Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Pembelaan


Aku baru saja beranjak dari tempat duduk ku ketika seorang pelayan muda membuka pintu ruang VVIV sembari membawa hidangan. Sebelum aku benar-benar pergi, sekali lagi ku tatap wajah keempat orang yang duduk di meja makan itu. Wajah mereka masih terlihat lesu, dan hal itu pun tak jauh berbeda denganku.


"Bawa kembali hidangannya! Kami tidak lapar! Kami tidak mau makan!" Sayup-sayup aku mendengar ucapan Oma Ochi. Meskipun demikian, aku tetap melangkah meninggalkan mereka, aku pun tidak akan bisa makan setelah mendengar pemintaan mereka, permintaan yang membuatku merasa kesal luar biasa.


Sementara itu di tempat berbeda, sosok manis nan Saliha sedang asyik murajaah bersama dengan keempat teman kelompoknya. Mereka saling menyimak bacaan Quran, dan sesekali Ustadz pembimbing mereka memperbaiki bacaan murid bimbingannya, wajah sepuh pembimbing itu terlihat tenang dan sabar.


"Fazila... Bacaanmu sudah bagus! Kau harus ingat, saat tampil di atas panggung kau harus tenang, kau tidak boleh terburu-buru dalam membaca Al-Quran." Ucap Ustadz itu sambil memamerkan senyuman.


"Besok kalian akan tampil, di atas panggung kalian akan menjadi lawan, kita tidak bicara tentang siapa yang terbaik dan siapa yang terburuk! Tapi, disini kita belajar tentang siapa yang bisa menjaga hafalannya dan mengamalkan ilmunya." Sambung Ustadz pembimbing itu lagi.


Setiap peserta di bagi menjadi enam kelompok, setiap kelompok terdiri dari lima anak. Kali ini Fazila pun sama, ia di kelompokkan dengan dua anak perempuan yang seusia dengannya yakni tujuh tahun, dan dua di antaranya laki-laki.


"Sekarang kalian boleh istirahat. Ingat, besok siang kalian harus berkumpul di Aula. Kita akan latihan sebelum kalian tampil di atas panggung, semoga Allah mempermudah kalian dalam menghafal dan mengamalkan isi Al-Quran, semoga Rahmat Allah selalu tercurah untuk kalian semua." Ucap Ustadz pembimbing itu lagi. Setelah membaca doa majlis anak-anak bersalaman kemudian meninggalkan ustadz pembimbing mereka.


"Ummi..." Putri manisku melambaikan tangan sembari mempercepat langkah kakinya. Aku menunggu bersama para wali lainnya, terkadang kami sering berbagi kisah tentang kehidupan kami selama membesarkan anak-anak sampai mereka tumbuh menjadi Hafidz Quran di usia yang terbilang muda. Aku salut pada wali lainnya, mereka totalitas dalam mendidik anak-anaknya. Semoga putri manisku selalu merasakan bahagia seperti anak-anak lainnya.


"Ummi menunggu Fazila? Wah... Ini benar-benar kejutan." Ucap putri manisku begitu ia berdiri di depanku. Tidak ada jawaban apa pun dariku selain anggukan kepala.


"Ummi... Apa Ummi tahu?" Ucap putri manisku menggantung kalimatnya.


"Tentu saja Ummi tidak tahu karena putri cantik Ummi tidak mengatakannya! Sekarang katakan, ada pa?" Tanyaku setelah kami sedikit jauh dari beberapa wali lainnya.


"Teman satu kelompok Fazila, namanya Faiz. Hari ini di depan ustadz dia menyanjung Fazila. Katanya Fazila sangat cantik."


Ucapan polos putri manisku sontak membuat wajahku mengukir senyuman. Sedetik kemudian bibir tipisku mengerucut, tanganku memegang dagunya, ku amati setiap inci wajah putri manisku. Entah kenapa aku mulai tertawa lepas. Untungnya tidak ada siapa pun di samping kami berdua, jika ada orang selain aku dan putriku, maka aku akan malu luar biasa sampai tidak bisa menunjukan wajahku lagi.


Tertawa lepas memang hal biasa, namun bagiku itu tidak biasa, itu bukan gayaku dan itu tidak seharusnya di lakukan olehku baik saat sendirian maupun saat berada dalam keramaian, bagiku tersenyum sudah cukup untuk sekedar mengekspresikan bahagia.


"Ummi rasa Faiz benar! Kau lebih indah dari apa pun yang ada di dunia ini. Setiap ucapan yang keluar dari bibirmu bagaikan karya seni yang indah." Ucapku sembari mencubit pelan hidung bangir putri manisku.


"Siapa dulu...? Putrinya Ummi!" Balas putri manisku sambil mencium punggung tanganku. Kami berdua saling membalas senyuman.


"Mata Fazila setajam dan seindah Mata Ummi! Hidung Fazila semancung hidung Abi. Fazila secerdas Abi. Dan Akhlak Fazila seindah akhlak Ummi! Uuufffff... Maaffff!" Sambung putri manis ku lagi. Wajahnya memamerkan penyesalan.


Putri manisku meminta maaf? Kata maaf sangat jarang keluar dari lisannya, ku perhatikan ia merunduk sembari menjewer kedua telinganya. Wajah yang tadinya memamerkan senyuman kini larut dalam penyesalan panjang. Pelan aku merunduk, sedetik kemudian tubuhku sejajar dengan tinggi putri manisku.


Abi? Aku rasa putri manisku menyesal mengucapkan satu kata itu di depanku karena ia tahu dengan jelas selama delapan tahun ini aku menangis dan tenggelam dalam kubangan hitam yang hanya aku sendiri yang tahu betapa buruk, pedih dan hinanya diriku.


"Putri cantik Ummi tidak perlu menyesal! Selama ini kau selalu bertanya dimana Abimu, sekarang kau tahu kan dimana Abimu?" Aku bertanya sembari mengangkat dagu putri manisku.


Tidak ada sahutan dari bibir tipisnya, ia menjawab pertanyaanku dengan anggukan kepala.


"Ummi bukan orang yang kejam! Kau boleh bertemu dengan Abi mu kapanpun kau ingin bertemu dengannya. Sekarang kau tidak hanya punya Ummi. Kau punya Oma, Opa, Kakek Buyut dan Nenek Buyut.


Terkadang orang dewasa mudah sekali terluka, dan untuk bisa sembuh dari luka itu butuh waktu yang sedikit lama. Walaupun Ummi punya masalah dengan Abimu, kau harus tetap menjadi putri yang berbakti pada orang tua.


Ummi tidak akan suka melihat mu menghafal Qur'an jika ajaran yang ada di dalamnya kau abaikan. Ummi lebih suka putri cantik Ummi menghafal Qur'an dan mengamalkan segala isinya.


Dalam Al-Qur'an surah Lukman yang selalu kau baca, setiap anak di anjurkan berbuat baik pada kedua orang tuanya bagaimanapun keadaan orang tuanya. Maka kau pun harus berbakti pada kedua orang tuamu apa pun yang terjadi. Kau pahamkan maksud Ummi?" Tanyaku tanpa melepas pandangan dari wajah cantik putriku.


Lagi-lagi tidak ada sahutan dari putri cantikku, ia menganggukkan kepala pelan sembari menatap mataku. Sebenci apa pun aku pada pria brengsek itu, aku tidak akan pernah mengajarkan putri Salihaku menjadi sosok pembenci.


...***...


Waktu menunjukan pukul 11.19 ketika seseorang mengetuk pintu kantorku dengan ketukan yang cukup keras. Tumpukan pekerjaan yang masih tersusun rapi di atas meja membuatku mengabaikan ketukan yang terus saja mengganggu konsentrasiku.


"Ada apa denganmu? Apa kau kesal melihatku muncul di depanmu tanpa pemberitahuan?"


"Ti-dak!" Balasku singkat sembari menutup laporan yang ada di tanganku.


"Aku pikir kau sudah kembali ke-Malang! Dan lebih buruknya lagi, aku pikir kau tidak tahu jalan menuju perusahaanku karena itu kau tidak pernah muncul di depanku.


Mencarimu sama saja dengan mencari bunglon! Apa kali ini kau masih belum berani menemui Mama mu? Jangan bilang kau pindah Hotel lagi?"


Tidak ada jawaban dari Araf, ia hanya mengangguk kecil kemudian beranjak menuju kulkas untuk mengambil minuman bersoda.


"Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu, jadi kau tidak perlu bertanya apa pun padaku. Justru, aku datang untuk mengulitimu! Hari ini kau tidak akan lepas dari pertanyaanku."


"Kau datang untuk mengulitiku? Dasar payah!" Balasku sambil tersenyum tipis.


"Kemarin, tanpa sengaja aku bertemu dengan Tante Nani. Beliau cerita, seluruh anggota keluarga Wijaya bertemu dengan seorang wanita! Apa wanita yang mereka temui itu wanita yang sering kau ceritakan padaku?"


Araf menatapku dengan tatapan tajam, seolah tatapannya itu menyimpan bayak pertanyaan. Awalnya aku berusaha untuk mengabaikannya, nyatanya aku gagal.


"Wahhh... Ternyata benar! Jadi wanita yang ada di dalam mimpimu itu benar-benar muncul? Aku pikir itu hanya ilusimu saja!" Ucap Arap sambil melempar bantal kecil yang ada di tangannya kearahku.


"Apa kau menemui wanita itu? Apa yang di katakan wanita itu? Apa dia cantik? Apa dia seksi? Dia berasal dari keluarga mana? Apa dia kaya? Apa aku mengenalnya? Siapa dia???"


Mendengar pertanyaan Araf, Aku hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tanpa dosanya, lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan tajam, namun kali ini aku tidak akan mudah goyah oleh pertanyaannya, pertanyaan yang akan membuatnya kecewa jika ia mendengar jawabannya.


"Apa kau akan pergi ketempat yang jauh? Kenapa kau menanyakan banyak hal? Aku bahkan tidak tahu harus menjawab pertanyaannmu dari mana!" Balasku sembari meraih minuman dingin yang Araf letakkan di depanku.


"Yah... Ku rasa kau benar. Hanya saja, karena mendengar cerita Tante Nani membuatku mulai kesal!"


Mama? Apa yang mama katakan sampai membuat Araf kesal? Jangan-jangan Mama? Tidak mungkin Mama memintanya untuk menikah denganku! Jika itu terjadi, dia pasti akan marah besar! Aku mulai bergumam sendiri sembari menatap wajah kesal Araf.


"Dia wanita yang sangat sombong. Egois. Kaku. Dan bodoh! Bisa-bisanya dia menolak permintaan tulus Tante Nani untuk menikah denganmu. Jika aku jadi kau, jangankan memikirkan wanita seperti dirinya, aku pasti akan mengusirnya jauh-jauh dari hidupku." Gerutu Araf sambil meremas bantal kecil yang ada disisi kirinya.


Pletakkk!


Aku melempar wajah Araf dengan bantal kecil yang tadi ia gunakan untuk melemparku. Tentu saja Araf terkejut. Seandainya kami tidak terlibat dengan pembicaraan serius aku pasti akan tertawa lepas melihat ekspresi wajah kagetnya. Alan yang jahil dan ceria mulai kembali.


"Jangan bicara seperti itu tentangnya, dia wanita yang baik hati. Dia tidak egois seperti yang kau katakan. Dia juga bukan wanita kaku dan bodoh, dia menolak permintaan Mama untuk tidak menikahiku karena dia wanita yang Mandiri.


Setiap orang memiliki amarah dan sikap egois dalam dirinya, tapi dia? Dia bukan wanita yang seperti itu. Dia Bidadari tanpa celah. Aku membuat kesalahan patal. Kesalahan yang tak termaafkan, jika ada orang lain yang berpikiran sama sepertimu tentang wanita itu? Maka ku pastikan kau dan mereka sama-sama berpikiran sempit.


Gara-gara diriku wanita itu menderita, hanya dia sendiri yang tahu betapa berat penderitaan yang dia alami karenaku. Untuk mendapatkan maafnya sama sekali tidak mudah. Dia tidak salah karena menolak permintaan Mama, aku saja merasa jijik menatap wajahku di cermin. Apa lagi wanita itu, aku yakin dia pasti merasa jijik dan sesak berada di dekatku lalu bagaimana mungkin dia menerima permintaan Mama!" Ucapku dengan suara berat.


Ada kesedihan mendalam yang saat ini menggerogoti jiwaku. Rasanya sangat menyakitkan mendengar penolakan dari wanita yang menjadi ibu dari putri manisku. Bagaimana pun juga aku harus mendapatkan maafnya terlebih dahulu.


"Aku tidak tahu kesalahan patal apa yang sudah kau lakukan padanya! Aku berharap kau dan wanita itu berbaikan secepatnya.


Hal pertama yang harus kau lakukan adalah menyambung tali silaturrahmi dengannya, perlahan dinding kebenciannya akan mulai terkikis sedikit demi sedikit." Ucap Araf dengan wajah sedihnya.


Seandainya Araf tahu sosok wanita yang kami bicarakan, aku yakin dia pasti akan melayangkan tinjunya di wajah tampanku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara memberitahu Araf bahwa masalah ini masalah yang melibatkan kami bertiga. Dengan berat hati ku katakan, Aku akan mempertahankan putri tersayangku bagaimana pun caranya, semoga Araf tidak salah paham dan persahabatan kami tetap terjalin sampai ke Surga.


Alan... kau sangat egois. Kau tidak hanya menginginkan putrimu, kau juga menginginkan ibunya. Sekarang kau harus bekerja keras untuk mendapatkan maafnya agar kau bisa memegang tangannya sampai kesurga. Lagi-lagi aku bergumam sendiri. Bukan hanya bergumam, aku malah melakukan pembelaan untuk ibu dari putri manisku. Apa pun yang di katakan orang tentangnya, aku percaya dia bagai Berlian yang tersimpan dalam gelas kaca, keindahannya memancarkan cahaya, kelembutannya melebihi sutra, dan akhlaknya semurni air di Surga. Tidak ada kekurangan dalam dirinya, berkatnya putri manisku tubuh menjadi Mutiara penyejuk jiwa. Meyda Noviana Fazila ku lebih berharga dari bumi dan segala isinya.


...***...