Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Apa Aku Mengenalnya?


Aku tiba di rumah dengan membawa rasa yeri di wajah kanan ku, Opa sudah tua tapi tenaganya masih kuat untuk mematahkan tulang lawannya, maklum saja beliau pensiunan Tentara yang separuh hidupnya di habiskan untuk menjaga kedamaian Negara. Satu cucu nakal seperti ku akan mudah untuknya memberikan pelajaran, namun beliau memilih untuk diam. Entah apa yang di katakan rekan-rekannya sampai kemarahannya malam oni meledak membanjiri keluarga kami dengan air mata.


"Apa mama masih sedih? Aku yakin mama menangis di kamarnya, kemudian papa akan sibuk menghiburnya." Gumamku sambil membayangkan wajah tersenyum Mama.


Mama sangat naif, terkadang beliau seperti anak kecil. Merengek pada papa agar membiarkan ku sendiri, aku sama sepertinya tidak terlalu perduli dengan pendapat orang lain, hanya saja Opa akan mulai marah jika kehormatan keluarganya berada di ambang kehancuran.


Pelan aku berjalan menuju balkon, membiarkan angin malam membelai wajah kesal ku. Berharap hembusan angin ini membawa semua resah ku. Mendung menyelimuti langit ibu kota malam ini, pelan gerimis mulai turun menyapa bumi.


"Gerimis ini jauh lebih bebas di bandingkan dengan ku." Lirih ku sambil menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.


"Jika esok aku masih bisa melihat mentari, aku tidak ingin mataku ini menangkap bayangan kepedihan masa lalu. Tuhan, aku ingin bahagia walau hanya sekejab saja. Tunjukan jalan mu..." Rasanya air mataku ingin tumpah, namun ucapan opa terasa bagai dinding pembatasnya 'Kamu itu anak laki-laki, jangan cengeng. Haya orang lemah yang akan menangis seperti perempuan' Hanya ucapan itu yang ku dengar dari opa sejak kecil hingga aku tumbuh dewasa.


Dewasa? Hhhmmmm! Aku tidak sedewasa itu untuk tidak merasakan kepedihan lagi.


Dret.Dret.Dret.


Ponsel di saku ku bergetar, pelan aku meraihnya dengan tangan kiri. 'Araf' namanya terpampang dengan jelas di ponsel yang ku pegang. Aku tersenyun sebelum aku menerima panggilannya. Aku pikir aku membutuhkan teman, setidaknya itu akan mengurangi kekesalan ku.


"Hai bro. Apa kabar?" Suara Araf terdengar dari sambungan telpon yang ku pegang. Ku taksir, ia sedang bahagia.


"Aku malah bertanya pertanyaan bodoh, tentu saja kau baik-baik saja. Lagi pula masalah apa yang bisa membuat pengusaha terbaik Ibu Kota bersedih." Ucap Araf lagi. Kali ini ia tertawa, aku ikut bahagia mendengar gelak tawa lepasnya.


"Katakan pada ku, apa yang membuat dokter tampan ini sangat bahagia?" Aku mencoba larut dam bahagia sahabatku itu, walaupun aku sendiri sedang bersedih.


"Kau tahu, wanita yang ku ceritakan waktu itu? Ternyata dia hanya seorang ibu tunggal. Sore ini aku sempat bicara dengannya, ia bahkah membuatkan koffe untuk ku. Dia sangat baik, dan aku sangat terpesona pada kecantikan alaminya." Ucap Araf sambil membayangkan wajah wanita yang sedang dia bicarakan.


"Apa kau serius?" Tanya ku pada Araf.


"Tentu saja Alan, aku sangat serius. Entah laki-laki bodoh mana yang meninggalkan wanita sebaik nona Fatimah. Meskipun begitu aku sangat bersyukur." Ucap Araf menerangkan.


Fatimah!


Cessss!


Jantungku berdetak lebih cepat mendengar nama yang di sebutkan Araf, aku terdiam seribu bahasa, ada Magnet yang tidak bisa ku bayangkan yang terdapat pada nama yang jarang di gunakan untuk gadis moderen sekarang ini.


Fatimah? Apa aku memiliki hubungan di masa lalu dengan pemilik nama itu? Aah tidak mungkin, aku tidak pernah terlibat dengan pemilik nama kampungan itu.


Fatimah? Ada apa dengan pemilik nama itu? Apa aku mengenalnya? Aku bergumam sendiri di tengah ucapan Araf yang tanpa henti.


"Aku berharap kau datang ketempat indah ini, dan bisa melihatnya, aku yakin kau akan langsung jatuh cinta padanya. Terutama pada putri manisnya. Oo iya... Aku punya foto putri cantik yang ku ceritakan padamu, aku akan mengirimkannya untukmu. Sampaikan salamku pada tante Nani. Selamat malam." Ucap Araf menutup panggilan.


"Selamat malam." Balasku namun Araf sudah mematikan ponselnya.


Ternyata Araf benar-benar mewujudkan ucapannya, sebuah Foto yang memperlihatkan wajah tersenyum seorang gadis kecil sedang duduk sambil menikmati es krim. Ada kedamaian besar yang tersimpan di balik senyum tipisnya.


Semoga kamu selalu bahagia nak! Pintaku dalam kegelapan, karena aku memang sengaja tidak menyalakan lampu di kamarku.


...***...


Suara tangis memenuhi indra pendengaran pak Otis, sejak dua jam yang lalu bu Nani selalu saja merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


Melihat raut wajah frustasi bu Nani membuat pak Otis hilang akal, ia benar-benar tidak tahu harus menghibur istrinya dengan cara apa lagi.


"Papa tahu mama sangat sedih, meskipun demikian papa meminta agar mama tetap kuat." Ucap pak Otis sambil menggenggam jemari bu Nani.


"Kali ini papa benar-benar keterlaluan! Seharusnya dia tidak memaksa Alan seperti tadi. Tidak tahu apa yang akan di pikirkan Alan tentang kita!" Balas bu Nani.


"Alan anak yang cerdas. Dia pasti bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Mama tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Besok temui dia di rumahnya, anak itu tidak akan kemana-mana." Balas Pak Otis sembari memperbaiki bantal untuk bu Nani agar istrinya itu bisa menyenderkan kepalanya.


Sementara itu di tempat berbeda, Araf sudah bersiap untuk tidur. Ia merasakan kantuk yang luar biasa, berkali-kali mencoba untuk tidur namun berkali-kali pula bayangan wanita yang di rindukan netranya seolah menari-nari di benaknya.


Hhmmm! Araf menghela nafas, berat. Ada perasaan aneh yang mengusik ketenangannya, namun ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Besok aku harus bertemu dengannya! Jika aku bertemu dengannya, apa yang akan ku katakan padanya?" Lirih Araf dalam kegelapan kamarnya.


Bersama dengan cahaya rembulan malam ini aku berharap akan mendapat harapan baru dalam kehidupan yang penuh dengan kejutan ini! Lirih Araf sambil membuka jendela kamarnya. Bagai di sambar petir, Araf terkejut luar biasa. Seorang berdiri tepat di depan jendela kamarnya, bukan itu saja lelaki berbadan bak Atlet bulu tangkis itu hampir terjatuh terkena senggolan jendela yang Araf buka.


"Ooohh... Ya ampun! Apa yang kau lakukan disana? Bukankah kau memiliki kamar, lalu untuk apa kau berdiri di depan jendela kamar ku." Ucap Araf kesal.


"Maaf jika saya mengejutkan bos Araf." Ucap lelaki berbaju hitam itu.


"Saya hanya ingin mencari udara segar." Balas lelaki itu lagi.


"Baiklah. Aku memaafkan mu! Karena kesal aku bahkan tidak pernah memperhatikan mu dengan benar. Siapa nama mu?" Araf bertanya karena ia benar-benar tidak tahu nama Bodyguard baru yang seusia dengannya.


"Nama ku Amri bos."


"Okay Amri, sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan pengawal pribadi. Melihatmu selalu memakai pakaian hitam membuatku tidak nyaman. Jika kau mau tetap berada disisiku hal pertama yang harus kau lakukan tidak menggunakan baju hitam seperti baju yang kau pakai saat ini." Ucap Araf sembari menunjuk baju Amri.


"Baik bos." Balas Amri singkat.


"Dan satu lagi, kau tidak boleh memanggil ku bos jika kita sedang berdua atau bersama orang lain. Kau cukup memanggilku tuan saja." Ucap Araf menjelaskan.


"Baik tuan, semua printah tuan akan saya patuhi."


"Ambil ini, dan belilah pakaian baru." Ucap Araf sembari menyodorkan puluhan lembar uang seratus ribuan.


"Saya tidak bisa menerima ini tuan."


"Aku memerintahkan mu. Dan ini perintah pertama."


"Baiklah jika itu yang tuan inginkan." Ucap Amri sambil mengambil uang yang ada di tangan Araf.


Huammm! Araf menguap sembari menutup mulutnya, Araf kembali menutup jendela meninggalkan pengawal pribadinya yang masih duduk sendirian, ia berjalan menuju tempat tidurnya sembari membaca Ayat Kursi yang di ajarkan Fazila padanya.


...***...