Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Baik-Baik Saja


Ting.Tong.Ting.Tong.


Seseorang dengan kasar mengetuk dan membunyikan bel dengan brutal. Mengatahui tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, ia semakin geram. Waktu baru saja menunjukan pukul 20:00 namun amarahnya semakin membuncah.


"Buka pintunya! Apa kau ingin Mama memanggil Manager Hotel dan mengusirmu dengan kasar. Cepattttt!" Ucap wanita separuh baya itu, ia berteriak sambil menggedor pintu dengan keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Lima menit kemudian...


Cekrekkkk!


Pintu terbuka dari dalam, raut wajah tak bersahabat menyapa Amri begitu ia membuka gagang pintu. Rasanya ia ingin berontak, sayangnya tatapan tajam Mama dari tuan mudanya seolah sedang mengulitinya.


"Apa kau mau di pecat? Berani sekali kau mengabaikan ku! Jika kau berani bertindak seperti ini lagi jangan salahkan aku kalau aku akan memotong sayapmu! Dasar tidak berguna!"


"Ma-maaffff Nyonya, sebenarnya saya tidak bisa membukakan Nyonya pintu karena Tuan Muda..." Ucapan Amri tertahan di tenggorokannya begitu melihat wanita separuh baya yang saat ini berdiri di depannya menerobos masuk. Betapa terkejutnya pemilik tubuh separuh baya itu begitu mendapati putra semata wayangnya melakukan hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.


"Nyonya Tuan..." Ucapan Amri terhenti begitu melihat wanita separuh baya yang sangat dihormatinya itu memberikan isyarat untuk diam.


"Ssssss!"


Lima menit berlalu dengan keheningan.


"Mama ada disini? Sejak kapan?" Araf bertanya begitu ia menyelesaikan Shalatnya, ia bertanya sambil berjalan menuju sofa tempat Mamanya duduk, wajah itu terlihat tenang.


"Dasar anak nakal! Apa kau pikir Mama tidak akan tahu jika kau bersembunyi dari Mama? Dan dia? Dia pengawal tidak berguna! Mama memintanya menjadi mata-mata, dia malah mengabaikan tugasnya."


"Eeeiiii... Mama tidak perlu menyalahkannya, dia sangat setia." Bela Araf untuk pengawal pribadinya.


"Mama tidak salah dengar? Sejak kapan anak Mama membela orang lain? Dan sejak kapan anak Mama mulai Shalat? Dari dulu Mama memintamu melakukan itu. Tapi, tetap saja kau berpura-pura tuli. Syukurlah, hari ini Tuhan yang maha Kuasa memberimu Hidayahnya.


Setelah Allah memberimu Hidayah, jangan pernah kau buang Hidayah itu. Betapa banyak orang yang mendapatkan hidayah namun ia tidak mau mengambilnya. Iman adalah Mutiara di dalam Hati Manusia, jangan goyahkan Iman itu walau karena cinta."


Rasanya Araf ingin meneteskan air mata mendengar nasihat Mamanya. Biasanya, ketika Mamanya melontarkan nasihat Araf akan berpura-pura mendengar namun di belakang ia tidak akan segan-segan untuk berhura-hura dengan gadis manapun tanpa sepengetahuan Mamanya.


Tante Linda luar biasa. Tuan muda sangat beruntung mendapatkan Mama sebaik dirinya. Seandainya Ibu masih hidup, beliau pasti melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Tante Linda. Tuhan, Amri merindukan Ibu, tempatkan beliau di tempat terbaikmu. Aamiin... Amri bergumam sendiri sambil berjalan mundur meninggalkan Ibu dan Anak itu untuk bicara serius.


"Mam... Araf jatuh cinta!" Ucap Dokter Araf sambil merunduk. Cukup lama ia terdiam sambil menanti tanggapan apa yang akan diberikan Mamanya. Sayangnya, tidak ada tanggapan dari Bu Linda, karena itulah dokter Araf secara perlahan mengangkat kepalanya. Dadanya berdebar, otak kecilnya masih membayangkan jawaban apa yang akan diberikan Mamanya dalam kemarahan besarnya.


"Araf bilang Araf sedang jatuh cinta!" Dokter Araf mengulangi ucapannya sambil menatap wajah heran Mamanya.


"Haruskan Mama bilang waw, gitu?"


"Kalau Mama marah, bilang saja Mama marah. Mama tidak perlu diam seperti itu!"


"Bukankah putra Mama terlalu sering jatuh cinta? Lalu untuk apa Mama berkomentar lagi! Teri, Meri, Putri, Ayesa, Alina, Alisya, Dinda dan terakhir Luna. Apa Mama harus memberikan tanggapan berbeda?


Walaupun Mama melarangmu jatuh cinta kau tidak akan pernah mengikuti ucapan Mama, karena Mama tahu kau sama keras kepalanya dengan Papamu!" Tutup Bu Linda sembari menatap wajah tampan putra semata wayangnya.


"Kali ini berbeda Mam! Dia wanita yang baik, dan dia Wa-ni-ta dengan sa-tu anak!" Ucap Dokter Araf gugup.


Mendengar penuturan putranya, Bu Linda nampak geram. Wajah yang tadinya mengukir senyuman kini berubah tegang.


"Kau boleh jatuh cinta pada siapa pun! Tapi, bukan dengan wanita yang sudah menikah! Apa Mama pernah mengajarimu untuk merebut istri orang lain? Wanita dengan satu anak? Omong-kosong!" Gerutu Bu Linda sambil menatap dokter Araf dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu akan menguliti lawan bicaranya.


"Mam... Dia wanita yang baik, dia bukan istri siapa pun, dia hanya ibu tunggal."


Tapi, untuk saat ini kau harus pulang kerumah. Kau harus menyapa Papa mu! Apa kau tidak mengenalnya? Setiap kali kau membuat ulah Mama lah yang akan kena getahnya. Dasar anak tidak tahu diri!" Gerutu Bu Linda lagi, ia tersenyum sembari merentangkan kedua lengannya, sedetik kemudian Dokter Araf berhambur menuju pelukan Mama yang sangat dirindukannya itu.


...***...


Suasana haru yang masih menyelimuti ruang rawat inap Nyai Latifa terasa menyesakkan dada. Aku, Kiai Hasan dan Nyai Latifa masih larut dalam diam.


Aku bisa melihat dengan jelas kalau saat ini Kiai Hasan masih larut dalam kesedihan panjangnya. Mata sayu beliau tak berhenti meneteskan air mata. Betapa beruntungnya diriku yang hina ini, setiap duka yang datang hampir saja melumpuhkan jiwaku, namun Allah kirimkan Malaikat tanpa sayapnya untuk menjagaku dan menangis bersamaku.


Kali ini Nyai Latifa masih menangis sambil sesegukan, wanita separuh baya itu terlihat pucat, sekuat apa pun Kiai Hasan mencoba menghiburnya, air matanya tetap saja tak bisa berhenti menetes. Tak ada kata-kata yang bisa ku ucapkan dalam keadaan ini, aku pun masih mencari cara agar bisa lepas dari kesedihan ini.


"Ummi... Sudahi tangis Ummi! Jika Ummi tetap menangis, bagaimana dengan Fatimah? Masa lalu hanya masa lalu, kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah masa depan.


Kewajiban kita sebagai orang tua hanya memastikan anak kita tetap bahagia, dan tentunya membantunya sembuh dari luka lamanya. Jangan tambah lukanya dengan bersikap cengeng di depannya. Hanya orang bodoh yang memilih tetap tertinggal di belakang, sementara waktu terus berjalan jauh meninggalkannya." Ucap Kiai Hasan sembari mengelus pundak Nyai Latifa pelan.


Aku masih merunduk dalam diam. Apa yang akan terjadi pada putri salihaku jika ia tahu Umminya sangat cengeng? Pelan aku menarik nafas panjang kemudian kasar menghembuskannya dari bibir. Tatapanku tak lepas dari Nyai Latifa dan Kiai Hasan, mereka berdua adalah sosok yang paling kusayangi dan kukagumi di dunia ini selain putri manisku.


"Sekarang, Nyai tidak perlu lagi mengkhawatirkan Fatimah! Saat ini, Fatimah baik-baik saja.


Fazila sangat menyayangi Abinya. Itu artinya, Fatimah pun harus menerima keberadaannya. Walau sulit, Fatimah akan selalu mencoba. Mencoba untuk lebih sabar ketika berada di dekatnya. Mencoba untuk tidak memakinya demi kebaikan Fazila. Dan mencoba memaafkannya demi kebahagian Fazila."


Mendengar ucapanku, Nyai Latifa langsung menghentikan tangisnya. Dan setelah melihat wajah pasrahku, Kiai Hasan pun bisa bernafas dengan lega. Aku sangat mengerti, seorang muslim tidak boleh menyimpan sifat dengki, iri, sombong, takabur, apalagi dendam di dalam hatinya. Apabila marah, kita di anjurkan untuk marah tak lebih dari tiga hari, aku tahu itu, hanya saja hatiku butuh waktu untuk sembuh dari lukanya.


Selama ini aku tidak pernah menyimpan dendam pada siapa pun, dan aku pun tidak pernah menyakiti siapa pun. Aku memang terluka tapi aku tidak menyimpan dendam padanya, aku marah padanya karena itu aku melampiaskan kemarahan itu, namun bukan dengan kata makian.


"Pria itu? Siapa namanya?" Kiai Hasan bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar, aku bisa merasakan ada kesedihan dalam setiap untaian pertanyaan singkatnya. Dua pasang mata sayu milik Nyai Latifa dan Kiai Hasan menatapku dengan tatapan penasaran.


Ahhhh nama? Aku lupa, Kiai Hasan dan Nyai Latifa pasti akan menanyakan itu! Namanya ada di ujung lidahku, entah kenapa masih saja terasa berat menyebut nama itu. Bayangan bagaimana ia melempar kain penutup kepalaku waktu itu masih saja berputar di memori otakku. Dan hal itu masih membelenggu mata, hati, telinga, kaki dan tanganku untuk tidak mendengar setiap kata yang ia lontarkan. Aku bergumam sendiri, dan lagi-lagi air mata ini menetes tanpa bisa di bendung. Pelan aku menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.


"Nak, jika kau tidak bisa menyebut nama pria itu, maka jangan lakukan! Kiai bisa merasakan kalau kau belum sembuh dari trauma masa lalu kelam itu." Ucap Kiai Hasan sambil menatap wajah sedihku.


"Na-ma-nya A-L-A-N W-I-J-A-Y-A!" Ucapku dengan nada suara bergetar. Bukan hanya suaraku yang bergetar, sekujur tubuhku pun terasa bagai mati rasa. Untuk pertama kalinya aku berani menyebut nama pria itu, pria yang telah memberikan luka mendalam dalam hidup hitam putihku.


"Masya Allah!" Kiai Hasan berucap dengan derai air mata. Beliau kembali menatapku dengan tatapan kasih sayang, tatapan layaknya seorang ayah pada putri kesayangannya.


"Apa dia Alan yang sama seperti yang Kiai pikirkan?"


Tidak ada jawaban dariku selain anggukan kepala kecil. Dia memang Alan yang sama, Alan yang di temui Kiai Hasan di Malang, Alan yang sudah memberikan sumbangan besar untuk pesantren beliau.


"Untuk hari ini kau bisa pulang, kau harus istirahat dengan tenang. Jangan pikirkan apa pun lagi. Kami adalah orang tuamu, dan tugas kami membuatmu bahagia.


Walaupun kita tidak terikat pada tali kekeluargaan, Allah tahu kami memperlakukanmu dan menjagamu lebih dari anggota keluarga sendiri." Ucap Nyai Latifa sambil mengusap dada.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kiai Hasan dan Nyai Latifa. Di balik wajah serius itu terdapat amarah terpendam. Kadang-kadang aku memang marah, tapi dalam hatiku, aku tidak akan pernah berlaku tidak adil pada siapa pun. Sekarang aku baik-baik saja. Tidak ada lagi amarah yang masih tersisa, semua amarah itu telah menghilang dan di gantikan oleh senyuman menawan putri manisku Meyda Noviana Fazila. Apa pun yang terjadi dimasa depan, semuanya ku pasrahkan pada Tuhan, Tuhan yang menggenggam hidup dan matiku, Allah.


...***...


Note: Karya Fazila Titipan Dari Surga akan memasuki babak Baru.


Alan & Fatimah!❤ Atau Fatimah & Araf!❤


Siapa pun yang menjadi jodoh mereka, tetap dukung Author yaa... Dengan cara Like, Komen, Vote dan Tip dari reader yang budiman.