosong ini membuatku ingin muntah.
"Mas Alan mungkin tidak mengingatku, tapi aku mengingatmu! Mengingatmu dengan sangat jelas. Aku Olivia Bani Afsara. Anak yang kau kenal dengan sebutan Bani."
Bani? Perhatianku terpusat pada nama itu. Sekilas aku menatap wajah cantiknya. Kulit putih, Hidung bangir, Bibir ranum, rambut sebahu yang ia biarkan tergerai sempurna. Tubuh langsing, di tambah senyum menawan. Ia terlihat sempurna.
Bani! Dia gadis pertama yang berhasil menggerakkan hatiku dan menuntun mataku untuk tetap menatapnya, entah dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi. Untuk sesaat bibirku memamerkan senyuman tulus, ketulusan yang datang entah dari mana. Wajah itu terlihat cantik, bahkan sekarang ia terlihat lebih cantik.
"Aku mengingatmu!" Ucapku pelan dengan nada suara berat. Bani terlihat kecewa dengan tanggapan yang ia terima.
Bagiku Bani hanya cinta pada masa putih abu-abu, perasaan itu telah tiada seiring berjalannya waktu. Kini yang tersisa hanya luka, luka lama yang masih belum sembuh secara sempurna.
Tidak ada lagi Bani si cinta monyet, yang ada hanya Oliv gadis yang coba mama jodohkan denganku secara paksa. Kini aku kembali ke akal sehatku, tidak ada lagi perasaan tertarik pada gadis secantik apapun, yang ada hanya sikap dingin saja. Masa lalu hanya sebatas masa lalu. Aku tidak ingin berada dimasa menyakitkan itu.
"Dulu aku mengenalmu. Tapi sekarang kita hanya orang asing yang tidak akan bertemu satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Aku rasa sudah cukup waktu yang kita habiskan, aku berharap kita tidak akan bertemu lagi setelah ini." Ucapku ketus kemudian beranjak pergi meninggalkan gadis seanggun Oliv.
Wajah itu terlihat kecewa. Hampir saja ia meneteskan air mata namun dengan cepat ia mengalihkan tatapannya dari wajah sempurnaku.
...***...
"Nona Fatimah terlihat khawatir, apa ada masalah?" Iklima menatapku sesaat kemudian ia kembali fokus menyetir.
Fazila sudah terlelap di kursi belakang, aku rasa ia terlalu lelah selama di apartemen.
"Neneknya Fazila sakit, saat ini dia ada di rumah sakit. Beliau sampai di Jakarta pagi ini, namun kakeknya Fazila baru bisa menghubungi ku malam ini." Ucapku pelan dengan nada suara berat, kesedihan memenuhi rongga dada ku.
Saat aku sakit, Nyai Latifa lah yang selalu hadir dalam setiap rangkaian kehidupanku. Sekarang Nyai Latifa yang sakit, aku bahkah tidak tahu apa-apa. Dan hal itulah yang membuat ku sangat sedih.
"Apa malam ini nona Fatimah akan menginap di rumah sakit?"
Dua jam kemudian kami sudah berada dirumah sakit, Iklima menemaniku sampai depan pintu. Setelah itu ia berpamitan.
Kiai Hasan menghampiriku kemudian mengambil Fazila dari gendonganku, aku terkejut ketika melihat kondisi Nyai Latifa. Bibir yang biasanya selalu menyunggingkan senyuman manis kala bertemu denganku kini hanya tertutup rapat. Tubuh yang selalu energik kini terlentang tak bertenaga.
Ya Allah... Sembuhkan nyai Latifa. Biarkan aku saja yang merasakan sakitnya. Lirihku pelan sembari menghapus sudut mataku yang mulai berair.
"Kenapa Kiai tidak pernah cerita kalo Nyai sakit? Seharusnya, dari awal Fatimah tahu kondisi Nyai, dengan begitu Fatimah bisa menemani Nyai." Ucapku pelan tanpa berani menatap wajah teduh milik kiai Hasan.
"Tidak perlu khawatir. Nyai mu baik-baik saja. Semenjak Fazila berangkat ke-Jakarta Nyai mu mulai tak terkendali. Dia bilang rindu Fazila. Kiai tidak menyangka kondisinya akan seburuk ini. Nak Araf menyarankan kami agar berangkat ke-Jakarta. Atas rekomendasi dokter Araf-lah kami bisa ada di kamar ini." Balas Kiai Hasan.
"Kau harus bicara dengan nak Araf. Dia terlihat buruk sejak tidak ada kalian berdua." Sambung Kiai Hasan lagi penuh kenyakinan.
Bagaimana mungkin dokter Araf merasa kehilangan tanpa kehadiran kami disisinya? Aku tidak sedekat itu dengannya! Dan dia juga tidak mengenal Fazila sedalam itu! Mungkinkah Fazila mulai membuka diri padanya? Lirih ku dalam hati sambil memamerkan senyum tipis di delan Kiai Hasan yang sudah seperti ayah bagiku.
"Ia, Kiai. Fatimah akan menghubungi Dokter Araf setelah salat isya." Balasku lagi.
...***...
Bobby mengantarku sampai depan rumah, setelah itu aku mengusirnya. Akhir-akhir ini aku mudah sekali marah. Di tambah gara-gara Bobby mama mengatur perjodohan ku lagi, dan ini untuk kesekian kalinya.
Dret.Dret.Dret.
Ponsel yang ku letakkan di atas nakas berdering cukup lama. Aku sengaja tidak ingin menjawabnya. Entah orang payah mana yang terus saja memanggil, berkali kali aku tidak mengangkatnya berkali-kali pula ia mengulangi panggilannya.
Apa itu Araf? Ya... Aku yakin itu Araf. Lirihku pelan sambil beringsut meraih ponsel dengan tangan kiriku.
"Ada apa? Apa kau tidak waras? Jika aku tidak menjawab panggilanmu, itu artinya aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun!" Ucap ku ketus.
Hahahha... Bukannya menjawab ucapanku, Araf malah tertawa lepas di sebrang sana.
"Katakan, gadis mana lagi yang tante Nani jodohkan denganmu?" Kali ini Araf mulai serius.
Aku belum menceritakan apapun, namun Araf bisa menebak kondisi hatiku.
"Aku..."
"Tunggu sebentar! Nona Fatimah menelpon!" Ucap Araf cepat, kemudian menerima panggilan pribadinya.
"Assalamu'alaikum... Dokter Araf apa kabar?" Ucap wanita dengan suara lembut yang menyapa Araf.
"Ba-baik!" Balas Araf gugup.
Entah apa yang dipikirkan Araf, dia tidak mematikan panggilannya denganku. Justru sekarang aku bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan dua orang di tempat berbeda itu. Aku merasa bagai nyamuk pengganggu, hampir saja aku mematikan ponselku, namun gerakan tanganku terhenti karena mendengar suara lembut wanita itu terus saja mengalun bagai lagu indah yang terdengar sangat merdu di telingaku.
"Terima kasih untuk segalanya. Nyai dan Kiai bisa berada disini berkat dokter Araf. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa bantuan dokter Araf." Ucap suara lembut itu. Aku bahkan tidak bergerak dari posisi dudukku agar wanita yang tidak ku kenal itu tidak menyadari keberadaanku.
"Saat ini aku bersama Nyai Latifa juga Kiai Hasan. Aku sangat merindukan mereka." Ucap pemilik suara lembut yang berhasil membuat dadaku berdebar.
"Ahh iya satu lagi, Fazila sangat merindukanmu!" Ucapnya dengan nada suara menyakinkan.
Pantas saja Araf jatuh cinta padanya, nada bicaranya selembut sutra. Dia bilang dia sedang menemani Nyai Latifa, diakah wanita yang ku tatap punggungnya dari kejauhan? Entahlah, aku hanya bisa menebak saja. Sementara Araf, ia hanya bisa terdiam sembari mendengar wanita impiannya terus saja bicara.
...***...