Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Pesta


Waktu baru saja menunjukan pukul 19.30 WIB namun rumah megah berlantai dua itu tidak pernah sepi oleh sanak saudara yang mulai berdatangan sejak pagi, dan puncaknya akan di adakan malam ini.


Alunan merdu musik mulai memenuhi seluruh rumah megah itu. Bahkan semua orang terlihat sangat bahagia. Di sudut berdiri Araf sambil memegang minuman bersoda. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, wajah tampannya terlihat biasa-biasa saja padahal pesta ini di adakan khusus hanya untuk menyambut kepulangannya.


"Aku akan makan sepuasnya. Tidak akan ada yang melarang ku, diet ini benar-benar menyiksa ku. Lemak di perut? Terserah kalian saja, aku tidak perduli." Ujar gadis anggun yang saat ini sedang memilih makanan yang berhasil menggugah selera makannya.


Araf masih berdiri mematung sambil mendengar gadis itu bicara, menurutnya aneh saja gadis seanggun dirinya bicara sendiri.


"Bismillahirrahmanirrahim." Setelah berdoa Gadis anggun itu mulai memasukkan kue kedalam mulutnya. Baru saja mulai mengunyah ia di kejutkan oleh sosok menyebalkan yang tiba-tiba muncul di depannya.


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


"A-i-r." Ucap gadis itu putus asa.


Sedetik kemudian Araf menyodorkan minuman bersoda yang ada di tangan kanannya, ia benar-benar merasa bersalah, karena kecerobohannya gadis aneh yang selalu di ledeknya tersedak sangat parah.


"Ma-maaffff!" Araf berucap sambil menjewer telinga. Tatapan tajam gadis anggun yang berdiri di depannya menembus lubuk hati terdalamnya. Araf tahu kali ini dia tidak akan selamat dari amarahnya.


"Mas Araf.... Iiiiihhhhh!" Gadis anggun yang berdiri di depan Araf meremas jemarinya karena jengkel.


"Usia mu sudah menginjak dua puluh tiga tahun, tapi kau masih saja bertingkah seperti anak kecil. Bayangkan, apa yang akan di pikirkan orang lain jika mereka mendengar gadis aneh sepertimu bicara sendiri." Celoteh Araf sambil berusaha menahan tawa.


"Mas araf, aku tahu aku ada dimana. Aku juga masih waras. Lebih baik Mas Araf pergi dari hadapan ku, biarkan aku sendiri. Dan biarkan aku makan dengan tenang."


"Kau menyuruh ku pergi kemana? Ini kandang ku. Aku tidak akan pernah mengikuti keinginan gadis manapun." Balas Araf sambil menyebikkan bibirnya.


"Di depan ku mas Araf berani memamerkan wajah jelek itu. Lihat saja nanti, aku pasti akan menjadi duri dalam kencan mu dengan gadis yang bernama Laya."


"Tidak takut!" Balas Araf singkat.


"Sabina... Aku benar-benar kasihan pada pria yang akan menjadi suami mu, mendapatkan gadis doyan makan seperti mu akan membuatnya bangkrut." Guyon Araf sambil memasukkan potongan kecil kue kedalam mulut Sabina.


Tanpa sepengetahuan Araf dan Sabina, Bu Nani dan Bu Riska sama-sama tersenyum melihat tingkah konyol anak mereka.


"Jeng Nani, bagaimana menurut jeng Nani kalau Araf dan Sabina..." Bu Riska menggantung kalimatnya, ia menatap wajah heran bu Nani sambil meraih gelas jusnya.


"Maksud jeng Riska?"


"Jeng Nani, maksud saya, bagaimana kalau kita menjodohkan mereka berdua. Sabina anak yang matang, dia pasti mampu mengimbangi Araf."


Bu Nani yang di tanya hanya bisa diam.


"Araf butuh gadis seperti Sabina. Lihat-lah Alan, Anak itu sudah menikah dan mendapatkan istri yang sangat cantik dan baik hati.


Berbeda dengan Araf ku. Anak nakal itu selalu saja membuat ku pusing, kemana pun aku pergi aku selalu saja bertemu dengan mantan kekasihnya. Setidaknya, setelah dia menikah sayap-sayap kenakalannya akan patah." Ucap Bu Riska lagi dengan nada prustasi.


"Jeng Riska... Jujur, saya tidak tahu harus berkata apa. Saya bukan tipe orang tua yang akan memaksakan kehendaknya, jika Sabina mau, maka tidak ada halangan untuk itu.


Araf anak yang baik, keluarga kami juga cukup dekat dengannya. Jika dia menginginkannya maka saya dan keluarga tidak akan bisa menolak. Tapi, jika salah satu di antara mereka menolak maka tidak ada yang boleh memaksa mereka, karena bagi saya kebahagiaan anak-anak lebih utama dari apa pun jua."


"Jeng Nani tidak perlu risau atau pun mengkhawatirkan itu, saya janji saya tidak akan memaksakan kehendak saya pada Araf atau pun Sabina. Mendengar ucapan Jeng Nani itu sudah cukup menghibur patah hati saya." Bu Riska tersenyum sambil menatap Araf dan Sabina yang masih berdebat karena masalah Kue.


"Patah hati? Apa maksud Jeng Riska?"


"Oohhh itu... Maksud saya, saya selalu kesal setiap kali Araf berkencan, karena saya sangat mengenal anak itu, dia akan bertahan kurang dari satu bulan. Dan sekarang sudah waktunya saya bertindak agar dia tidak lagi terjebak dalam permainannya sendiri." Bu Riska menatap Bu Nani dengan tatapan penuh keyakinan, dia yakin putra playboy-nya akan berakhir di tangan gadis sebaik Sabina, dan dia pun sudah memutuskan untuk itu.


...***...


"Ada apa Mi? Kenapa Ummi menarik Abi ketempat ini? Tidak ada apa pun di tempat ini."


Aku berdiri sambil melipat lengan di depan dada. Aku menatap wajah Abi Fazila sambil menyipitkan mata.


"Aahhh... Maaf. Maksud ku, aku sangat bersyukur wanita tercantik di dunia menarik lengan ku ke tempat sesepi ini. Sekarang katakan, apa yang Ummi rencanakan?" Abi Fazila bertanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Iiihhhh... Abi." Aku mencubit perut Abi Fazila pelan. Yang kemudian di balas oleh Abi Fazila dengan gelak tawanya. Sedetik kemudian ia menarik ku kedalam pelukannya.


"Ummi lihat Rembulan malam ini? Cahayanya seolah mengabarkan suasana hati ku. Aku sangat bahagia dan bersyukur. Semua ini benar-benar terasa seperti mimpi, dan aku merasakan ketenangan yang tidak bisa ku ungkapkan hanya dengan sekadar kata-kata."


"Bi... Ada hal yang ingin Ummi katakan."


"Akan ku dengarkan!"


"Tanpa keluhan?" Aku bertanya sambil melepas pelukan Abi Fazila.


"Iya... Tanpa keluhan." Balas Abi Fazila singkat.


"Ta-tadi Ummi bertemu dengan wanita itu!" Aku tidak bisa melanjutkan kalimat ku, aku mulai menghela nafas kasar. Karena tidak ada tanggapan dari Abi Fazila, aku mengangkat kepala ku yang tertunduk dan menatapnya dengan tatapan yang di penuhi tanda tanya.


"Abi tidak akan bertanya?"


"Abi tidak akan mengatakan apa pun, malam ini Abi ingin mendengar semua keluhan Ummi." Balas Abi Fazila sambil menangkup wajah ku dengan tangan kanannya. Wajah tampannya kembali mengukir senyuman.


"Apa Abi tidak penasaran?" Aku kembali bertanya, kali ini aku hanya melihat wajah datarnya. Aku yakin dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan ku katakan, walau bagaimana pun aku tetap harus mengatakannya.


"Tadi di Salon, Ummi bertemu dengan wanita itu. Maksud Ummi..." Lagi-lagi ucapan ku hanya bisa tertahan di tenggorokan ku.


"Maksud Ummi Se-re-n, kan?"


Abi Fazila bertanya dengan sikap hati-hati. Sementara aku? Aku hanya bisa mengangguk. Entah kenapa hati ku merasa berat membahas tentang masa lalunya.


"Tidak apa-apa, Mi. Ummi bisa mengatakan apa pun tentangnya, Abi tidak akan marah. Lagi pula dia hanya masa lalu, masa lalu yang tidak akan pernah Abi temui walau dalam mimpi sekali pun."


"Sebenarnya... Hari ini tanpa sengaja, Ummi bertemu dengannya di salon. Setiap kali bertemu dengan Nona Seren, hari Ummi selalu kacau. Dan buruknya, Nona Seren selalu saja mengucapkan kata-kata kasar.


Di lain waktu dia memanggil Ummi dengan sebutan beli Satu gratis satu. Kalau dia hanya menghina Ummi, Ummi tidak akan marah padanya, hanya saja..." Untuk sesaat aku mulai terdiam.


"Hanya saja apa Mi...?"


"Hanya saja... Hari ini Ummi menyadari kalau Ummi juga bisa marah seperti orang lain. Karena kesal, Ummi menampar Nona Seren."


Hati ku di penuhi dengan penyesalan. Mendengar ucapan ku Abi Fazila hanya bisa diam, matanya membulat sempurna. Aku tahu dia memiliki banyak pertanyaan, dan untungnya dia tidak mengatakan apa pun.


Pesta yang seharusnya menjadi moment bahagia kami berubah menjadi keluhan, keluhan ku. Seharusnya aku memikirkan hal yang indah yang ada di sekitar ku kemudian berbahagia. Tapi sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu. Bagaimana aku bisa bahagia jika aku belum membagi resah ku kepada dia kekasih hati ku?


Aku tidak tahu reaksi apa yang akan di tunjukan Abi Fazila setelah aku menceritakan kejadian di salon, yang jelas aku tidak akan menyembunyikan masalah sekecil apa pun darinya.


...***...