Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Double F (Fatimah&Fazila)


"Mama, Papa, kalian ada disini? Oma, Opa, kalian juga datang?" Aku menyapa Orang tersayang ku sambil memeluk mereka satu per satu. Karena sibuk aku bahkan tidak berpikir bisa mengunjungi mereka, untunglah mereka yang datang tanpa ku minta.


"Dasar anak nakal." Mama menjewer telinga ku sambil tersenyum tipis.


"Aaaaaa... Lepas Ma, apa Mama mau martabat Alan turun di depan para pekerja dan anak Alan sendiri?" Padahal jeweran Mama sama sekali tidak menyakitkan, hanya saja aku ingin membalas candaan Mama seperti yang dia lakukan pada ku.


"Hahaha... Abi kene jewer Oma. Abi lucu, dech!" putri manis ku terkekeh sambil memegang perut ratanya. Dia benar-benar menggemaskan, demi melihat senyum indahnya aku rela Mama menjewer ku setiap hari.


Sedetik kemudian, Fazila menarik lengan Mama sambil berbisik di telinga Mama, netra teduh ku langsung menyipit melihat tinggah tertutupnya.


"Putri mu bertanya, pria kekar yang berdiri di depan itu siapa?"


"Aahh iya, Mam. Mereka bodyguard yang Alan sewa untuk Fazila dan Umminya. Membayangkan kejadian tempo hari membuat Alan merinding.


Untungnya Sabina bisa bela diri. Jika anak itu tidak bisa bela diri maka hidup Alan lah yang akan berakhir. Jika terjadi sesuatu pada Fazila. Alan tidak akan bisa hidup dengan tenang." Ucap ku sambil menatap putri cantik ku.


Suasana ruang tengah berubah sunyi, Mama, Papa, Oma dan Opa yang mendengar ucapan ku tidak akan berani berkomentar apa-apa. karena mereka lebih mengetahui hidup seperti apa yang akan ku jalani tanpa kehadiran putri cantik ku dan Ummi salihanya.


"Apa kita akan terus bicara sambil berdiri." Ucap Ummi Fazila memecah keheningan.


"Tentu tidak sayang. Kami kemari hanya ingin melihat keadaan mu. Jika Alan berani mengganggumu, Mama janji Mama akan terus menjewernya. Bukan hanya di rumah, tapi di depan ribuan karyawannya. Biarkan saja semua orang bicara buruk di belakangnya." Kali ini Mama bicara serius.


"Tanpa Mama mengatakan apa pun Alan akan selalu berbuat baik pada Istri cantik Alan." Balas ku sambil memencet hidung bangir milik Ummi Fazila, sedetik kemudian aku tersenyum lebar, kemudian memeluknya penuh cinta di hadapan semua orang.


Sungguh, aku merasa seperti ada kupu-kupu di dada ku, aku merasa geli dan bahagia di saat bersamaan. Sekarang aku tidak malu-malu lagi merangkul Ummi Fazila, dan yang membuat ku ingin melepas pelukan ku cepat-cepat, putri manis ku menutup wajah dengan telapak tangannya. Tentu saja melihat hal itu membuat Ummi Fazila bersemu memerah. Ibu dan anak benar-benar menggemaskan.


Aku tidak salahkan mencintai mereka berdua melebihi cinta ku pada siapa pun? Aku berharap aku bukan sosok egois yang akan membebani mereka, yang ku inginkan hanya memberi putri berharga ku dan Umminya Cinta tanpa batas.


"Alan, sayang. Oma bahagia melihat mu bahagia. Tetap bahagia seperti itu, nak." Kali ini Oma Ochi yang angkat bicara, ia melepaskan genggaman tangan Opa Ade, berjalan kearahku, kemudian mencium puncak kepala ku.


Seingat ku, ini ciuman pertama Oma Ochi di puncak kepala ku setelah belasan tahun berlalu. Setelah kehadiran putri manis ku Meyda Noviana Fazila, ikatan kekeluargaan Wijaya semakin menguat. Tidak salah saat Fatimah mengatakan putri kami Fazila titipan dari Surga, ia berhasil menyatukan Ummi dan Abinya dalam waktu yang singkat, ia juga berhasil memperbaiki hubungan ku yang merenggang dengan Opa Ade.


"Nyonya... Sarapannya sudah siap." Mbok Liza berucap sambil membungkukkan badan.


Semenit kemudian kami sudah duduk di meja makan, menyantap sarapan dengan lahap. Ku tatap Fazila dan Umminya, mereka hanya makan sedikit saja. Aku tidak akan berani meminta mereka menambah makanan di piringnya, karena aku tahu mereka tidak akan pernah melakukan itu, maksud ku mereka tidak akan makan sampai kekeyangan, mereka sangat tahu, kekenyangan akan membuat malas, dan kekeyangan pun tidak akan baik bagi kesehatan.


...***...


"Sayang, apa kau suka sekolah baru mu?" Mama bertanya sambil memangku Fazila.


"Nani... Kenapa kau bertanya seperti itu padanya, Ibu yakin cicit Ibu menyukai sekolah barunya." Ujar Oma Ochi sambil meletakkan cangkir teh hijaunya.


"Kalian para wanita selalu saja mengkhawatirkan hal sepele, Fazila kebanggaan kakek buyutnya, darah perwira mengalir di darahnya, dia akan baik-baik saja, dia tidak akan pernah takut pada siapa pun." Kali ini Opa Ade yang ikut larut dalam percakapan dua wanita kebanggaan keluarga Wijaya. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggenggam jemari Ummi Fazila.


"Eeeeee... Ayah, Ibu dan juga Mama, cucuku Fazila adalah kebanggaan ku, tanpa kalian mengatakan apa pun dia sudah mengerti apa yang kalian maksudkan.


Ya Allah... Terimakasih untuk karunia terindah mu, menjadi ayah dari seorang putri sebaik Fazila adalah hal terbaik yang ku punya, dan menjadi suami dari Bidadari sempurna seperti Fatimah Azzahra adalah karunia luar biasa. Entah kebaikan apa yang pernah ku lakukan dalam kehidupan sebelumnya sampai aku mendapatkan kedua sosok itu. Aku mohon padamu Rabb ku, jangan ambil kebahagiaan dari hidup ku... Aku bergumam panjang kali lebar di dalam hatiku sambil menatap satu per satu anggota keluarga Wijaya. Kehangatan seperti ini benar-benar menembus lubuk hati terdalam ku, bahkan jika ini hanya sebatas mimpi, aku tidak ingin bangun lagi, tapi untungnya ini bukanlah mimpi. Ini nyata.


"Fazila sangat suka sekolah barunya, semua teman-teman juga baik. Karena di sana tidak ada Amir, Dena dan Lisa semuanya jadi kurang seru." Fazila merengut, wajah cantiknya terlihat bosan.


Teman baru, sekolah baru, sepertinya putri cantik ku belum terbiasa dengan semua itu. Tapi, aku percaya pada putri saliha ku, tidak lama lagi dia pasti akan mencintai semuanya. Fazila anak yang cerdas, bijaksana dan baik hati, tidak sulit untuknya memenangkan hati semua orang, lihat saja nanti.


Melihat wajah cemberutnya aku langsung meraih ponsel yang ku letakkan di atas meja, karena hari ini hari libur tidak akan sulit bagi Fazila membagi suka dan dukanya bersama tiga bocah manis yang menjadi sahabat baiknya. Dena, Lisa dan Amir yang saat ini berada di Malang.


"Assalamu'alaikum... Nak Alan, kalian apa kabar?" Suara nyaring Kiai Hasan yang bersumber dari ponsel yang ada di tangan ku kini memenuhi indra pendengaran semua orang.


"Kakek Kiai." Fazila berucap sambil tersenyum, ia bangun dari pangkuan Mama dan beralih duduk di pangkuan ku.


"Wa'alaikusalam Kiai. Kami baik-baik saja. Kecuali satu orang." Ujar ku sambil memperlihatkan wajah penuh Fazila di layar ponsel.


"Fazila, sayang. Ada apa dengan mu, nak? Apa Ummi Fatimah tidak baik padamu? Katakan pada kakek Kiai, kakek Kiai akan memarahinya, khusus untuk cucu tersayang Kakek Kiai, Fazila." Ucap Kiai Hasan di sebrang sana. Wajah sepuhnya mengukir senyuman.


Ummi Fazila yang di bicarakan langsung menyapa Kiai Hasan dengan suara tenangnya.


"Kiai... Fatimah tidak akan bisa membuat putri raja kita bersedih. Lihatlah... Putri raja kita memiliki banyak pelindung." Kali ini Ummi Fazila berucap sambil memutar ponselnya, memperlihatkan satu per satu keluarga inti Wijaya, dimulai dari Mama, Papa, Oma Ochi dan terakhir Opa Ade.


"Asaalamu'alaikum Kiai." Mama, Papa, Oma dan Opa menyapa Kiai Hasan secara berbarengan. Tentunya tanpa melepas senyuman dari bibir mereka. Begitulah seharusnya seorang muslim, memamerkan wajah ramah di sertai senyuman, bukan wajah masam yang di penuhi dendam.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Balas Kiai Hasan sambil menangkupkan tangan di depan dada.


"Terima kasih untuk segalanya. Tetap jaga Fazila dan Umminya sebaik yang nak Alan bisa. Mereka sudah terlalu lama menangis. Sekarang sudah waktunya mereka untuk bahagia." Kiai Hasan kembali berucap, kali ini dengan derai air mata.


"Kiai... Fatimah bahagia disini. Semua orang sangat mencintai Fatimah dan Fazila. Kiai tidak perlu bersedih lagi." Ucap Ummi Fazila.


"Bukan Bapak yang sedih nak, tapi Nyai mu yang sedih, lihat dia." Camera ponsel memperlihatkan wajah menangis Nyai Latifa, padahal di tangannya ia membawa nampan teh, entah apa yang membuatnya menangis tanpa ada percakapan sebelumnya.


"Nyai bahagia karena Nyai tahu putri Nyai bahagia disana. Dan lihatlah air mata ini, dia keluar tanpa diminta." Nyai Latifa menghapus sudut mata dengan tangan kanannya.


Ternyata air mata tidak hanya keluar disaat kita bersedih, terkadang kita juga menangis di saat bahagia. Ini benar-benar aneh. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah teduh Ummi Fazila.


Aku kembali memeluk Ummi Fazila. Sungguh, moment inilah yang ku tunggu sejak delapan tahun yang lalu, bisa memeluknya sambil menepuk pundaknya hanya untuk menenangkan. Bukankah ini menakjubkan?Bagiku, ini sangat menakjubkan. Jika orang lain berpikir tidak, terserah mereka saja, aku tidak perduli dengan pendapat orang lain karena akulah yang menjalani hidup ku. Jika aku hanya mendengarkan perkataan buruk, lalu kapan bahagianya hati ini?


"Aku sangat mencintai kalian berdua Double F ku, Fatimah dan Fazila." Aku berbisik di telinga Ummi Fazila tanpa melepas senyuman dari bibir indah ku.


Alan... Tetap bahagia, dan tetaplah bersyukur. dengan bersyukur Rabb mu akan semakin melipat gandakan kebahagiaan mu. Kali ini aku kembali bergumam di dalam hati sambil pelan melepas pelukan ku dari tubuh Bidadari Surga ku, Fatimah Azzahra.


...***...