Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Pengawal Setia


Pranggggg!!!


Suara bantingan barang-barang berharga terdengar dari kamar megah nan luas. Untungnya kamar megah itu kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar suara bantingan, tangisan ataupun teriakan dari luar kamarnya.


Di pojok kamar masih berdiri Amri dengan kepala tertunduk. Melihat tuannya seperti orang tidak waras membuat jiwanya merasakan kepedihan luar biasa. Kebenaran yang baru saja terungkap benar-benar mengganggu jiwa dan raga tuannya. Dan hal itu mempengaruhi hatinya saat ini.


"Aku tidak perduli dengan semua ini!" Suara teriakan itu kembali mengudara, siapa pun yang mendengarnya akan merasakan kepedihan mendalam.


Pranggggg!


Hancur sudah cermin seukuran pintu itu akibat lemparan benda keras.


Air mata dan duka masih memenuhi kamar megah itu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kedua pria rupawan itu selain tangisan pilunya. Satunya menangis sambil memukul dadanya. Sementara yang satunya lagi menangis tanpa mengeluarkan suara. Tanpa harus bertanya, siapapun tahu kalau kedua pria itu tersiksa dalam dukanya.


"Aku tidak mau tinggal di tempat ini lagi. Ayo kita pergiiii!"


"Tu-tuan. Maksud saya, tuan Araf tidak bisa pergi sekarang. Jika Nyonya melihat semua ini, beliau pasti akan khawatir." Ucap Amri masih dalam keadaan merunduk.


"Nyonya akan bertanya! Nyonya akan khawatir. Saya yakin tuan tidak akan suka melihat Nyonya bersedih. Saran saya, sebaiknya tuan tidak perlu pergi malam ini." Sambung Amri dengan suara pelan, kali ini ia berusaha merapikan beberapa barang yang masih bisa di selamatkan.


"Baiklah. Aku menerima saranmu. Sebaliknya, aku akan keluar malam ini, jangan coba-coba untuk mengikuti ku." Ucap Araf dengan suara nyaris tak terdengar. Amri pun paham dengan jelas, jika ia sudah di minta untuk tidak mengikuti tuannya maka ia harus mengikutinya walau dengan cara diam-diam.


...***...


Jangan biarkan siapa pun masuk kedalam kantor ku. Kau boleh pulang.


Ucapan tuannya kembali bergema di telinganya, bagaimana tidak? Tiga jam berlalu namun sosok tuan yang selalu ia jaga seperti telur berharga itu masih saja mengurung diri di kantor yang tampak seperti kapal pecah. Dan hal itu membuatnya memutuskan keputusan besar tanpa harus bertanya lagi.


"Mmm! Bukankah anda memanggilku? Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lebih baik saya pulang." Ucapku sambil membuang nafas kasar. Maklum saja, lima menitku berlalu begitu saja. Tidak ada tegur sapa di antara kami berdua. Aku tidak mengenalnya, rasanya sangat aneh duduk bersama orang asing di tempat semegah ini.


Aku tidak bisa menyapa pria asing yang tidak ku tahu namanya. Aku sendiri menunggunya untuk bicara, namun ia hanya bisa diam sambil merunduk. Entah apa yang ia pikirkan sampai terlihat khawatir, aku tidak sejahat itu sampai membuat orang yang tidak kukenal merasa takut.


"Ma-maaffff Nyonya!"


Ucap Pria asing yang duduk di depanku begitu ia membuka mulutnya, ia bicara dengan suara berat. Apa aku menakutinya? Entahlah, aku sendiri tidak tahu.


Nyonya? Sejak kapan aku menjadi Nyonya? Aku tidak mengenalnya, lalu kenapa dia merasa tidak nyaman duduk di depanku? Aku bergumam sendiri sambil menatap lekat pemilik wajah merunduk di depanku.


"Aku rasa kita tidak saling mengenal! Nyonya? Menurutku itu terlalu berlebihan. Anda bisa memanggi ku, Fatimah.


Jika tidak, anda bisa memanggilku Ummi Fazila!" Ucapku dengan nada suara santai.


"Maafkan saya! Memanggil nama anda atau memanggil nama nona kecil secara nyata itu merupakan hinaan bagi saya. Apa pun yang anda katakan, saya akan tetap memanggil anda Nyonya."


"Saya tidak nyaman dengan panggilan itu. Walaupun saya memaksa, saya yakin anda tidak akan mendengarkan ucapan saya.


Terserah anda saja, anda bisa memanggilku senyaman yang anda bisa." Aku bicara tanpa bertanya dengan siapa aku bicara. Sejujurnya aku ingin menanyakan itu, tapi pertanyaan itu hanya terkatup di bibirku.


"Nama saya Bobby. Nyonya bisa memanggil saya seperti itu. Saya benar-benar minta maaf karena meminta anda keluar dari asrama selarut ini."


Untuk sesaat aku menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Waktu baru saja menunjukan pukul 19:49 dan pria ini bilang dia memanggilku selarut ini! Aku yakin dia pria yang baik, jadi aku bisa merasa aman duduk di depannya. Aku tidak perlu takut karena tempat ini lumayan ramai.


"Saya pengawal Tuan Alan Wijaya. Saya yakin saya tidak perlu mengatakan apapun lagi tentang beliau karena Nyonya mengenalnya."


Aku hanya bisa menelan saliva. Mendengar ucapan pria asing di depanku membuatku terkejut luar biasa. Yang membuatku heran, kenapa dia ingin menemuiku dan bukan tuannya sendiri yang datang?


Untuk sesaat aku hanya bisa diam. Aku akan mendengar ucapan apa yang akan keluar dari bibirnya selanjutnya, dia datang jauh-jauh untuk menemuiku karena hal penting apa? Ia bahkan sampai memohon agar aku menemuinya sekali saja. Tidak sopan meninggalkannya hanya karena perasaan pribadi yang ku punya.


"Katakan apa yang anda inginkan! Waktu anda hanya sepuluh menit, di mulai dari sekarang." Ucapku dengan nada santai.


Bagiku sepuluh menit lebih dari cukup. Dan hanya ini yang bisa ku lakukan untuk tidak membuatnya kecewa. Duduk di luar rumah bersama pria asing masih terasa tabu bagiku, dan jika sudah seperti ini tidak ada pilihan lain selain cepat-cepat menyudahi pertemuan ini, pertemuan yang aku sendiri tidak tahu untuk apa.


"Nyonya... Tuan Alan adalah pria yang baik. Beliau selalu berusaha membuat orang lain bahagia, beliau sampai lupa membuat dirinya bahagia.


Tuan Alan yang Nyonya kenal mungkin hanya pria kurang ajar tak bermoral. Tapi, Tuan Alan yang saya kenal adalah pria bertanggung jawab dan luar biasa. Saya bisa pastikan itu karena saya selalu berada disisi beliau."


Aku menatap pria yang menurutku masih asing itu dengan tatapan heran. Aku bertanya-tanya kenapa ia harus menjelaskan itu padaku, aku bahkan bukan karyawan prusahaannya. Tanpa kusadari aku mulai tersenyum sendiri, aku merasa pria yang duduk di depanku ini sedang menunjukan sisi baik tuannya, sama seperti putri manisku Fazila yang selalu menunjukan sisi baik Abinya.


Tanpa bertanya lagi akhirnya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Meskipun begitu, aku akan mendengarkan ucapan apa yang akan terlontar selanjutnya dari pengawal setia yang duduk di depanku itu dengan perasaan tenang tanpa perlu mencela.


"Selama ini Tuan Alan tidak bisa tidur di malam hari karena kesalahan yang beliau lakukan pada Nyonya. Kesalahan yang saya yakin tidak beliau sengaja.


Setelah kejadian itu, setiap sebulan sekali selama delapan tahun trakhir tuan selalu kembali ketempat kejadian buruk itu. Dengan alasan bisa menemukan Nyonya.


Nyatanya Tuhan mempunyai rencana lain, Nyonya sendiri yang muncul di hadapan beliau. Saat mengetahui Nyonya ada disini, dengan sekuat tenaga tuan selalu berusaha untuk mendapatkan maaf dari Nyonya.


Saya sangat bersyukur karena yang Kuasa mempertemukan Nyonya dengan Tuan Alan. Semenjak nona kecil Fazila hadir dalam hidup Tuan Alan, beliau belajar bagaimana caranya untuk tersenyum. Saya mohon pada nyonya, jangan ambil senyum itu dari Tuan Alan."


Jangan ambil senyum itu dari tuan Alan! Aku hanya bisa menghela nafas kasar mendengar permintaan tulus pengawal setia itu. Bagaimana bisa aku mengambil senyum orang lain? Aku tidak akan pernah melakukan itu. Lalu apa yang membuatnya berpikir seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan? Aku terdiam sambil berpikir keras.


"Nyonya... Walau Tuan tidak pernah mengatakannya, saya tahu Tuan sangat mencintai Nyonya.


Saya tidak bisa meminta Nyonya untuk menikahi Tuan Alan, yang bisa saya lakukan hanya berdoa, berdoa agar yang kuasa menyatukan Tuan dan Nyonya. Saya yakin jika Tuan dan Nyonya hidup bersama, nona kecil Fazila pasti orang yang paling bahagia."


Lagi-lagi aku hanya bisa mendengar ucapannya tanpa bisa berucap sepatah kata. Mungkin hal itu terlihat mudah bagi orang lain, namun bagiku itu benar-benar terasa sulit dan tidak mudah. Dengan segenap hati kukatakan, aku masih merasakan sakit yang sama. Sakit yang membuat jiwaku tergucang karena kepedihannya. Aku yakin wanita manapun akan merasakan kepedihan yang sama, kepedihan seperti yang kurasakan jika kesuciannya di ambil secara paksa, dukaku dua kali lebih besar dari siapapun. Bagi orang delapan tahun itu mungkin waktu yang lama, namun bagiku itu terjadi seperti kemarin malam.


Tak terasa air mataku menetes dan mendarat tepat di punggung tanganku, aku berusaha menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir.


"Nyonya tidak perlu sedih karena ucapan pengawal seperti saya. Apa pun keputusan Nyonya, saya yakin itu yang terbaik untuk Nona kecil Fazila.


O iya... Satu lagi, Tuan Araf sangat mencintai Nyonya, hari ini tuan Araf datang kekantor Tuan Alan dengan kekesalan luar biasa.


Tuan Araf tahu kalau Nona kecil Fazila putri Tuan Alan. Dan hal itu menyebabkan pertikaian diantara mereka berdua. Saya berharap pertemanan mereka tidak akan berakhir dengan mudah hanya karena masalah pribadi di antara mereka.


Tidak ada lagi yang bisa saya katakan. Saya minta maaf karena meminta Nyonya menemui saya selarut ini. Di luar sudah ada sopir yang menunggu Nyonya, sopir itu akan mengantar Nyonya sampai asrama."


"Saya tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkan anda. Akan saya pikirkan semuanya pelan-pelan. Jika saya sudah punya jawabannya, saya sendiri yang akan menghubungi Tuan Alan." Ucapku sambil menatap wajah pengawal setia itu. Bobby, ya namanya Bobby.


Setelah mengucapkan salam, pria asing yang ku kenal sebagai pengawal setia Abi Fazila itu langsung melangkah meninggalkanku sendiri, tanpa berpikir panjang aku langsung mengikuti langkah kakinya dari belakang. Dan benar saja, setelah berdiri di luar Hotel, seorang pria paruh baya menyambutku dengan senyuman menawan, pria itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan ku masuk tanpa berucap sepatah kata pun.


"Nama beliau pak Halil. Beliau akan mengantar Nyonya dengan selamat sampai asrama. Nyonya tidak perlu khawatir, saya akan mengawal Nyonya dari belakang." Ucap pengawal setia itu pelan, ia membungkukkan badan kemudian berjalan menuju mobil mewah yang terletak sepuluh langkah dari tempatku berdiri.


...***...