Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Orang Asing


Senja baru saja tiba ketika Seren memasuki kamarnya, seharian berada di luar rumah membuatnya terlihat kacau. Terlebih lagi, seharian ini aktivitasnya hanya memantau dari kejauhan semua aktivitas Alan.


Sejak Alan memutuskan pertunangan sepihak tidak ada lagi cahaya yang menghampiri kehidupannya. Rasanya seperti mati lampu, kemanapun ia menghadapkan wajahnya terasa gelap.


"Nona, besok anda mempunyai jadwal pemotretan di Wijaya Hotel." Lapor Manager Seren. Bukannya senang, Seren malah mendengus kesal. Minuman kaleng yang tadinya ia buka terpaksa menjadi sasaran kemarahannya.


"Persetan dengan semua jadwal itu, batalkan semuanya." Seren berteriak di susul dengan air matannya yang mulai tumpah.


Baru kali ini ia menyadari kalau ia sangat mencintai Alan, berulang kali lelaki tampan yang di berkati dengan segala kesempurnaan yang di inginkan wanita itu memintanya menikah, sayangnya sejuta alasan selalu terlontar dari bibir tupisnya.


Sayang aku masih sibuk! Sayang aku belum sanggup menjadi ibu! Sayang aku masih ingin meraih kesuksesan! Sayang aku begini, sayang aku begitu, sayang aku ingin ini, sayang aku ingin itu. Masih banyak lagi alasan yang di lontarkannya. Seandainya waktu bisa di putar kembali, tidak ada alasan untuknya menolak peria komplit itu.


Hikkk...hikkkk...! Seren memenuhi kamarnya dengan suara rintihan penyesalan. Tangis tak lagi berguna, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Bukankah Papi selalu memintamu untuk segera menikah! Namun apa yang sudah kamu lakukan? Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk seorang Alan menunggu wanita sepertimu!


Di luar sana ribuan wanita siap menjadi istrinya. Sementara kamu? Kamu malah mengabaikannya. Papi berusaha menyatukan kalian dengan ikatan pernikahan, tapi kamu sudah menghancurkan segalanya. Aaaaahhhhh!" Seren mulai menangis sesegukan, kemarahan papinya berhasil membuatnya mengenang kembali ingatan manis tentang Alan.


"Sudahlah Pii, Papi tidak perlu mengingat kenangan buruk itu. Mengingat hal itu membuat Mami kesal. Apa Papi tidak memikirkan perasan putri kita?"


Mendengar ucapan istrinya, papinya Seren hanya bisa mendengus kesal. Ia meninggalkan kamar putrinya sembari membawa kemarahan yang hampir membuatnya sulit bernafas.


"Sudahlah, sayang. Lupakan segalanya, mungkin Alan bukan jodohmu. Karena Tuhan tidak akan pernah melakukan kesalahan. Hapus air mata berharga ini dan tersenyumlah."


Mendengar ucapan Maminya, Seren hanya bisa berpura-pura tersenyum.


"Mami mungkin bisa melupakannya, tapi aku tidak!" Lirih Seren pelan ketika Maminya tak terlihat lagi oleh netranya.


"Alan... Kisah ini di mulai atas persetujuan ku, dan tidak akan berakhir tanpa izin dari ku juga. Apa hatimu sudah berubah? Wanita seperti apa yang berani mengambil Alan ku? Akan ku pastikan untuk memotong sayap setiap wanita yang berani terbang kearahmu!" Ucap Seren kesal dalam kesendirian.


"Akan ku pastikan tidak ada wanita yang berani mengambilmu dariku, karna kau hanya milik ku." Ucap Seren lagi, kali ini ia benar-benar bertekat.


Kesunyian yang ia rasakan selama berhari-hari membuatnya banyak berpikir tentang masa depan yang ia inginkan dengan Alan. Cinta biasa yang ia jalani selama waktu yang ia habiskan berubah dalam waktu semalam menjadi cinta luar biasa.


...***...


Di butuhkan dua orang dalam permainan Catur, terkadang rekan mu akan melakukan gerakan yang bisa membuat mu kalah, atau bisa saja kamu yang menang. Dan sekuat apapun tembok yang kamu bangun untuk membentengi diri, akan ada celah bagi musuh untuk menghancurkan mu.


Skak Matt.


Semuanya akan berakhir dalam satu langkah, jika kamu sendiri berhenti berpikir untuk menang melawan tantangan.


Begitu juga dengan yang ku alami pagi ini, jiwa keibuanku telah mengalahkan egoku.


Setiap kali hari ulang tahun putriku tiba, rasanya beban berat menghimpit sekujur tubuhku. Aku lemah.


Aku seorang ibu, jadi aku akan selalu menguatkan diriku. Sama seperti Hajar yang tidak menyerah untuk putranya Ismail AS.


"Eehh bu Fatimah, apa yang bisa saya bantu?" Tanya seorang penjual sayur.


"Tadi malem Lisa cerita, katanya Kiai Hasan mengikut sertakan Fazila dalam acara lomba Hafiz Qu'ran, apa ibu benar bu Fatimah?" Tanya penjual sayur itu lagi.


Lisa?


Aah, iya. Aku ingat, Lisa adalah temannya Fazila. Dan sekarang aku sedang bicara dengan kakeknya Lisa, pak Parman.


"Itu benar, pak. Sekarang Fazila masih Audisi, doa kan saja semoga Fazila lolos dan bisa mewakili desa kita." Ucapku sopan sembari memandangi peria separuh baya di depanku. Ia tersenyum kemudian menyodorkan dua lembar uang dua puluhan.


"Aalahhh, baru audisi aja udah bangga. Paling juga anak sampeyan gak lolos. Hafalan gitu aja bangga." Ucap salah seorang yang berdiri tepat di belakangku.


Aku terkejut sekaligus kesal mendengar ucapan nya. Menghafal Quran bukan perkara sepele, dan ucapan ketusnya bagaikan tamparan keras yang mendarat di pipi ku.


Innallazina kafaru sawa'un alaihim a anzartahum am lam tunzir-hum la yu'minun.


Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Qs.Al-Baqarah-6)


Jika hati seseorang telah di tutup Oleh Allah, maka sekuat apa pun usaha mu untuk menerangi jiwa mereka, akan berakhir sia-sia. Meskipun begitu keburukan tetap harus diluruskan, kebaikan jangan sampai di tinggalkan dan usaha untuk saling mengingatkan jangan sampai tak di indahkan. Karna orang yang beruntung adalah orang yang selalu mengingatkan dalam kebaikan.


"Lolos atau tidak, Allah yang putuskan hasilnya. Yang penting kita sebagai manusia harus berusaha. Esok hari mungkin telah terencana, namun tak berarti ia akan berjalan sesuai keinginan kita. Dan yang bu Rt ucapkan 'Hafalan gitu aja bangga' itu adalah Al-Quran, aku sangat bangga putri ku menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai Al-Qur'an." Ucapku lantang, aku berharap tidak ada yang tersinggung.


"Bu Fatimah benar, hanya orang bodoh yang tidak bangga memiliki penghafal Quran dirumahnya. Lagian bu Rt... Anda tidak berhak berkata seperti itu pada bu Fatimah, beliau orang baik." Sanjung pak Parman.


"Itulah yang membuat wanita ini bangga, setiap ada masalah selalu saja ada yang membelanya. Lagi pula untuk apa aku bangga padanya dan pada putrinya, aku bahkah tidak tahu anaknya itu sah atau tidak, jika sah dimana ayahnya?" Bu Rt berteriak kasar di tengah kerumunan, bagai di sambar petir di siang bolong, sekujur tubuhku terasa lemas. Nafasku terasa berat, akhirnya hal yang ku takuti terjadi juga.


Orang mulai mempertanyakan Bidadari kecil ku. Pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya.


Ingin rasanya aku menyumpal mulut kasar wanita separuh baya itu dengan sanyuran yang ada di tangannku. Namun aku tidak bisa melakukan itu, karna aku seorang Muslimah. Seorang muslim ibarat buku yang terbuka dan perilakunya sebagai isinya,


"Hai wanita gemuk, ia.... Anda, berani sekali anda membuat keributan di depan umum. Dan anda malah mepertanyakan anak orang lain, apa dia harus menjawab pertanyaan anda? Cepat pergi sebelum aku memanggil Polisi?" Ucap lelaki muda berwajah khas Eropa.


Tatapan matanya tajam bak Elang, wajah tampannya mengguratkan aura positip. Semua wanita yang memandangnya pasti akan tersihir, namun tidak dengan ibu satu anak sepertiku.


"Kali ini kau selamat, lain kali aku tidak akan melepaskanmu!" Ucap bu Rt sembari menampakkan wajah kesalnya.


"Jangan pikirkan apa yang di lontarkan wanita tua itu bu Fatimah, aku yakin dia tidak pernah bahagia dalam kehidupannya." Ucap salah seorang pembeli sayur lainnya.


Aku hanya bisa menganggukkan kepala sembari tersenyum kecil kearahnya. Dan lelaki yang tadi membelaku masih berdiri mematung, ia tampak Asing, karna aku benar-benar tidak mengenalinya.


Aku sangat berterimakasih padanya, ia hanya Orang Asing, namun ia bersedia membelaku. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir kami selain sama-sama memberikan senyuman kecil. Netra kami masih bertemu ketika salah seorang memanggil namanya.


Araf...!


Dengan jelas aku mendengar peria separuh baya itu memanggil namanya Araf.


Terimakasih tuan Araf, semoga kita tidak bertemu lagi. Dan kalaupun Takdir mempertemukan kita lagi, semoga waktu itu lebih baik dari pertemuan ini. Lirihku pelan sembari meninggalkan kerumunan.


...***...