Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Masa Lalu


Masa lalu biarlah berlalu, dan masa depan sambutlah dengan penuh ketegaran dan kebahagiaan. Ucapan singkat itu sangat mudah untuk di ucapkan oleh siapa pun yang berusaha menenangkan orang terdekatnya. Namun kenyataannya, ucapan itu sangat sulit untuk di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bagiku yang masih memiliki bekas luka yang masih menganga, ucapan singkat itu terdengar seperti uraian kata yang membuatku ingin tertawa dalam tangisan pilu.


"Fatimah... Kau tahu kan, nak? Nyai menganggapmu seperti anak Nyai sendiri. Nyai akan menangis jika kau menangis, Nyai juga akan bahagia jika kau juga bahagia.


Maafkan Nyai karena Nyai terlalu sering mendesakmu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Apa daya Nyai? Nyai hanya seorang ibu yang ingin melihat putrinya bahagia." Ucap Nyai Latifa di antara senyapnya udara.


Hanya kami berdua di kamar inap Nyai Latifa. Kiai Hasan pergi entah kemana bersama dokter Araf, percakapan yang di penuhi canda tawa itu berakhir saat Kiai hasan mengajak dokter Araf jalan-jalan bersamanya.


Dokter Araf? Aku bahkan tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya di rumah sakit tempat Nyai Latifa di rawat. Tadinya Nyai Latifa dan kiai Hasan berencana menyaksikan penampilan putri manisku, sayangnya kondisi Nyai Latifa tiba-tiba drop dan harus di larikan kerumah sakit. Manusia hanya bisa berencana dan segala sesuatunya berjalan sesuai kehendak yang kuasa, Allah.


"Seorang pemuda sholeh datang ke Pesantren, dengan niat tulus dia datang untuk meminangmu di depan Kiai.


Jujur... Nyai sangat menyukai pemuda itu. Dia pemuda yang Tampan, Sholeh, juga Berpendidikan. Dan lebih bagusnya lagi, dia dari keturunan baik-baik. Ayah pemuda itu adalah sahabat dari Kiai Hasan, mereka dari keluarga yang taat beribadah. Bukankah kau menginginkan Fazila tinggal di lingkungan pesantren?


Kali ini Allah membukakan jalan untukmu, seorang pemuda yang Insya Allah Nyai jamin baiknya Akhlaknya datang meminangmu, tidak ada kata yang lebih baik yang bisa Nyai ucapkan selain memintamu dengan hormat untuk menerima pinangannya.


O iya... Satu lagi, pemuda itu ikhlas menjadi ayah sambung untuk putri saliha mu. Katakan pada Nyai, jawaban apa yang akan kau beri...?" Nyai Latifa menutup kalimat panjang kali lebarnya dengan senyuman yang masih mengembang di wajah sepuhnya.


Alasan apa yang akan ku beri pada Nyai Latifa? Beliau terlalu sering memintaku untuk segera berumah tangga, namun aku masih merasakan takut luar biasa, ketakutan yang bahkan masih menghantuiku sampai dalam tidurku.


Perlahan aku mulai mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk, aku menatap wajah Nyai Latifa sambil mengucap kata maaf.


"Maaffff? Maaf untuk apa? Nyai tidak berbohong, pemuda itu pemuda yang sempurna untukmu.


Dia menyelesaikan pendidikannya di Kairo! dan bagusnya lagi, dia Lulusan terbaik tahun ini. Dia sengaja cepat pulang hanya untuk meminangmu, lalu apa yang membelenggu langkah kakimu untuk tidak bisa berjalan dan mencicipi kebahagiaan yang sudah ada si depan mata? Katakan pada Nyai saat ini juga sehingga Nyai bisa membantumu!" Lagi-lagi Nyai Latifa mendesak ku dengan ucapan lembutnya namun terasa menusuk di dada.


"Nyai... Tolong jangan desak Fatimah! Ketika Nyai meminta Fatimah menceritakan segalanya, Fatimah merasa bersalah karena tidak bisa menuruti permintaan Nyai.


Jika Fatimah membuka kisah lama ini, Fatimah akan tiada dalam duka. Ucapan sabar itu terasa ringan di Lisan namun sangat berat di hati." Timpalku dengan derai air mata, wajah Nyai Latifa yang tadinya memamerkan bahagia luar biasa kini berubah murung tanpa berucap sepatah kata lagi.


"Masa lalu ku bagai kabut hitam yang masih saja menyelimuti kehidupanku. Nyai tahu? Rasanya, Fatimah ingin menghilang dari kehidupan keras ini, namun sebuah harapan baru muncul dalam kegelapan itu." Aku mulai membuka luka lama, kisah saat-saat terberat dalam hidup ku.


"Bahagia? Satu kata itu terasa sangat jauh dalam kehidupan kerasku. Saat usiaku delapan tahun, kedua orang tua yang sangat ku sayangi tiada dalam kecelakaan maut saat beliau kembali dari Bandung menuju Surabaya.


Fatimah pikir, saat kedua orang tua Fatimah tiada Fatimah akan hidup sebatang kara. Namun semua itu tidak benar, Allah kirimkan dua Malaikatnya untuk menjaga Fatimah." Untuk sesaat aku terdiam sambil menghadirkan sosok yang sangat berjasa dalam hidupku itu, sosok yang juga telah kembali menuju pangkuan Ilahi.


"Dua orang itu adalah orang tua angkat ayah Fatimah. Nama beliau Kakek Alfa dan Nenek Alma. Fatimah sangat menyayagi mereka berdua. Bagi ku, pagi hariku di mulai dari mereka dan berakhir untuk mereka." Air mataku terus saja menetes, aku tidak bisa menahannya lagi, kerinduanku pada Nenek Alma dan Kakek Alfa menelusup masuk membelai lembut lubuk hati terdalamku.


Kepedihan, kesedihan, amarah dan rasa takut kini mulai memenuhi rongga dadaku. Untuk pertama kalinya aku merasakan sakit sebesar ini. Semakin aku berusaha tegar semakin aku merasakan kepayahan.


"Setelah kedua orang tuaku tiada, Nenek Alma dan Kakek Alfa menjadi pegangan hidupku. Waktu terus berjalan, kebahagiaan mulai berganti kesedihan. Kakek Alfa, beliau tiada dalam perjalan ketika mendaki ke Gunung Butak, sejak kakek Alfa tiada pondasi hidupku mulai goyah.


Nenek Alma mulai sakit-sakitan, beliau bahkan mulai hilang arah. Aku yang rapuh begitu terpuruk menghadapi keadaan yang ada. Aku merawat Nenek Alma dengan segenap jiwa dan raga, beliau bahkan bertingkah seperti bayi, semuanya ku hadapi dengan kesabaran.


Di saat aku merasa terpuruk karena kehilangan kakek Alfa, tak berselang lama Nenek Alma pun menyusul kakek Alfa, mereka berdua pergi meninggalkanku sebatang kara." Untuk sesaat aku terdiam sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.


"Peristiwa besar kembali menghantam hidupku. Seolah hidup ini hanya di penuhi derita saja." Aku mulai menangis sesegukan. Aku bertingkah seperti anak kecil yang kekurangan kasih-sayang. Biasanya aku tidak pernah menangis si depan siapa pun selain depan Rabb ku yang Maha Penyayang.


Entah darimana dan bagaimana aku bisa menangis di depan Nyai Latifa. Kesedihanku memenuhi pori-pori tubuhku. Aku bertanya-tanya apa sebenarnya aku selemah ini? Biasanya aku tidak serapuh ini!


Untuk sesaat aku menghentikan tangisku, namun ucapanku masih terkatup di bibir. Rasanya aku tidak bisa melanjutkan kisah ini, melihat wajah Nyai Latifa membuatku memaksakan diri untuk menahan deritaku.


"Se-o-rang pria ke-jam menghancurkan hi-dup ku! Pria kejam itu menodai ke-su-cian ku! Aku bahkah hampir mengakhiri hidupku! Kehamilanku mencegahku melakukan dosa besar itu!


Tangisku yang sempat tertahan kini kembali pecah, sekujur tubuhku bergetar hebat. Kali ini bukan hanya aku yang menangis pilu, suara tangisan Nyai Latifa bahkan lebih besar dari suara tangisku. Ia memelukku sambil menepuk-nepuk pundakku pelan.


"Anak ku yang malang! Kenapa kau tidak pernah menceritakan kepedihanmu! Maafkan Nyai yang selalu ceroboh, Nyai selalu memaksamu menikah tanpa mengetahui kepedihan mendalammu.


Katakan pada Nyai, haruskan Nyai bersujut di bawah kakimu memohon pengampunanmu? Luka yang kau alami terlampau dalam, dan tanpa Nyai sadari Nyailah yang memperparah luka itu. Walau terasa berat Nyai akan tetap mengatakannya, bintang bersinar hanya dalam kegelapan. Jangan siksa dirimu dalam kepedihan. Jika kau sakit katakan sakit, jangan sembunyikan sakitmu di depan ibumu ini." Ucap Nyai Latifa dalam isakan tangisnya.


Sementara itu di luar kamar Nyai Latifa berdiri seorang pria dengan isakan tangisnya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan isakannya agar tidak terdengar oleh telinga dua wanita yang saat ini menangis karena pedihnya duka masa lalu yang masih menorehkan luka.


...***...


Hhhuuuuaaaaaaa!


Hiks.Hiks.Hiks.


Teriakan dan isakan tangisnya memenuhi kamar Hotel tempatnya menginap. Untungnya tidak ada siapa pun yang menyaksikan isakan dan teriakan pilunya selain pengawal pribadi yang sudah menjadi bayangannya selama beberapa bulan ini.


Tuan... Maafkan aku! Aku tidak bisa menghiburmu walau aku tahu betapa besar kesedihan yang kau rasakan saat ini. Menangislah! Aku berharap dengan tangisanmu kesedihanmu akan berkurang. Gumam Amri sambil berdiri tegap di dekat pintu. Air matanya mulai menetes, namun secepat kilat ia segera membersihkan dengan punggung tangannya.


Seorang pria kejam menghancurkan hidupku! Pria kejam itu menodai kesucianku! Ucapan itu terus saja berputar di memori otaknya, sampai-sampai sekujur tubuhnya bergetar hebat.


Nyonya... Haruskah aku menghubungi Nyonya? Tuan muda Araf terlihat sangat menderita!


Tidak. Tidak!


Jika aku menghubungi Nyonya, bagaimana jika tuan muda Araf kesal? Aku tidak ingin menambah deritanya, aku akan berdiri di sisinya hanya sebagai baju anti peluru, aku tidak akan berdiri di sisinya sebagai pengganggu.


Yahhh... Aku pikir, tetap diam adalah pilihan terbaik. Gumam Amri lagi sambil menatap wajah tuannya dari jarak sepuluh langkah.


"Mulai sekarang, tidak ada lagi tangisan. Aku akan memenuhi hidup wanita yang ku cintai itu hanya dengan kebahagiaan. Aku akan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.


Selama ini ia membesarkan putrinya sendiri, kali ini tidak lagi. Aku tidak perduli dengan pria bejat itu. Aku akan selalu berdiri disisi wanita yang kucintai.


Nona Fatimah... Mulai saat ini aku akan berdiri disisimu sampai kau merasa muak padaku. Aku akan menjadi sapu tangan yang akan membersihkan air matamu!"


Araf bangun dari posisi duduknya. Kali ini ia berjalan menuju kamar mandi, melihat tingkah aneh tuannya Amri mulai terlihat panik. Ia khawatir tuannya akan menempuh jalan yang salah.


Jika tuan tidak keluar dalam waktu dua menit aku akan mendobrak pintu itu. Gumam Amri sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu terus berlalu dan dua menit yang di janjikan Amri hampir saja habis, baru saja Amri bergerak dari posisinya, dan....


Cekrekkk!


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan wajah tampan tuannya. Kali ini bukan wajah sedih namun wajah pasrah akan takdir yang sudah di gariskan yang Kuasa. Sedetik kemudian, tanpa berucap sepatah kata Araf langsung menggelar sajadahnya, mengerjakan salat untuk pertama kalinya setelah belasan tahun berlalu. Hanya satu keyakinan yang coba Araf tanamkan dalam hatinya, 'Jodohmu adalah cerminan dirimu' Tidak ada jalan lain untuknya selain memperbaiki keimanannya sehingga wanita saliha yang selama ini menjadi incarannya akan menjadi miliknya untuk selama-lamanya.


Fatimah... Tunggulah sebentar lagi, aku akan datang padamu sebagai pria yang bisa kau andalkan. Aku ingin menemuimu sebagai pria yang berbeda, bukan lagi sebagai Araf yang manja, atau Araf yang sengaja menebar pesona. Aku akan menjadi lebih kuat sehingga tidak ada angin atau badai yang bisa menyurutkan tekadku untuk berjalan menuju kearahmu. Masa lalumu sangat pilu, tapi aku akan menjadi masa depanmu yang akan membawamu menuju bahagia sampai kesurga.


Allah huakbar...


Araf berdiri tegap, sambil berusaha mengingat bacaan salat yang sudah lama ia lupakan. Sungguh, ini awal yang baru baginya, awal yang akan mebawanya menuju bahagia atau justu menuju derita. Hanya Tuhan yang tahu kemana Takdir akan membawa kisah cintanya.


...***...