Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Desakkan


Bu Nani memasuki rumah dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, matanya berkaca-kaca. Rasanya ia ingin segera duduk bersama seluruh anggota keluarganya dan mengabarkan semua yang menjadi sumber pemikirannya.


"Mbok, tolong panggil semua orang!" Perintah bu Nani pada Asisten Rumah Tangga separuh bayanya begitu ia duduk di sofa.


"Oma dan opa ada di kamarnya. Sementara tuan, beliau baru pulang. Nona muda akan telat pulang karena ada jadwal kuliah sore." Ucap ART separuh baya itu pada bu Nani.


"Baiklah, tidak apa-apa! Aku akan bicara nanti malam saja. Tolong bawakan teh hijau untuk ku!" Pinta bu Nani dengan hormat.


"Baik nyonya."


Setelah ART separuh baya itu tidak terlihat lagi oleh netranya, bu Nani segera meraih tas yang ia letakkan di atas meja, berusaha mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan singkat kepada orang kepercayaannya.


Kau dimana? Tulis bu Nani penuh selidik. Sepersekian detik kemudian bu Nani menerima balasan dari pesannya.


Bandara!


Apa Alan bersamamu? Bu Nani kembali bertanya.


Ia, nyonya!


Segera antar Alan kerumah, ada hal penting yang harus kami diskusikan dengannya!


Baik, nyonya. Akan saya lakukan!


Balasan pesan terakhir yang bu Nani baca berhasil membuat wajahnya memamerkan senyum sempurna.


"Teh hijaunya, nyah!"


"Ia, terima kasih." Balas bu Nani singkat.


"Kau sudah pulang? Bukankah kau akan ke-stasiun Tv? Bagaimana keadaan disana?" Tanya opa Ade begitu ia muncul di depan bu Nani dan duduk di sofa, di ikuti oma Ochi yang duduk di samping suami sepuhnya.


Guratan kerutan menghiasi wajah oma Ochi dan opa Ade, meskipun begitu mereka terlihat sehat. Hanya saja, wajah bahagia mereka akan langsung sirna begitu ada orang yang menyinggung soal cucu di depannya.


"Mama sudah pulang?" Pak Otis ikut nimbrung dan duduk di samping istrinya, bu Nani.


"Nani segera pulang karena ada yang ingin Nani bicarakan! O iya, yah... Bukankah ayah punya sahabat karib yang juga punya cucu seusia Alan?" Bu Nani bertanya pada opa Ade setelah meletakkan cangkir teh hijau di tangan kanannya.


"Iya!" Balas opa Ade singkat tanpa bertanya arah pembicaraan putrinya.


"Kalo tidak salah, nama gadis itu Oliv. Aku pernah bertemu dengannya sekali, disamping cantik gadis itu juga baik. Nani berencana menjodohkan Alan dengannya, bagaimana menurut ayah dan ibu? Kamu juga pa, bagaimana pendapat kalian?"


Mendengar ucapan putrinya opa Ade hanya bisa mangut saja, tentu saja ia sangat bahagia mendengar ucapan bu Nani karena ia pun mengharapkan hal yang sama, melihat Alan menikah bagaikan mimpi yang selalu ingin di wujudkan opa Ade, kesempatan itu pun datang tanpa memaksa putrinya untuk melakukan intimidadi seperti yang biasa ia lakukan.


"Ma, bicarakan dulu semuanya dengan Alan! papa takut anak itu akan menolak!" Pak Otis berusaha mengingatkan bu Nani sebisanya.


"Papa tidak perlu khawatir, sebentar lagi Alan akan segera tiba." Kali ini bu Nani cukup serius dengan ucapannya.


"Tiba! Maksud mama?"


"Sudahlah Otis, istrimu itu benar! Sudah waktunya Alan berumah tangga. Walaupun dia tidak tinggal dirumah ini, bukan berarti dia bukan anggota keluarga ini lagi. Sudah waktunya dia memahami itu." Sambung opa Ade tanpa beban, sementara oma Ochi hanya bisa menghela nafas kasar.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda Araf baru saja menyelesaikan pekerjaannya, wajah tampannya nampak kelelahan. Untuk sesaat ia berbaring di atas sofa, mengganjal kepalanya dengan bantal kecil.


Baru sehari ia tidak bertemu dengan Fazila, namun dunianya terasa sepi tanpa kehadiran anak manis itu.


"Tuan, amplop yang tuan Alan berikan apa saya saja yang mengantarnya kerumah Kiai Hasan? Tuan nampak kelelahan, jika anda mau anda bisa istirahat saja!"


"Ya ampun! Aku sampai lupa karena kesibukan! Tidak, tidak. Kau tidak perlu melakukan itu. Aku yang akan menemui Kiai Hasan. Tugasmu hanya mengawalku, tidak lebih dari itu." Balas Araf sambil bangun dari sofa yang ia tiduri tidak lebih dari sepuluh menit.


Bukan hanya Araf, Kiai Hasan, dan Nyai Latifa saja yang merindukan Fazila, tiga bocah manis yang menjadi sahabat karib Fazila pun sangat merindukannya.


Sejak pagi Lisa, Dena, dan Amir memilih untuk berada di Pesantren, berharap Fazila akan menelpon Kiai Hasan kemudian tiga bocah itu berencana ikut nimbrung ambil bagian menyapa sahabat terbaiknya yang saat ini berada di belahan kota lain.


"Lisa, kau juga! Kemari dan bantu aku! Kita akan menggelar tikar ini, sebentar lagi sore. Jika tempat ngaji kita bersih ilmu akan mudah masuk." Dena menjelaskan pada Lisa sambil tangannya tidak berhenti menyapu lantai Aula.


"Kalian benar anak-anak, jika tempat kalian bersih, Insya Allah ilmu akan mudah masuk." Ucap Kiai Hasan pelan, rupanya tiga bocah manis itu tidak sadar sejak tadi Kiai Hasan mengawasi gerakannya.


"Assalamu'alaikum..."


Ucapan salam dari tamu tak terduga berhasil menghentikan aktivitas bocah manis itu. Semua mata tertuju pada sumber suara, sumber suara yang berasal dari pintu masuk Aula.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Balas Kiai Hasan dan ketiga bocah manis itu bersamaan.


"Nak Araf, anda disini?"


"Ada yang bisa bapak bantu?"


"Aahhh maaf, seharusnya bapak tidak bertanya seperti itu! Ayo, kita kerumah saja. Disana kita bisa minum teh dengan santai." Ucap Kiai Hasan lagi.


"Tidak perlu Kiai. Saya berkunjung hanya sebentar saja, kebetulan sahabat saya menitipkan ini, katanya untuk pesantren. Mau tidak mau saya harus segera menyerahkannya pada Kiai." Ucap Araf dengan nada santai.


Kiai Hasan menerima amplop yang Araf berikan, kemudian perlahan membuka dan melihat isinya. Netra Kiai Hasan membulat begitu melihat apa yang tersimpan di dalamnya.


"Alhamdulillah." Ucap Kiai Hasan spontan, di ikuti oleh tatapan Araf yang menjelaskan sikap penasarannya.


"Ada apa Kiai? Apa Alan menuliskan hal yang buruk?"


"Tidak, nak. Bapak sangat bersyukur, nak Alan tidak disini lagi, namun dia meninggalkan hal yang besar." Ucap Kiai Hasan dengan wajah yang di penuhi senyuman. Kiai Hasan menunjukan isi dari amplop yang di bawa Araf, selembar cek berisi angka yang Alan tulis dengan tangannya, jumlah angka yang tidak sedikit, seratus juta rupiah.


...***...


"Tuan, kita sudah sampai!" Ucap Bobby dengan suara pelan.


"Aahh... Benarkah?" Pelan aku membuka mata, aku terkejut begitu melihat Bobby tidak membawaku kerumahku, ia justru membawaku kerumah yang di tempati anggota keluarga Wijaya.


"Apa kau tidak waras! Aku bilang mau pulang, bukan kerumah opa. Cepat putar balik!" Perintahku pada Bobby dengan suara kasar.


Baru saja mobil yang kami kendarai bergerak, mama keluar dari dalam rumah, memanggil namaku sambil melambaikan tangan.


Aku sadar, lari saat ini tidak akan membantu.


Aku berharap tidak akan ada masalah besar seperti terakhir kali.


"Sayang, kau sudah sampai? Ayo kita masuk, ada hal penting yang ingin mama sampaikan." Mama membuka pintu mobil dan meraih lenganku, tidak biasanya mama bersikap agresif, aku yakin mama sudah merencanakan hal yang akan merugikanku.


"Apa kau mau makan?"


"Tidak, ma. Alan sudah kenyang!"


"Ooohhh baiklah, kalo begitu kita hanya akan bicara saja."


"Alan." Oma Ochi mendekat padaku memelukku kemudian mencium keningku.


Papa pun melakukan hal yang sama, memelukku kemudian menepuk bahu kekarku sambil memamerkan senyum bahagianya karena bisa melihatku lagi di rumah kediaman Wijaya, rumah yang ku tinggalkan sejak lima tahun yang lalu.


Opa Ade, hari ini pun beliau terlihat sama, wajah garang tanpa senyuman. Duduk mematung di dekat meja kecil yang terlerak di samping kanannya.


"Kau bilang, kau tidak ingin makan, maka mama akan langsung bicara keintinya. Menikahlah, mama sudah menemukan gadis cantik dan baik untuk mu, namanya Oliv, dia cucu dari sahabat kakekmu."


Ucapan singkat mama bagaikan gemuruh yang menghancurkan hatiku, bagaimana mungkin dia bisa memintaku menikahi wanita yang tidak pernah kulihat dan kudengar namanya.


Aku mengarahkan netraku kearah empat orang yang sangat ku hormati, mama, papa, oma, dan opa. Aku menatap wajah mereka satu persatu, wajah itu tidak lagi terlihat ramah, aku yakin kali ini mama pasti akan mendesakku untuk segera menikah, desakkan yang tidak ada jalan lain bagiku selain menolaknya, entah dengan cara yang lembut atau dengan cara yang kasar.


...***...