Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Wisuda Hafizd Qur'an (Part2)


Di ruang make up kedap suara duduk seorang wanita dengan amarah membuncah. Tatapan matanya setajam belati, nafasnya terasa sesak. Rasanya ia ingin memuntahkan segala sumpah serapah pada sosok asing yang berani mengganggu ketenangannya.


Ia duduk sambil memukul dadanya pelan, rasanya sangat sakit sampai bernafaspun terasa berat.


Apa begini caramu membalas cintaku? Aku tahu aku salah! Bukankah aku sudah minta maaf? Apa perlunya menyimpan dendam padahal kau sangat mencintaiku? Cinta ku sangat tulus, tidak ada yang bisa mengalahkan cintaku. Lihat saja nanti, aku pasti akan akan mematahkan sayap wanita itu. Wanita yang berani mendekatimu. Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku karena kau hanya milikku. Hanya milikku! Aaahhhhhh!!! Seren bergumam sendiri sambil menatap wajah penuh amarahnya di cermin.


Ia berteriak sekeras-kerasnya dengan harapan bisa menghilangkan kekesalannya. Sayang sekali, semakin ia berteriak semakin ia di penuhi amarah. Tidak mudah menghilangkan amarah bagi hati yang selalu membiasakan diri menyimpan dendam. Dendam itu ibarat penyakit yang akan menggerogoti jiwa, semakin besar perasaan dendam dan iri maka akan semakin jauh kita dari bahagia, karena tidak akan pernah bahagia jiwa yang selalu mengharapkan keburukan bagi orang lain.


"Aku akan membunuhmu! Aku pasti akan membunuhmu!" Teriakan itu kembali memenuhi ruang make up yang hanya di huni oleh Seren. Seandainya dia tidak berada di ruang kedap suara maka teriakan kerasnya akan mengganggu staf yang sejak tadi lalu lalang di depan ruang make up nya.


Hiks.Hiks.Hiks.


Suara teriakan itu kini berganti tangisan, ratapan dan raungan. Ternyata semua wanita sama saja, sekuat apa pun mereka di depan orang lain sebesar itu juga mereka berusaha menyimpan dukanya. Dan sejahat-jahatnya orang pasti akan ada sisi lemah dalam dirinya. Saat rasa rapuh itu datang menyapa, dukanya pun tak akan bisa di bendung oleh segumpal daging yang di sebut dengan hati.


"Aku pasti akan menghukum mu! Sejauh apa pun kau melangkah sejauh itu pula aku akan menarikmu, tidak ada yang boleh mengambil Alan ku, tidak siapa pun."


Deru nafas Seren memenuhi indra pendengaran seorang pria asing yang saat ini berdiri mematung di balik daun pintu. Sayang sekali kehadirannya bahkan tidak di sadari oleh wanita anggun yang sedang melampiaskan kekesalannya pada cermin yang bahkan tidak bersalah sedikitpun.


"Seharusnya kau tidak perlu menghancurkan cermin itu! Bagaimana jika kau terluka? Kau bahkan tidak perduli pada dirimu sendiri, lalu untuk apa kau perduli pada pria yang tidak perduli padamu? Dasar bodoh!" Ucap pria yang berdiri di balik daun pintu itu sambil menahan kekesalannya.



Ia menatap ponselnya sambil berderai air mata, potret Seren terpampang disana. Gadis anggun yang pernah membelai lembut hatinya dengan cinta walau sangat singkat namun itu masih terasa berkesan di lubuk hati terdalamnya.


Cinta memang seperti itu, sekali ia melepaskan panahnya maka tidak ada yang tahu kemana panah itu akan menancap. Aktris ataupun dokter, bahkan raja sekalipun status itu tidak lagi menjadi penghalang.


...***...


Sementata itu di tempat berbeda, acara Hafizd Qur'an hampir menemui endingnya. Tepuk tangan dari para pemirsa yang menyaksikan penampilan dua peserta lain yang baru saja usai memenuhi studio lima hafizd Qur'an. Penapilan yang baru saja di tunjukan dua bocah itu benar-benar luar biasa.


Seperti yang ada dalam pikiranku, panggung Hafizd Qur'an kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Tiga juri inti sedang bicara serius, terkadang mereka tersenyum sambil saling menatap. Ada juga satu juri baru yang sengaja di datangkan khusus dari Negri Jiran. Wajah shaik itu terlihat teduh, kumis dan janggutnya terlihat mulai memutih meskipun demikian karisma yang terpancar dari wajah sepuhnya terlihat teduh dan menenangkan.


"Dua adik kebanggaan kita tampil sangat luar biasa. Diantara kita semua tidak ada yang bisa menyangkal itu.


Dan juri kebanggaan kita pun sudah mengakui kehebatan adik-adik kita ini." Ucap Host muda itu sambil tersenyum lebar, raut wajahnya menjelaskan segalanya kalau dia sangat bahagia dan bangga. Menghabiskan waktu selama satu bulan ini membuat host muda itu merasa dekat dengan adik-adik hafizd Qur'an.


Sebenarnya saya sangat sedih. Sedih luar biasa sampai tidak bisa berkata-kata. Meskipun demikian saya yakin kita semua sedang menantikan datangnya hari ini, hari yang paling menegangkan. Kita sambut penampilan terakhir adik kita Meyda Noviana Fazila."


Dag.Dig.Dug.


Masya allah. Dadaku berdebar sangat cepat, mendengar nama putriku membuatku salah tingkah. Aku merasa tidak baik-baik saja. Rasanya jantungku akan loncat keluar. Jika aku setegang ini lalu bagaimana dengan Meyda?


Meyda? Aku selalu memanggil putriku seperti itu jika aku merasa ketakutan. Untuk sesaat aku menatap kearah kursi penonton, disisi pojok paling belakang aku menemukan pria itu duduk sambil mengelus dada, ia juga terlihat membuang nafas kasar sambil memejamkan mata.


"Assalamu'alaikum, Fazila. Apa kabar, nak?" Host muda itu kembali membuka suara.


"Baik, kak."


"Bagaimana perasaanmu kali ini? Tadi sudah ada dua sahabatmu yang tampil dengan sangat memukau, bagaimana jika kau kalah?" Ucap Host itu sambil memegang pundak kecil putri salihaku.


"Fazila tahu dua sahabat Fazila tampil sangat luar biasa. Ummi selalu bilang, menang atau kalah dalam sebuah kontes itu hal biasa. Dan apa pun hasilnya Fazila serahkan semuanya pada Allah." Balas putri salihaku sambil memamerkan senyuman menawan.


Aku mendengar ucapan bijaknya sambil menatap wajah merunduk pria itu.


Pria itu? Aku masih memanggil Abi Fazila dengan sebutan itu. Bukankah aku pernah bilang aku belum berani menyebut namanya dengan lantang dan gamblang. Aku tidak bermaksud egois, hanya saja semuanya masih terasa aneh bagiku. Apa yang harus ku lakukan untuk menguatkan hatiku? Lagi-lagi air mataku menetes tanpa bisa di bendung lagi, sedih dan haru. Itulah yang kurasakan saat ini. Aku rasa Abi Fazila pun merasakan hal yang sama. Aku memang tidak begitu mengenalnya, hanya saja setelah bicara beberapa kali membuatku sedikit memahaminya.


Host muda itu tersenyum sambil tepuk tangan, di ikuti oleh semua orang yang ada di dalam studio.


"Fazila, Nak. Abi lihat Fazila sangat percaya diri. Abi berharap ananda bisa menjawab semua pertanyaan yang akan di tanyakan oleh Syaik Maulana." Sambung Juri bertubuh jangkung itu, wajah sepuhnya memamerkan senyuman menawan. Aku yakin siapapun yang melihat senyumnya akan ikut larut dalam kebahagiaan.


"Baiklah. Mari kita mulai soalan pertama. Semoga Allah memberi ananda Fazila rahmatnya sehingga ananda Fazila bisa menjawab semua pertanyaan dengan mudah." Ucap Shayk berwajah oriental itu.


Untuk sesaat panggung megah itu terasa senyap, putri salihaku terlihat menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.


Aku menatap wajah Bu Nani, Pak Otis, Opa Ade dan Oma Ochi secara bergantian, dan tatapan ku berakhir pada wajah tampan milik pria itu. Entah apa yang dia pikirkan sampai tidak bisa menatap kearah Fazila. Wajah tampan itu masih merunduk saat Shayk berwajah oriental itu mulai membaca Bismillah.


Aku memiliki misi untuk mencari seseorang yang bisa kujadikan sahabat saat suka dan duka. Ada semacam ketertarikan satu sama lain dalam setiap persahabatan. Tidak ada persahabatan tanpa ketertarikan. Itu adalah kebenaran yang pahit. Dan aku sendiri masih berpikir akan kah Abi Fazila bisa menjadi seseorang yang bisa ku andalkan? Pada siapa aku harus bertanya? Tanpa berpikir lebih keras lagi aku langsung menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya pelan dari bibir, netraku menatap wajah tersenyum putri manisku Meyda Noviana Fazila, semoga Allah memberikan Rahmat padanya sehingga putri saliha penyejuk mata dan hatiku bisa menjawab semua pertanyaan juri berwajah oriental itu.


...***...