
Tok.Tok.Tok.
Berkali-kali aku mencoba mengetuk pintu, berusaha meminta izin pada pemilik baru yang sudah berada di dalamnya. Sayang sekali, tidak ada ucapan apa pun darinya. Tidak memintaku masuk, dan tidak pula mengusir ku.
Aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk masuk walau tanpa izin darinya, berada di luar kamar tidak akan berguna. Karena Seburuk-buruknya hubungan kami, jangan sampai masalah itu keluar dari kamar. Jangan sampai ada yang bicara buruk tentang kami, karena itulah menjaga harga diri pasangan adalah tanggung jawab baru bagiku.
Baru saja masuk kekamar, netra indahku langsung menatap tajam pada sosok sempurna yang saat ini tertidur pulas sambil duduk di bangku dengan beralaskan tangan kanannya di atas meja. Untuk sesaat aku berdiri mematung sambil berpikir, apa dia begitu kelelahan sampai tidak menyadari kedatanganku? Baru saja aku bergerak dengan alasan akan menggendongnya, dan saat itu juga ia terbangun dari tidur lelapnya.
Ia menatap ku dengan mata menyipit, sedetik kemudian ia mulai mengucek mata dengan punggung tangannya. Untuk sasaat kami terdiam tanpa bisa berucap sepatah kata pun.
"Maafff. Tanpa seizin anda, aku terlelap sendiri."
"Tidak apa-apa! Itu bukan masalah!" Balasku cepat begitu tahu Fatimah ku berdiri dari kursi yang terbuat dari kayu Jati itu.
"Ummi Fazila bisa tidur di tempat tidur dan aku akan tidur di sofa." Sambungku lagi.
Suasananya memang masih terasa canggung. Tapi, setidaknya Fatimah ku tidak merasa kesal berada di dekatku. Bidadari Surga itu bahkan berjalan menuju lemari dua pintu yang berada di dekat sofa, dia mengeluarkan baju putih dan celana panjang dengan warna senada. Tanpa ragu-ragu Ummi Fazila menyodorkan pakaian itu padaku, sejujurnya aku ingin berteriak untuk mengekspresikan bahagiaku, sayang sekali aku tidak bisa melakukan itu. Aku terlalu malu untuk bersikap tidak tahu malu di depannya, dan sebisanya aku menahan diri untuk terlihat biasa-biasa saja di depannya.
Tanpa berpikir panjang aku langsung masuk kekamar mandi, di dalamnya aku berteriak tanpa mengeluarkan suara. Hanya aku pria bodoh di dunia ini. Hanya karena Bidadari indah itu menyodorkan baju membuatku sangat bahagia sampai-sampai aku berpikir dunia berputar menurut kehendakku.
Sudah cukup, Alan! Tenangkan dirimu dan fokuslah! Bagaimana kau akan mencuri hatinya jika di dekatnya saja kau bersikap seperti pecundang! Aku bergumam sambil menatap pantulan wajahku di cermin kamar mandi.
Troeeeettttttt!
Aku membuka pintu pelan sambil melirik kearah Ummi Fazila. Lagi-lagi netraku membulat, wanita terindah itu kembali terlelap. Kali ini bukan di kursi Jati melainkan di sofa dekat tempat tidur. Entah kenapa melihat wajah tertidurnya membuatku tersenyum bahagia. Jika ada yang bertanya kenapa aku bisa bahagia hanya dengan melihat wajah pulasnya? Jawabannya sangat sederhana, aku mencintainya tanpa batas dan aku sangat bahagia hanya dengan melihat wajahnya.
"Ternyata apa yang di ucapkan putri manis kita sangat benar, Ummi mudah sekali terlelap, padahal Ummi baru saja meletakkan kepala di atas sofa." Ucapku pelan sambil melipat kedua lengan ku di depan dada.
"Seharusnya Ummi tidak perlu tidur di sofa!" Aku mencoba bicara pada sosok sempurna yang saat ini kembali terlelap di depan ku.
Haruskah aku menggendongnya dan menidurkannya di ranjang? Bagaimana jika dia membuka mata saat berada dalam dekapanku? Lalu, apa yang akan ku katakan jika dia mencecarku dengan segala tanyanya? Aku tidak akan sanggup mendengar kemarahannya di malam pertama kami! Aku bergumam sendiri sambil melangkah maju mendekati sofa yang tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri.
Tanganku bergetar, seketika aku mengingat ucapan putriku sambil menatap wajah sempurna milik Umminya.
Ummi tidak suka bergadang. Beliau selalu tidur di awal malam dan bangun di awal pagi. Jadi, Abi tidak perlu merasa heran jika jam sembilan malam Ummi sudah tertidur. Ummi melakukan itu agar Ummi bisa bangun di sepertiga malamnya. Setelah bangun Ummi akan Shalat Tahajjud kemudian bekerja sampai pagi. Mengingat penuturan putri manisku, aku berusaha mengangkat tubuh terlelap Ummi Fazila menuju tempat tidur. Sementara bibirku? Bibirku tak berhenti menggukir senyuman, aku sangat bahagia sampai berpikir agar waktu berhenti saja di moment indah ini.
Dalam setiap hembusan dan tarikan nafasku, rasanya seolah aku sedang mendengarkan lagu cinta. Bahkan sapuan hangat nafasnya yang tak sengaja mengenai wajahku terasa menggetarkan jiwa. Untuk pertama kali kami sedekat ini, dan untuk pertama kalinya pula aku menatap wajah tertidurnya.
Apakah ini termasuk dosa? Aku menatap setiap inchi wajah cantiknya, dari mata yang tertutup sempurna, kemudian hidung bangir miliknya laksana gunung pembatas. Bibir tipis alaminya terlihat sangat menggoda.
Saat ini aku seperti singa kelaparan, aku ingin menyentuh bibir tipisnya dengan bibirku namun naluri kemanusiaanku mencegahku untuk tidak melakukan itu. Aku tidak bisa memaksanya walau dia halal bagiku. Apakah karena alasan ini setiap pemuda di larang berdua-duaan dengan wanita yang tidak halal baginya karena hati mereka mudah sekali tergoda untuk melakukan perbuatan Zina?
Bismillahirrahmanirrahim...
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
Ya allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Sambil membaca doa dengan suara serak aku memegang ubun-ubun Ummi Fazila yang saat ini masih terlelap.
Maafkan aku! Dan makilah aku sekuat yang kau bisa. Gumamku dalam hati sambil mencium kening Ummi Fazila dengan penuh cinta. Sedetik kemudian bibirku tertempel dengan sempurna di bibir tipisnya, sangat singkat, benar-benar sangat singkat sampai aku tidak bisa merasakannya. Aku buru-buru mengangkat kepalaku agar aku tidak terlalu larut dalam romansa indah tanpa izin dari sosok sempurna yang saat ini masih terlelap dalam tidurnya.
Apakah aku begitu mencintainya? Sungguh, tidak ada kata-kata yang bisa mengekspresikan rasa itu. Dan lihatlah wajah cantik Fatimahku? Di pipi kirinya terdapat setetes air mataku, aku begitu mencintainya sampai meneteskan air mata. Apakah aku pria pecundang karena mencuri ciuman dari wanita yang tidak sadar? Jawabannya, tentu saja tidak.
Aku beralih dan duduk di sofa dekat tempat tidur. Sungguh, netra ku tak bisa berhenti menatap wajah nyaris sempurna Ummi Fazila. Aku bahkan berusaha untuk tetap terjaga agar momen indah ini tidak akan berlalu begitu saja.
...***...
"Ummi... Abi." Putri manisku berlari kearahku kemudian berakhir dalam dekapanku.
Wajah cantik Fazila perpaduan antara wajahku dan wajah nyaris sempurna milik Umminya dan hal itu tergambar dengan sangat jelas pada putriku. Fazila memiliki senyum yang indah, siapa pun yang mengenalnya akan mudah jatuh cinta pada sikap polosnya, dia sangat cerdas. Dia benar-benar mirip denganku. Melihatnya, aku merasa seperti mengulangi masa kecilku, masa kecil yang di dalamnya tidak ada kesedihan ataupun kesusahan.
"Abi tahu? Sejak semalam Fazila menunggu Ummi dan Abi. Kenapa kalian baru pulang sekarang? Fazila tidak bisa tidur tanpa kehadiran Ummi dan Abi." Ucap putri manisku lagi, dia semakin mengeratkan pelukannya. Dan hal ini berhasil membuatku tersipu malu di depan Ummi Fazila.
"Hai gadis cengeng! Cepat pergi, kita harus menyelesaikan tebat-tebakan yang sudah kita mulai. Aku yakin hari ini kau pasti akan kalah, aku sudah belajar dari Kakek Kiai dan kakak itu." Ucap bocah gembul yang berdiri di samping dua teman wanitanya, Lisa dan Dena.
Kakak itu!
Mendengar ucapan bocah gembul itu sontak membuat netraku langsung tertuju pada objek yang di tunjuknya. Betapa terkejutnya diriku, di dalam rumah besar kediaman Wijaya sudah berkumpul keluarga besar Kiai Hasan dan Nyai Latifa, Ikmal juga datang bersamanya.
Bukankah tadi malam kami mengobrol cukup lama? Lalu kenapa Ikmal tidak mengatakan apa pun? Apa dia menyembunyikannya untuk mengejutkanku? Dan Faktanya aku benar-benar terkejut melihat kehadirannya di kediaman Wijaya.
Entah kenapa netraku menangkap kalau Ikmal terlihat gugup berada di dekat Sabina! Padahal mereka duduk berjauhan, dan di saat bersamaan aku merasa takjub dengan sikap Ikmal, pemuda tampan itu tidak menatap Sabina dengan terang-terangan, dia lebih memilih menundukan pandangannya sambil sesekali tersenyum tipis kearah Kiai Hasan yang duduk di sebelahnya.
"Ini rumah Mama dan Papa! Disinilah aku tumbuh dan menghabiskan setengah dari hidupku. Sejak memulai bisnisku sendiri, aku keluar dari rumah ini dan memilih hidup mandiri." Ucap ku begitu Fazila dan teman-temannya tak tampak lagi di netra kami berdua.
"Kita akan menginap disini, hanya malam ini. Setelah itu kita akan kembali kerumah kita sendiri." Sambungku sambil mempersilahkan Bidadariku itu memasuki rumah kediaman Wijaya untuk pertama kalinya.
Kali ini aku berjalan di belakangnya sambil tersenyum bahagia, entah kenapa memori liarku mengingatkan ku akan kejadian semalam. Apa yang akan di pikirkan Ummi Fazila jika dia sampai tahu aku mencuri ciumannya saat dia sedang terbuai dalam tidur lelapnya? Untuk saat ini aku hanya bisa tersenyum sendiri sambil menyimpan rahasia indah ini sendiri.
...***...