Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Bersiap


"Bos. Anda akan tinggal selama dua hari di Surabaya! Setelah peresmian Hotel tuan Dimas, apa anda ingin kembali ke-jakarta atau bertemu tuan Araf di malang?" Bobby membuka suara di antara deru mobil yang terus melaju membelah jalanan menuju bandara Soekarno-Hatta.


Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir ku, aku terlalu malas untuk sekedar menjawab pertanyaan yang ujung-ujungnya mebuatku merasakan penat karena kelelahan.


"Kau terlalu berisik, biarkan aku istirahat sebentar!" Pintaku pada Bobby dengan suara datar, menahan kekesalan.


Maklum saja, selama dua hari ini aku tidur tidak lebih dari tiga jam. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang membuatku bekerja sekeras ini? Hidupku hampir berakhir, namun semangatku untuk bekerja melebihi kekuatan yang ku punya.


Alan, kau dalam masalah besar! Lakukan sesuatu agar hidupmu tidak berantakan! Aku bergumam sendiri tanpa menghiraukan Bobby yang terus saja memandangi wajahku dari kaca yang ada di depannya.


"Kau tidak perlu menatapku seperti itu! Jika orang lain melihatnya, mereka pikir kau sedang jatuh cinta padaku. Aku laki-laki normal yang tertarik pada wanita.


Aku benci mendengar gosip, jadi jangan pernah melakukan hal bodoh di depan atau pun di belakang ku." Ucapku masih dengan mata terpejam. Bobby yang mendengar ucapan ketusku hanya bisa mengangguk pelan.


"Aku ingin menemui Araf begitu kita sampai di Jawa Timur, aku tidak ingin langsung kehotel. Persiapkan dirimu, dan jangan lupa menghubungi Araf setelah kita sampai. Aku benci mengulangi ucapan yang sama." Ucapku lagi, kali ini netra ku terbuka lebar.


Lagi-lagi mobil yang membawaku ke-Bandara tertahan dalam kemacetan panjang. Mobil terlihat mengular di sepanjang jalan. Inilah alasan kuat yang selalu membuatku berangkat dua jam lebih awal dalam setiap pertemuan yang kulakukan.


Terjebak dalam kemacetan panjang selalu membuatku penat. Entah dari mana kekesalan itu muncul, sampai aku merasa sekujur tubuhku panas dingin.


Mama apa kabar? Aku berharap papa bisa menenangkannya! Aku benar-benar putra yang sangat payah, bagaimana mungkin aku selalu membuat keluargaku menangis. Opa selalu keras kepala, dan aku jauh lebih keras kepala di bandingkan dengan dirinya. Lirihku pelan sembari membayangkan wajah garang opa Ade yang selalu tak bersahabat. Semoga tidak ada yang mengalami patah hati seperti yang ku alami. Patah hati ini sungguh menyiksa.


Aku terbuai dalam mimpi panjang ku. Wajah ayu itu kembali hadir memenuhi alam bawah sadar ku. Dia menangis! Dia mengutuk ku! Dia menyumpahi ku!


Tolong maafkan aku! Aku tidak sengaja melakukan itu. Apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkan ku? Aku memang kurang ajar! Kutuklah aku semaumu, tapi jangan pisahkan aku dari sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Air mata mulai menetes membasahi wajah tampanku.


Sungguh, gadis berwajah samar itu selalu hadir dalam mimpiku. Tidak hanya sekali atau dua kali. Hal ini berlangsung selama delapan tahun terakhir, seandainya aku bisa mengingat wajah gadis yang ku nodai itu, akan sangat mudah bagiku menemukannya.


Aku benar-benar pengecut. Setelah melakukan dosa besar aku lari tanpa menoleh kebelakang. Hari-hari yang ku jalani terasa bagai di neraka, malam hari aku tidak bisa tidur, dan siangnya aku bekerja seperti orang gila yang tak kenal waktu. Hidup dalam perasaan bersalah seumur hidupku tidak cukup sebagai hukuman.


Tuhan! Berbuat baiklah padaku, pertemukan aku dengan wanita itu. Dimana pun ia berada tolong buat ia bahagia. Berikan semua dukanya padaku, dan berikan semua kebahagian yang ku punya untuknya. Gumam ku dalam tidur singkatku.


"Tuan. Tuan tidak apa-apa?" Bobby mengguncang tubuhku pelan.


Wajah Bobby terlihat khawatir, nafas ku terasa berat. Air mata masih menetes di sudut mataku. Aku kelelahan dan kondisi ku sangat buruk. Aku merasa benar-benar kacau. Aku tidak menyangka akan memperlihatkan sisi terburuk ku pada Bobby.


"Kita sudah sampai Bandara! Apa tuan yakin bisa melakukan perjalanan ini? Jika tuan merasa tidak sehat, saya akan menghubungi tuan Dimas, tuan Dimas orang yang baik beliau akan memahami kondisi tuan." Ucap Bobby lagi sambil menyodorkan tisu padaku.


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Kita akan berangkat sesuai jadwal. Jangan katakan apa pun pada mama, aku tahu selama ini kau menjadi mata-matanya. Aku membiarkan mu bukan karena aku menyukaimu, hanya saja aku membutuhkan orang sepertimu dalam pekerjaanku." Aku metatap Bobby yang masih duduk di kursi kemudi dengan tatapan setajam Belati. Pelan aku mulai menghapus sisa air mata di pipi kiri dan kanan ku.


Agaknya sang waktulah yang paling perkasa dalam kehidupan. Ia tak tersaing. Tak pernah mengeluh. Tak pernah juga merasa takut.


Dan aku? Hal yang paling ku benci baru saja terjadi tanpa kesengajaan, aku menunjukan sisi kelemahan ku. Menangis dalam tidur singkatku seperti musuh yang tak bisa di sembuhkan bahkan oleh waktu sekalipun.


...***...


"Silahkan di cicipi! Semoga rasanya sesuai dengan selera anda. Tadinya saya berencana mengirimkan kue ini ke rumah dokter Araf." Ucap ku santai sambil meletakkan nampan berisi Bolu Pandan.


"Besok pagi aku dan putri ku akan berangkan ke Jakarta!"


Mendengar ucapan ku dokter Araf langsung berubah, bibir yang tadinya tersenyum tiba-tiba terkatup.


"Bukankah aku sudah bilang, Fazila lolos dalam Audisi Hafidz Qur'an. Jadi, selama sebulan kedepan ia akan berkompetisi. Tak perduli ia menang atau kalah, aku hanya ingin melihat putri ku tumbuh menjadi generasi pecinta Qur'an." Sambungku sambil memandang lurus kedepan.


Ada guratan kecewa di wajah dokter Araf, ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Ia kembali memamerkan senyumnya, namun kali ia senyum yang coba ia paksakan.


Bagaimana jika aku merindukan kalian berdua? Besok pagi? Rasanya ini terlalu cepat! Gumam Araf dalam hatinya.


"Mi. Fazila lapar!"


Fazila duduk di sebelahku sambil menggendong Tipo, kucing lucu itu terlihat menggemaskan. Ia mengibaskan ekornya sambil mengeong, Fazila semakin intens mengelus Kucing kesayangannya tanpa memperdulikan bajunya yang di penuhi bulu-bulu halus Tipo.


"Paman dokter, kenalkan! Ini anak ku!" Ucap Fazila dengan suara lantangnya.


Anak?


Sejak kapan putri manis ku menganggap Tipo menjadi anaknya? Mendengar ucapan polosnya membuat sudut bibirku sedikit terangkat. Aku tersenyum sambil bangun dari posisi duduk ku.


"Tipo adalah kesayangan ku! Sayangnya ia tidak bisa ikut dengan ku, apa paman dokter mau menjaganya untuk ku?" Fazila memohon pada dokter Araf dengan suara memelas.


"Ayah Dena tidak suka kucing, jadi aku tidak bisa memintanya menjaga Tipo. Lisa dan Amir sama saja. Hanya paman dokter yang bisa ku andalkan."


"Baiklah, paman dokter akan menjaganya untuk mu! Tapi dengan satu syarat!"


"Apa syaratnya?" Tanya Fazila antusias.


"Akan ku lakukan!" Sambung Fazila lagi sambil bangun dari posisi duduknya dan berdiri tepat di depan Araf.


"Syarat-nya, kamu harus menang dalam lomba itu." Balas Araf tak kalah semangat dari Fazila.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar putri ku mengurai pintanya pada dokter Araf.


Menang dalam lomba?


Aku rasa itu syarat yang berat! Kalah dan menang semuanya sudah di atur yang Maha Kuasa. Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha melakukan yang terbaik saja.


Jakatra! Aku akan datang, bersikap baiklah padaku dan putriku! Lirih ku pelan sembari berjalan mendekati Fazila di teras depan.


Tiket Penerbangan, dan segala hal yang di perlukan sudah tersedia. Aku rasa, Kiai Hasan dan Nyai Latifa lebih antusias di banding diriku, mereka sudah menyiapkan segala hal untuk ku dan Fazila. Aku hanya perlu bersiap, bersiap untuk meninggalkan kota Malang selama beberapa saat, kota yang sudah mengajarkan ku segala hal termasuk Manis dan Pahitnya kehidupan.


...***...