
Araf duduk di bangku depan yang sudah di siapkan, ia tersenyum sembari menyaksikan pertunjukan. Sesekali netranya menerawang kesegala arah, tidak seperti orang lain yang menikmati pertunjukan di depannya. Araf nampak bosan namun ia berusaha tetap tenang. Ia masih tertegun ketika gadis yang ia temui sebelumnya berdiri di sampingnya sembari menewarkan minuman.
"Ternyata dia hanya seorang pelayan. Aku harus menjauhkan diri darinya sebelum aku terjerak oleh pesonanya." Gumam Araf dalam hatinya.
"Apa anda tidak akan mengambil minuman ini? Jika tidak aku akan pergi." Ucap wanita yang berdiri di samping Araf.
Wajah ayu itu masih menawan Araf dalam pesonanya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Araf. Pelan tangannya meraih minuman yang disodorkan gadis ayu disampingnya.
"Nak Fatimah, apa Ummi mu sudah menyiapkan semua yang ku minta?" Kiai Hasan bertanya sembari memandang Fatimah dengan senyuman bahagianya.
"Sudah." Jawab gadis itu sopan. Kemudian pergi setelah berpamitan pada Kiai Hasan.
Ooohh... Jadi nama mu Fatimah. Aku akan menyimpan namamu di lubuk terdalamku. Sehingga aku tidak melupakan mu. Gumam Araf dalam hatinya.
Sekarang kita sudah sampai di acara puncak yang kita nanti-nantikan, acara wisuda akbar anak-anak luar biasa kita. Tepuk tangan riuh para undangan mengiringi anak-anak yang naik ke panggung.
Abas. Nini. Lulu. Andrian. Fahri. Azis. Putra. Zahra. Askar. Naina dan Fazila... Mereka semua berdiri di panggung, di temani orang tua masing-masing. Netra Araf memandang gadis kecil yang biasa ia ajak bicara. yang lebih mengejutkannya, gadis ayu yang lima menit lalu memberikannya minuman berdiri di samping gadis kecil yang sangat ia kenal.
Apa yang di lakukan gadis pelayan itu disana? Kenapa dia berdiri di samping gadis manis itu? Lirih Araf sembari memperbaiki posisi duduknya.
"Kiai... Kenapa gadis pelayan itu ada disana?"
"Pelayan? Pelayan yang mana?" Kiai Hasan bertanya karena tidak tahu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Araf, hanya tangannya yang menunjuk kearah panggung.
"Fazila? Anak manis itu akan wisuda akbar hari ini." Balas Kiai Hasan.
"Bukan itu Kiai. Maksutku gadis yang ada di sampingnya." Ucap Araf penasaran.
"Ooh... Dia? Tentu saja dia berada di sana, putrinya ada disana. Dia ibunya Fazila."
Ucapan kiai Hasan terdengar sangat sederhana, namun bagi Araf itu bagai petir yang meluluh lantakan hatinya.
Ohh Tuhan... Ada apa dengan ku? Aku tidak segila itu untuk mencintai dan merebut isteri orang lain. Dasar payah! Aku bahkan tidak bisa membedakan mana wanita yang sudah menikah dan mana yang belum menikah. Lirih Araf pelan. Matanya tidak bisa lepas dari pasangan ibu dan anak itu.
Semua orang larut dalam perasaan haru dan bahagia menyaksikan generasi masa depannya menjadi generasi pecinta Qur'an.
Anak-anak manis itu di berikan mahkota yang kemudian mereka diminta memakaikan mahkota itu di kepala orang tua mereka. Momen yang sangat mengharukan walaupun Araf sendiri tidak tahu kenapa anak-anak itu melakukan itu.
Semua orang bahagia, kecuali Araf. Wanita yang ingin di lihat netranya selama beberapa waktu ini telah mematahkan hatinya. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa sesedih ini walaupun belum mengenal wanita itu.
Hemm! Sayapku sudah patah bahkan sebelum aku bisa terbang! Gumam Araf sembari memandangi wajah ayu wanita yang terus saja memamerkan senyum manisnya di atas panggung.
...***...
Wisuda Akbar baru saja selesai di laksanakan, sebagian besar tamu undangan juga sudah pulang. Hanya tersisa beberapa orang saja. Salah satunya Araf yang saat ini sedang asyik bertegur sapa dengan Fazila.
"Paman dokter, anda terlihat gagah!" Ucap Fazila sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Benarkah?"
"Kau sangat cantik. Sama seperti ibu mu!"
"Maksut paman dokter Ummi? Ya itu benar. Ummi sangat cantik."
"Apa ayahmu juga datang? Katakan, dimana dia, aku akan bicara padanya. Dia pasti sangat bagga memiliki peri cantik sepertimu." Fazila masih diam ketika Araf menggenggam jemari kecilnya.
Sementara itu, Kiai Hasan, Nyai Latifa dan Fatimah sedang asyik membicarakan tabungan Fazila, setiap anak yang Wisuda Akbar diberikan tabungan sepuluh juta rupiah sebagai tabungan pendidikan.
"Fatimah. Jika pengumuman dari stasiun Tv masih lama, bapak berencana mengajak putrimu umrah bulan depan. Kita berempat akan pergi bersama." Ucap kiai Hasan sambil menyodorkan buku tabungan atas nama Fazila.
"Alhamdulillah Kiai, jika itu keputusan Kiai dan Nyai saya hanya bisa mangut saja. Insya Allah saya setuju."
Hari ini hari yang besar dan menggembirakan, bahagia yang Allah berikan sore ini tak bisa ku lukiskan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia sampai-sampai air mataku tidak bisa berhenti menetes ketika Peri kecilku memakaikan mahkota di kepalaku.
...***...
Araf baru saja sampai di rumah ketika ia di kejutkan oleh kehadiran mamanya di rumah kecil tempatnya tinggal. Di belakang mamanya berdiri bodyguard separuh baya kepercayaan mamanya yang selalu melaporkan setiap gerak geriknya.
"Ma.. Mama sedang apa disini?" Hilang sudah resah Araf karena mengetahui gadis incarannya memiliki putri, tergantikan oleh perasaan kalut karena kehadiran mamanya.
"Tentu saja mama sedang liburan! Apa kau berharap mama akan mengatakan itu? Dasar payah! Untuk apa kau memilih tinggal di kampung kumuh ini? Jika kau mau menikah, kau tidak akan terjebak di tempat kumuh ini." Mamanya Araf bicara sambil mengibaskan tangan karena nyamuk terus saja terbang di sekitarnya.
"Iiihhh... Tempat apa ini? Mama tidak suka, kau harus pulang besok!" Lagi-lagi mamanya Araf kesal. Sejujurnya Rumah yang Araf tinggali lebih kecil dari pada kamarnya yang ada di kediaman mewah orang tuanya.
"Bukankah mama memintamu belajar bisnis seperti sahabat yang kau banggakan itu? lalu apa yang kau lakukan? Kau malah belajar kedokteran di luar negri dan sekarang kau berakhir di tempat kumuh ini."
Tidak ada sangkalan apa pun dari bibir Araf, karena ia tahu, jika ia meladeni mamanya yang sedikit cerewet mereka pasti akan berakhir dengan perdebatan konyol.
"Ma... Araf suka tempat ini. Dan Araf baru saja menyukai tempat ini, Araf janji jika dalam tiga bulan ini Araf tidak bisa membuat mama bangga, maka Araf akan suka rela kembali kerumah." Balas Araf menyakinkan. Sebenarnya Araf hanya mencari alasan agar mamanya tidak mendesaknya.
"Baiklah. Untuk sekarang Mama akan membiarkanmu. Mama akan pulang dan membawa bodyguard mu bersama mama."
"Terimakasi ma... Mama mencabut duri dalam kehidupan ku." Ucap Araf sambil tersenyum. Ia merasa lega karena tidak perlu di ikuti oleh siapa pun.
Melihat mamanya tersenyum, Araf mulai merinding.
"Duri? Tentu saja itu akan tetap ada. Mama mengganti bodyguard mu dengan yang baru. Masuk!" Ucap mama Araf di barengi dengan senyum mengembang dari wajah cantiknya.
Kali ini bodyguard yang di bawa mamanya seusia dengan Araf. Wajahnya lumayan tampan, tingginya sekitar 180 cm. Ia menggunakan kaca mata hitam, percis seperti pahlawan dalam dongeng.
Disisi lain, anak-anak di pesantren Kiai Hasan sedang bahagia karena sudah merayakan wisuda akbar, sementara disisi lain Araf sedang tegang menghadapi tuntutan mamanya.
Nasip... Nasip. Jadi anak semata wayang hanya akan mendapat tuntutan saja. Lirih Araf sembari meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat untuk sahabat terbaiknya.
...***...