Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Penasihat Cinta (Part2)


"Abi... Abi harus semangat! Jika Abi tidak semangat, bahkan dalam mimpi sekalipun Ummi tidak akan pernah mau menemui Abi."


Setelah memutuskan menjadi penasihat cinta, putri manisku terus saja memberikan nasihatnya. Ummi seperti ini! Ummi seperti itu! Abi tidak boleh begini! Abi tidak boleh begitu! Hal itu terus saja keluar dari bibir tipisnya. Aku merasa seperti sedang berada di kelas jodoh.


Semangat menggebu-gebu yang di tunjukkan putri manisku memberikan semangat baru bagi jiwaku. Semangat yang tidak akan pernah bisa menghentikanku melangkah kemanapun yang di inginkan hatiku.


"Abi tahu... Terkadang Ummi sangat cerewet. Meskipun begitu, tidak ada orang lain sebaik Ummi di dunia ini.


Setiap kali ada yang mengetuk pintu rumah kecil kami di Malang, tidak ada satu pun di antara mereka yang pergi membawa harapan kosong. Apa pun Ummi berikan selama ia bisa memberikan bantuan.


Bahkan Ummi rela tidak makan demi memberikan sedekah pada yang membutuhkan. Seandainya Ummi punya uang sepuluh Ribu, lima ribu Ummi gunakan untuk makan sementara lima ribu lainnya Ummi sedekahkan. Berbagi tidak akan mengurangi harta, dan kekikiran tidak menyebabkan kaya, begitulah Ummi mengajarkan Fazila hidup selama tujuh tahun ini. Hidup sederhana namun penuh makna."


Putri manisku berhenti sejenak. Wajah cantiknya mengukir senyuman. Akhirnya aku mengerti kemana arah pembicaraan ini. Aku masih larut dalam diam, sementara putriku? Dia masih bicara penuh semangat.


"Untuk bisa mendapatkan hati Ummi, Abi harus berusaha dengan keras. Ummi tidak suka menghambur-hamburkan uang. Ummi tidak suka makan berlebihan, Ummi tidak suka bergosip, Ummi juga tidak suka pada orang yang sombong.


Jadi... Kalau Abi ingin mendapatkan hati Ummi, Abi tidak boleh memamerkan kekayaan Abi di depannya, Ummi benci itu.


Di bandingkan dengan pria kaya, Ummi lebih suka pada pria yang bisa membaca Qur'an. Bagi Ummi, hal pertama yang Ummi lihat dari seorang pria adalah dia harus paham agama, Abi tidak akan bisa mencuri hati Ummi jika Abi sendiri tidak bisa membaca Al-Qur'an."


Hhhmmmmm! Aku menghela nafas kasar. Membaca Al-Qur'an? Entah sejak kapan aku melupakan kitab suci itu. Aku sendiri ragu, apa aku masih bisa membacanya atau tidak? Biasanya, aku tidak pernah merasa rendah diri. Tapi hari ini? Aku merasa seperti tertampar, putri manisku menghafal tiga puluh Juz Al-Qur'an, sementara aku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Kemana saja diriku selama tiga puluh dua tahun ini?


Dasar payah! Aku menggerutu sambil mengusap dadaku.


"Di depan Ummi, Abi harus bersikap tegas. Tidak perlu bicara omong-kosong, dari pada merayu dan mengucapkan kata-kata tidak berguna, Ummi lebih suka jika Abi menyapanya kemudian memberikannya sedikit ruang untuk tidak merasa canggung.


Misi di mulai hari ini. Misi untuk menyatukan Ummi dan Abi." Ucap putri manisku sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


Bisa mendengar tawa renyah putri manisku tanpa ada ketakutan adalah karunia luar biasa. Jika ada yang bertanya padaku, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka dengan tegas dan percaya diri kukatakan, tidak ada nikmat yang kudustakan, bahkan jika aku bersujut sepanjang hidupku, itu tidak akan cukup untuk menampakkan betapa besar rasa syukurku pada yang kuasa.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda Araf sedang bersiap akan meninggalkan Hotel dan kembali menuju kediaman orang tuanya. Setelah menyampaikan keresahan di hatinya, kini ia mulai merasakan lega luar biasa. Ia bahagia karena Mamanya tidak mengatakan banyak hal.


Syukurlah, tidak sulit untuk meyakinkan Mama. Haruskah aku menghubungi Nona Fatimah dan menjelaskan segalanya? Bagaimana jika dia marah dan aku tidak bisa melihatnya lagi? Jika dia tidak mau menemuiku, aku akan tiada dalam penyesalan panjang.


*Apa yang harus kulakukan? Tidak sulit meyakinkan Mama, lalu bagaimana caraku meyakinkan Nona Fatimah? Hal terburuk yang akan terjadi jika dia menolakku adalah, aku akan bersedih, atau bisa jadi aku akan terkurung dalam perasaan hampa.


Tuhan... Berikan aku jalan. Mudahkan semuanya untukku, karena aku tahu bukan aku yang hebat melainkan engkaulah yang mempermudah segalanya*. Araf bergumam sendiri sambil merapikan jasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, ada perasaan takut juga was-was di balik wajah tampan itu.


"Sempurna." Ucap Araf pelan setelah yakin tidak ada kekurangan dari dirinya.


"Saya tahu, setiap wanita tidak akan bisa menolak pesona Tuan. Tapi... Ibunya nona kecil Fazila itu sangat berbeda.


Dia tidak akan luluh hanya karena tuan mengatakan aku mencintaimu. Untuk bisa mendapatkan hatinya tuan harus bekerja keras.


Kulihat... Di balik wajah cantik itu tersembunyi luka mendalam yang masih belum sembuh.


Tuan harus bersabar. Apalagi jika ayah nona kecil Fazila muncul, tuan harus bersiap bertarung dengannya. Saya berdoa yang terbaik untuk tuan. Semoga tuan selalu memenangkan pertarungan dalam hidup ini." Ucap Amri panjang kali lebar. Amri tahu, ia tidak memiliki hak untuk bicara seperti itu pada Tuannya, karena statusnya hanya sebagai seorang Bodyguard saja, meski begitu jiwa kepeduliannya pada Araf tidak bisa di ragukan lagi.


"Aku mengerti maksudmu. Aku akan berjuang untuk cintaku.


Walau aku di tolak seratus kali, aku akan tetap bangkit lagi. Setidaknya aku telah mencoba segala cara untuk mendapatkannya, jika dia tetap menolakku setelah banyak usaha yang kulakukan untuk meraih tangannya, maka aku akan mengikhlaskannya." Ucap Araf dengan nada pasrah.


Hhhmmm! Baru kali ini aku melihat cinta seaneh ini. Untuk apa jatuh cinta jika ujung-ujungnya harus menderita. Gusti Allah, mudahkan urusan tuan Araf. Dan bantu aku untuk tidak jatuh cinta. Jauhkan cinta dari hidupku sebagaimana jauhnya jarak antara timur dan barat. Amri bergumam sendiri sambil menatap punggung Araf yang saat ini masih bersiap.


Amri yang bodoh. Bagaimana dia bisa meminta di jauhkan dari cinta? Karena cintalah kita hidup dan karena cintalah kita ada. Dan dengan menebar cinta dunia yang kita pijak kan berwarna seindah pelangi. Bila tidak ada cinta dalam dunia ini bagaimana seseorang kan menjalani harinya yang terlihat tenang namun sebenarnya menghancurkan layaknya badai yang tidak bisa kita prediksi kapan datangnya.


...***...


"Abi, cepat!"


Abi... Fazila rindu Ummi.


Abi... Fazila mau ketemu Ummi.


Abi... Fazila rindu pelukan Ummi.


Abi... Fazila rindu senyuman Ummi.


Entah berapa kali sudah putri manisku mengulangi ucapan yang sama. Bukan hanya putri manisku yang merindukan wanita saliha itu, aku juga sangat merindukannya. Dan menyedihkannya, aku seorang Alan Wijaya tidak bisa mengatakan pada siapa pun kalau aku sangat merindukan Ummi dari putri manisku itu.


Fatimah Azzahra, namanya terdengar sangat merdu di telingaku. Namanya lebih indah dari nyanyian manapun yang pernah kudengar. Hanya menyebut nama wanita saliha itu dadaku berdebar sangat kencang. Bagaimana jika wanita saliha itu ada di depanku? Sanggupkah aku bernafas jika aku duduk satu meja dengannya? Entahlah, biarkan semuanya mengalir seperti air. Aku yakin yang Kuasa akan menunjukan jalan untuk hambanya yang benar-benar ingin memperbaiki diri.


"Lihat! Ummi datang lebih cepat dari pada kita. Fazila sudah bilang, Ummi tidak akan telat walau hanya satu sedetik." Putri manisku menunjuk kearah wanita saliha itu. Ia terlihat duduk dengan wanita separuh baya. Entah apa yang mereka bicarakan sampai wanita saliha itu tersenyum sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.


"Abi harus mendengarkan Fazila! Setelah Fazila sampai di hadapan Ummi, Fazila akan pergi bersama Mbok.


Setelah itu, Abi yang harus bertindak. Biasanya orang dewasa kalau marah selalu lama, dan kewajiban Abi untuk membuat Ummi tidak marah lagi. Abi mengertikan?" Putri manisku menatapku dengan tatapan penuh pengharapan. Sedetik kemudian wajah polosnya mengukir senyuman, nampaknya putri manisku jauh lebih bahagia dari pada diriku.


Itu memang kewajibanku untuk meluluhkan hati Bidadari jelita itu. Aku yang membuat kesalahan dan sekarang sudah waktunya ia memaafkanku. Apa aku terlalu terburu-buru? Aku ragu Bidadari jelita itu akan memaafkanku secepat dan semudah ini. Putri manisku siap menjadi tali penyatu diantara kami berdua, bagaimana jika dia menolakku?


"Abi... Cepat." Ucapan putri manisku menyadarkanku dari lamunan panjangku. Pelan aku menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir. Sungguh, saat ini dadaku berdebar sangat kencang sampai aku merasa jantungku akan lompat keluar.


"Assalamu'alaikum. Ummi!" Putri manisku berhambur kedalam pelukan Umminya, wajah cantik putriku dan Umminya bersinar bagai rembulan.


"Mbok... Fazila mau main kesana dan kesana!" Fazila menunjuk kearah berbeda, sepertinya dia benar-benar memberikan kami ruang, ruang untuk saling bicara.


Tuhan... Aku tidak memiliki keluhan. Aku ridho pada Takdirmu, maka bimbinglah langkah kakiku. Aku bergumam sendiri, sementara putri manisku tak terlihat lagi oleh netraku. Entah kemana ia berjalan bersama wanita separuh baya yang ia panggil Mbok itu.


"Assalamu'alaikum." Ucapku pelan sambil menunjuk bangku yang ada di depanku, berusaha mempersilahkannya duduk kembali. Semarah-marahnya Ummi Fazila, aku yakin dia tidak akan mengabaikan ucapan salamku.


"Wa'alaikumsalam." Balasnya dengan wajah yang masih merunduk.


Aku tersenyum bahagia. Walau ia tidak menatap wajahku setidaknya aku tahu kalau sekarang ia baik-baik saja.


Semenit, dua menit, bahkan sampai menit ketiga kami masih duduk dalam diam. Aku sendiri tidak berani membuka mulutku, entah kemana keberanianku menghilang, di depan wanita seindah purnama yang saat ini duduk di depanku, aku tak lebih dari seorang pecundang


"Ap-appa kabar?" Aku bertanya sambil menatap wajahnya. Sungguh, wajah cantik itu tak memberikan reaksi apa-apa.


"Kabarku baik." Balasnya, sedetik kemudian ia menatapku dengan tatapan penuh selidik. Mata itu bersinar


Cessss!


Dadaku berdebar semakin kencang, aku merasa seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Dan jujur saja, aku tidak pernah merasakan cinta sebesar ini sebelumnya, entah pada Seren yang menjadi tunanganku selama bertahun-tahun, atau pada Bani yang menjadi cinta pertamaku saat masih mengenakan seragam putih abu-abu.


"Bagaimana kabar keluarga anda? Maksudku, kabar Oma, Opa, Kakek Buyut dan Nenek Buyutnya Fazila."


"Kabar mereka baik. Mama titip salam untuk Ummi Fazila, Mama juga menitipkan sesuatu untuk Ummi Fazila." Ucapku dengan penuh kehati-hatian.


Ummi Fazila? Untuk saat ini aku hanya bisa memanggilnya dengan sebutan itu. Perlahan tapi pasti, aku yakin akan mendapatkan hatinya, dan aku berharap Tuhan yang maha kuasa mencabut setiap duri yang ada di hatinya.


"Benarkah? Sampaikan salamku untuk keluarga Anda, katakan padanya kalau saya sangat berterima kasih untuk segalanya. Maksud saya, saya berterima kasih karena Fazila tidak rewel walau jauh dari Umminya." Ucap Bidadari surga yang saat ini duduk di depanku itu.


Senyumnya? Senyumnya melumpuhkan jiwaku, pesonanya memabukkan ragaku. Aku sendiri bingung cinta sebesar apa yang kupunya sampai aku merasa akan tiada bila jauh darinya.


"Ummi... Abi...!" Panggilan Bidadari kecilku terdengar bagai nyanyian cinta. Ia datang di saat yang tepat. Aku rasa rencananya berhasil, rencananya untuk menyatukan Ummi dan Abinya, tidak ada lagi kecanggungan di antara kami berdua.


Ku akui aku tidak akan pernah mendapatkan penasihat cinta sebaik dirinya. Dia putriku, dia kebanggaanku. Tetaplah menjadi cahaya, cahaya yang menebarkan kebaikan bagi semesta, Meyda Noviana Fazila.


...***...